Periskop.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menghitung kebutuhan revitalisasi Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC) di Koja, Jakarta Utara. Perbaikan menyeluruh itu disiapkan setelah bangunan utama masjid belum dapat digunakan secara optimal selama hampir empat tahun sejak kebakaran pada Oktober 2022.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, proses perhitungan menjadi tahap awal sebelum renovasi dimulai. Pemprov DKI juga telah memperoleh kesediaan dari pihak luar untuk mendukung pembiayaan revitalisasi.
"Untuk Islamic Center atau masjid yang ada di Jakarta Utara, sekarang sedang dalam proses perhitungan untuk segera dilakukan perbaikan dan renovasi," kata Pramono seusai meresmikan gedung SMP dan SMA Labschool Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (16/7).
Menurut Pramono, kondisi Masjid Raya JIC sudah terlalu lama tidak ditangani secara menyeluruh. Karena itu, Pemprov DKI membuka peluang kolaborasi dengan pihak eksternal melalui skema yang menyerupai program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
"Kami membuka diri untuk bekerja sama dengan pihak luar. Nanti pihak luarnya akan saya sampaikan. Sebagai bagian untuk apa, kalau di swasta kan ada tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), tapi itu kurang lebih seperti itulah," jelas Pramono.
Pramono belum mengungkap identitas pihak yang akan membantu maupun besaran dana yang dibutuhkan. Namun, dia memastikan sudah ada pihak yang menyampaikan komitmen untuk terlibat dalam perbaikan masjid tersebut.
"Alhamdulillah sekarang sudah ada yang bersedia mau untuk memperbaiki, merenovasi masjid tersebut," kata Pramono.
Kebakaran saat Renovasi Kubah
Masjid Raya JIC mengalami kebakaran pada 19 Oktober 2022 ketika pekerjaan renovasi kubah berlangsung. Api membuat kubah utama ambruk sekitar satu jam setelah kebakaran terjadi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tetapi bagian atap dan sejumlah struktur bangunan mengalami kerusakan berat.
Kerusakan itu membuat kegiatan ibadah dipindahkan dari masjid utama ke Gedung Convention Hall di dalam kompleks JIC. Salat berjemaah, pengajian, kegiatan Ramadan, serta pelayanan organisasi keumatan tetap berjalan, meski kapasitas tempat ibadah sementara lebih kecil.
Pada Januari 2026, Kasubag Tata Usaha UPK Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta Anda Ibnu Nasir mengatakan pembahasan revitalisasi masih berada pada tahap awal.
“Kalau mulai revitalisasi, itu masih jauh. Masih rapat-rapat, pembahasan awal. Tapi rapatnya sudah dilakukan beberapa kali,” ujarnya.
Pernyataan terbaru Pramono menunjukkan rencana revitalisasi mulai bergerak ke tahap perhitungan kebutuhan dan penjajakan pembiayaan. Meski demikian, Pemprov DKI belum menyampaikan jadwal dimulainya konstruksi maupun target penyelesaian renovasi.
Berdasarkan data pengelola JIC, Masjid Raya JIC memiliki kapasitas hingga 20.680 jemaah. Bangunannya dirancang oleh arsitek Achmad Noe’man dengan memadukan unsur arsitektur Islam dan Betawi. Selain menjadi tempat ibadah, kompleks JIC berfungsi sebagai pusat pendidikan, pengkajian Islam, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi umat.
Rencana perbaikan JIC sebelumnya sempat dikaitkan dengan bantuan Pemerintah Arab Saudi. Pada Oktober 2025, Pemprov DKI menyatakan masih menunggu realisasi dukungan tersebut dan menargetkan peletakan batu pertama pada akhir 2025 atau awal 2026. Namun, pembangunan belum terlihat hingga memasuki pertengahan 2026.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim saat itu menegaskan, revitalisasi tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki fisik bangunan. "Gubernur Pramono Anung menjadikan revitalisasi JIC sebagai prioritas khusus, bukan hanya perbaikan fisik, tapi juga penguatan fungsi sebagai pusat peradaban Islam. Kami melibatkan ulama, akademisi, dan donatur swasta untuk memastikan proses inklusif. Sementara ini masih menunggu realisasi bantuan Saudi," tuturnya.
Revitalisasi diharapkan dapat mengembalikan fungsi masjid utama sekaligus memperkuat peran JIC sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pelayanan umat. Kepastian jadwal pembangunan kini bergantung pada penyelesaian perhitungan teknis, kebutuhan anggaran, dan mekanisme kerja sama dengan pihak yang bersedia membantu.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar