Lokbin Kramat Jati 85% Siap, 193 Pedagang Ikan Direlokasi dari Trotoar
Lokbin Kramat Jati sudah 85% siap menampung 193 pedagang ikan yang direlokasi dari trotoar Jalan Raya Bogor. Peresmian dijadwalkan 1 September

Periskop.id – Pemerintah Kota Jakarta Timur mengebut penyelesaian Lokasi Binaan (Lokbin) Kramat Jatiuntuk menampung 193 pedagang ikan dan hasil laut yang selama ini berjualan di trotoar serta bahu Jalan Raya Bogor. Hingga Senin (31/8/2026), progres penataan telah mencapai 85% dan ditargetkan rampung sebelum diresmikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Selasa (1/9).
Wali Kota Jakarta Timur Munjirin mengatakan, pekerjaan yang tersisa berfokus pada tahap akhir, terutama penerangan dan fasilitas toilet. Penerangan menjadi perhatian karena sebagian besar pedagang ikan, kerang, kepiting, rajungan, dan hasil laut lainnya beraktivitas pada malam hingga dini hari.
"Penataan sudah mencapai 85%. Sekarang tinggal finishing, pemasangan lampu-lampu dan perbaikan pintu toilet. Untuk lainnya sudah siap semuanya," kata Munjirin di Jakarta, Senin.
Munjirin sebelumnya bersama jajaran Pemkot Jakarta Timur meninjau Lokbin Kramat Jati pada Minggu (30/8) malam untuk memastikan kesiapan fasilitas sebelum pedagang menempati lokasi baru.
"Lokbin ini untuk menampung 193 pedagang ikan dan sejenisnya yang sebelumnya berjualan di trotoar depan Pasar Kramat Jati," ujar Munjirin.
Relokasi tersebut sekaligus menandai berakhirnya aktivitas berdagang di trotoar dan bahu jalan kawasan tersebut. Pemkot Jakarta Timur telah menetapkan mulai 31 Agustus 2026 tidak diperbolehkan lagi ada aktivitas perdagangan di trotoar maupun bahu Jalan Raya Bogor, Kramat Jati. Kebijakan itu merupakan bagian dari penataan kawasan yang diperintahkan Gubernur DKI Jakarta.
Lokbin Disiapkan Khusus Pedagang Ikan
Sebelum progres mencapai 85%, penataan Lokbin pada 26 Agustus masih berada di level sekitar 80%. Sejumlah fasilitas ketika itu masih dibenahi, mulai dari jaringan listrik, aliran air, pintu toilet hingga los pedagang. Lokbin juga telah dilengkapi 16 kamera CCTV untuk meningkatkan keamanan.
Kepala Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Jakarta Timur Andi Ahmad Refi menyebut Lokbin memiliki 143 kios, tetapi area los turut dimanfaatkan agar seluruh 193 pedagang ikan dan komoditas sejenis bisa tertampung. Pedagang komoditas lain yang sebelumnya berada di sana diarahkan ke tempat berbeda agar Lokbin Kramat Jati dapat difokuskan untuk perdagangan hasil laut.
Penataan kemudian dipercepat melalui kerja bakti lintas instansi. Sekitar 100 personel dari unsur kecamatan dan kelurahan, PPSU, Bina Marga, Lingkungan Hidup, Gulkarmat, Satpol PP, Perhubungan hingga PPKUKM diterjunkan.
"Penataan kemarin meliputi pendataan pedagang, pengosongan kios, pembersihan sampah, penataan trotoar, penyemprotan area, pembersihan saluran, pengangkutan sampah, pengecatan railing median jalan, serta pembuatan trotoar baru," jelas Refi.
Dari proses pembersihan itu, sekitar 12 meter kubik atau 4–5 ton sampah berhasil diangkut. Gulkarmat juga membersihkan saluran yang tersumbat dan menyemprot area yang kotor, sementara Bina Marga menangani trotoar, median jalan, serta infrastruktur di sekitar Lokbin.
"Tercatat volume sampah yang berhasil dibersihkan sekitar 12 meter kubik atau sekitar 4–5 ton," ujar Refi.
Relokasi Mengikuti Penataan Usai Kecelakaan Maut
Penataan kawasan Kramat Jati mendapat perhatian lebih besar setelah seorang pelajar berusia 18 tahun meninggal dalam kecelakaan di Jalan Raya Bogor pada 17 Agustus 2026. Polisi mencatat sepeda motor korban terlibat kecelakaan dengan sebuah dump truck di depan kawasan Pasar Induk Kramat Jati.
Sehari setelah kecelakaan, Pramono meminta kawasan tersebut segera dibenahi. Ia menyebut kondisi jalan menjadi licin akibat air dari aktivitas pedagang ikan di sekitar pasar dan meminta agar kegiatan perdagangan tidak lagi mengganggu badan jalan.
"Saya sudah menginstruksikan jajaran Wali Kota Jakarta Timur untuk segera melakukan penataan dan pencegahan agar aktivitas pedagang ikan tidak mengganggu badan jalan," kata Pramono.
Perumda Pasar Jaya kemudian menyiapkan skema relokasi. Dalam penataan yang lebih luas, ratusan tempat disiapkan untuk pedagang dengan pemetaan berdasarkan jenis komoditas dan kapasitas lokasi. Tiga lokasi yang disebut Pemkot yakni Lokbin Kramat Jati, Lokbin Cililitan, serta Lokbin Nusa.
Khusus 193 pedagang ikan dan kerang, Lokbin Kramat Jati dipilih karena fasilitasnya dapat disesuaikan dengan karakter perdagangan komoditas basah. Pemkot juga telah melakukan pengaspalan area parkir untuk mendukung aktivitas pedagang dan pengunjung.
Pedagang Dapat Bebas Retribusi Enam Bulan
Untuk membantu pedagang beradaptasi setelah berpindah dari lokasi lama, Pemkot Jakarta Timur juga memberikan masa pembebasan retribusi selama enam bulan. "Jadi mereka pedagang yang direlokasi ke lokbin itu untuk sementara waktu akan digratiskan sampai dengan enam bulan," kata Camat Kramat Jati Kamal Alatas.
Setelah periode tersebut berakhir, pedagang kembali dikenakan retribusi sesuai ketentuan. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi beban awal relokasi sekaligus memberikan kesempatan bagi pedagang membangun kembali pelanggan di lokasi baru.
Pemkot kini menghadapi dua target sekaligus dalam penataan Kramat Jati. Selain memastikan 193 pedagang tetap memiliki tempat usaha yang layak, pemerintah perlu memastikan trotoar dan bahu Jalan Raya Bogor kembali berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga persoalan jalan licin, kemacetan, kebersihan, dan keselamatan pengguna jalan tidak kembali terulang..
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pemkot Jaktim, Pasar Kramat Jati, dan pedagang pasar dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.