Sebanyak 2.300 Peserta dan 400 Perahu Semarakkan Festival Kalibaru 2026
Festival Kalibaru 2026 dimeriahkan 2.300 peserta karnaval dan 400 perahu nelayan di Jakarta Utara, sekaligus mengangkat budaya dan ekonomi pesisir

Periskop.id – Pesisir Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, berubah menjadi ruang pesta rakyat saat 2.300 peserta karnaval dan 400 perahu nelayan memeriahkan Festival Kalibaru ke-4 pada 29–30 Agustus 2026. Tak sekadar perayaan budaya, festival ini juga menjadi panggung untuk memperkenalkan identitas pesisir sekaligus menggerakkan ekonomi warga melalui kuliner, UMKM, dan berbagai kegiatan berbasis komunitas.
Festival yang dipusatkan di Plaza Kalibaru itu melibatkan masyarakat secara langsung sebagai peserta hingga penyelenggara. Pemerintah Kota Jakarta Utara menilai besarnya partisipasi warga menunjukkan festival telah berkembang menjadi ruang bersama bagi masyarakat pesisir sejak pertama kali digelar pada 2023.
“Kemeriahan Festival Kalibaru merupakan gambaran nyata kekompakan dan semangat gotong royong masyarakat,” kata Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat di Jakarta, Minggu (30/8/2026).
Menurut Hendra, Festival Kalibaru awalnya bertumpu pada kegiatan seni dan budaya masyarakat nelayan. Dalam empat kali penyelenggaraan, skala acaranya terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak komunitas dan kegiatan ekonomi masyarakat.
“Ini bukan sekadar perayaan biasa, tetapi bukti kekompakan, semangat gotong royong, dan cinta warga terhadap tanah kelahiran," katanya.
400 Perahu Nelayan Jadi Atraksi Utama
Salah satu atraksi paling mencolok dalam Festival Kalibaru tahun ini adalah parade 400 perahu nelayan yang melibatkan komunitas dari Kalibaru, Cilincing, hingga Marunda. Beritajakarta mencatat parade tersebut menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan selain Karnaval Budaya yang diikuti lebih dari 2.300 peserta.
Ketua Forum RT/RW Kelurahan Kalibaru sekaligus panitia festival, Abdul Karim, mengatakan, keterlibatan ratusan nelayan memperlihatkan kuatnya karakter pesisir dalam acara tersebut.
"Selain karnaval, yang paling dinantikan adalah Parade Perahu di laut yang melibatkan 400 nelayan dari Kalibaru, Cilincing, dan Marunda. Ini bukti kekuatan komunitas kami," kata Abdul.
Festival juga diisi dengan senam sehat yang diikuti sekitar 1.000 peserta, bazar UKM dengan produk olahan hasil laut, lomba mewarnai untuk anak PAUD dan SD, peragaan busana, tarik tambang, balap karung, parade band pelajar, lomba membakar ikan, hingga pentas seni budaya Betawi.
Pemberitaan MDI News juga mencatat pelepasan 400 perahu menjadi bagian penting dari puncak festival. Kegiatan itu sekaligus digunakan untuk menampilkan budaya nelayan dan menggerakkan kegiatan ekonomi melalui keterlibatan UMKM lokal.
Dorong Kalibaru sebagai Destinasi Budaya Pesisir
Bagi Pemkot Jakarta Utara, festival tidak hanya penting dari sisi hiburan. Kalibaru dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan yang menggabungkan budaya masyarakat, aktivitas nelayan, kuliner, dan ekonomi pesisir.
“Kalibaru adalah permata pesisir Jakarta Utara yang memiliki potensi sangat luar biasa. Potensi alam, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki harus tetap dijaga, kita lestarikan dan kita kembangkan," ujar Hendra.
Potensi tersebut ditopang karakter Kalibaru sebagai kelurahan yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Portal resmi Pemprov Jakarta mencatat wilayah Kalibaru memiliki luas sekitar 246,70 hektare dengan jumlah penduduk lebih dari 88.000 jiwa. Kondisi geografis dan besarnya komunitas pesisir membuat kegiatan berbasis budaya lokal memiliki ruang pengembangan cukup besar.
Upaya membangun identitas tersebut juga telah dilakukan pada penyelenggaraan sebelumnya. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mencatat Festival Kalibaru 2025 mengusung semangat “Bersatu dan Berdaya” serta diarahkan menjadi ruang ekspresi seni, budaya, dan pemberdayaan masyarakat dalam perayaan kemerdekaan.
Hendra berharap identitas itu tidak hilang ketika kawasan pesisir Jakarta Utara terus berkembang. "Kalibaru adalah Permata Pesisir Jakarta Utara. Wilayah ini menyimpan potensi alam, budaya, dan kearifan lokal yang luar biasa," serunya.
Ia juga berharap festival dapat memberikan dampak yang lebih jauh dari sekadar keramaian selama dua hari. "Kami berharap festival ini mampu mempererat persatuan serta membangkitkan rasa bangga warga atas identitas mereka sebagai masyarakat pesisir yang berbudaya," terangnya.
Warga Jadi Penggerak Utama Festival
Festival Kalibaru digerakkan melalui kolaborasi masyarakat dan pemerintah. Beritajakarta mencatat penyelenggaraan melibatkan unsur RT/RW, LMK, FKDM, Karang Taruna, kader PKK dan Dasawisma, serta mendapat dukungan Kelurahan Kalibaru dan Kecamatan Cilincing.
Abdul Karim menilai, model kolaborasi tersebut menjadi faktor utama yang membuat festival dapat bertahan hingga penyelenggaraan keempat.
“Ini adalah hasil kolaborasi dan kerja sama semua unsur masyarakat, pemerintah, dan stakeholder. Tanpa kebersamaan semua pihak, Festival Kalibaru tidak akan terselenggara," tuturnya.
Ia berharap festival tidak berhenti sebagai agenda sesaat dan dapat terus berkembang dengan memberikan ruang lebih besar bagi budaya, kreativitas, serta kegiatan ekonomi warga.
“Moto kami adalah Kalibaru Bersatu dan Berdaya. Ini yang keempat. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik lagi dan rutin dilaksanakan," imbuhnya.
Beritajakarta juga menyebut penyelenggara berencana kembali menggelar festival dengan skala lebih besar pada tahun depan, bertepatan dengan momentum lima abad Jakarta.
Dengan ribuan peserta di darat dan ratusan perahu di laut, Festival Kalibaru kini berkembang lebih jauh dari sebuah karnaval warga. Tantangannya adalah menjaga festival tetap berakar pada kehidupan masyarakat pesisir sekaligus menjadikannya ruang yang mampu menghidupkan budaya, UMKM, dan potensi wisata lokal secara berkelanjutan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Festival, kalibaru, dan jakarta utara dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.