Periskop.id- Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur menargetkan pembangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, dapat direalisasikan pada 2027.
"Kita harus kejar agar pembangunan SMA Negeri di Pondok Kopi dapat direalisasikan pada tahun 2027. Kebutuhan pendidikan ini sudah sangat mendesak," kata Wakil Wali Kota Jakarta Timur Kusmanto di Jakarta, Rabu (25/2).
Menurut Kusmanto, kebutuhan SMA Negeri di wilayah Duren Sawit sudah sangat mendesak seiring meningkatnya jumlah lulusan SMP setiap tahunnya.
Ketersediaan lahan di Pondok Kopi, dinilainya menjadi modal penting untuk mempercepat proses Pembangunan. Sebelumnya usulan tersebut terkendala anggaran selama dua tahun terakhir
Kusmanto menegaskan, pembangunan sekolah baru bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jakarta Timur.
Dengan adanya SMA Negeri baru, diharapkan akses pendidikan bagi warga Duren Sawit semakin merata dan tidak lagi bergantung pada wilayah lain.
Rasio Ideal
Sekadar informasi, isu soal kurangnya kursi SMA negeri di Jakarta memang terus mengemuka dalam beberapa tahun belakangan, terutama menjelang tahun ajaran baru di masa PPDB. Untuk diketahui, berdasarkan data BPS DKI Jakarta, jumlah SMA negri di Jakarta saat ini sebanyak 117 Sekolah dengan 94.673 Siswa atau rasio 809 murid/ sekolah.
Sebagai pembanding, ada kesenjangan (gap) antara lulusan SMP Negeri dan ketersediaan kursi di SMA Negeri. Saat ini jumlah SMP Negeri di Jakarta mencapai 293 Sekolah dengan 215.353 Siswa.
Dengan angka tersebut, estimasi lulusan SMPN per tahun, sekitar 71.000 siswa (asumsi pembagian rata 3 angkatan). Jika ditotal dengan Lulusan SMP Swasta di Jakarta, rata-rata mencapai 145.000 - 150.000 siswa per tahun.
Jika dicermati lebih jauh, dengan jumlah SMP Negeri (293) yang jauh lebih banyak daripada SMA Negeri (117), artinya, hanya ada 1 SMA Negeri untuk setiap 2,5 SMP Negeri. Ini menyebabkan ketimpangan besar saat penerimaan peserta didik baru (PPDB).
Dengan kapasitas tampung 1 SMAN rata-rata sekitar 270−300 siswa baru (8-10 kelas), idealnya kebutuhan tambahan sekolah mencapai 236 sekolah (71 ribu lulusan SMPN : 300 kapasitas siswa baru tiap sekolah). Jika di Jakarta saat ini hanya memiliki 117 SMAN, untuk menampung seluruh lulusan SMP Negeri saja, Jakarta membutuhkan tambahan sekitar 119 SMA Negeri baru.
Namun, selain anggaran yang besar, di Jakarta, membangun gedung sekolah baru memang sangat sulit karena keterbatasan lahan. Oleh karena itu, sejauh ini Pemprov DKI melakukan beberapa strategi alternatif. Di antaranya sekitar 73 SMKN juga menyerap lulusan SMP.
Kemudian, melakukan PPDB Bersama: Pemerintah memberikan subsidi agar siswa tidak mampu bisa bersekolah di SMA Swasta dengan biaya gratis (seolah-olah sekolah negeri). Terakhir, melakukan optimalisasi ruang dengan menambah daya tampung per kelas dari 32 menjadi 36 siswa.
Program Prioritas Lain
Selain mendorong pembangunan SMA, Pemerintah Kota Jakarta Timur juga memastikan program prioritas lain seperti penanganan persoalan kemanusiaan dan percepatan penurunan stunting tetap berjalan beriringan.
Melalui pengawalan bersama antara pemerintah kota, DPRD, dan masyarakat, target pembangunan SMA Negeri di Pondok Kopi pada 2027 diharapkan dapat terealisasi.
"Semoga dengan pengawalan bersama pembangunan SMA Negeri di Pondok Kopi dapat terlaksana dan menjawab kebutuhan pendidikan warga Kecamatan Duren Sawit," ucap Kusmanto.
Tak hanya itu, Pemkot Jaktim juga berkomitmen menjadikan pencegahan dan penurunan angka stunting sebagai prioritas pembangunan daerah. Upaya tersebut dinilai sangat penting guna menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing di masa mendatang.
Melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tersebut, Kusmanto berharap seluruh usulan masyarakat dapat dikawal Bersama. Dengan begitu, program pembangunan yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan warga dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kecamatan Duren Sawit.
Tinggalkan Komentar
Komentar