Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.753 per Dolar AS
Rupiah ditutup melemah 57 poin ke Rp17.753 per dolar AS usai The Fed naikkan suku bunga acuan, sementara ruang BI untuk mengerek bunga dinilai kian terbatas.

Periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.753 per US$1 pada perdagangan Kamis (17/9), turun dari penutupan sebelumnya di Rp17.696. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan dolar AS setelah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga acuannya.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan, pasar justru merespons positif perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan kelompok Houthi Yaman. Menurutnya, dialog tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.
AS dan Houthi yang didukung Iran itu berdialog sepanjang akhir pekan. Dalam pertemuan tersebut, Houthi kembali menegaskan komitmennya terhadap gencatan senjata 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal milik AS maupun Israel.
Presiden AS Donald Trump turut menyampaikan sinyal positif terkait perkembangan ini. Pada Rabu (16/9) malam, ia menyebut Iran tengah mengupayakan kesepakatan damai dan memperkirakan perang mendekati babak akhir.
Meski begitu, Washington dan Teheran masih berselisih soal Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut disebut masih jauh di bawah level sebelum perang.
Dari sisi kebijakan moneter, Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75% hingga 4% pada Rabu (16/9). Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juli 2023.
Ketua The Fed Kevin Warsh, dalam konferensi pers usai pengumuman tersebut, kembali menegaskan kekhawatirannya terhadap inflasi. Ia menyebut masih banyak kategori produk dan jasa yang mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3% dalam periode enam maupun 12 bulan terakhir.
Warsh juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang. Di sisi lain, Trump pada hari yang sama justru mendesak The Fed memangkas suku bunga hingga 1% atau lebih rendah.
Sementara dari dalam negeri, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali mengerek suku bunga acuan dinilai kian terbatas menjelang Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026. Kondisi ini muncul setelah BI sebelumnya menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin sebagai langkah pre-emptive.
Langkah tersebut membuat BI dinilai tidak perlu terburu-buru melakukan pengetatan tambahan. Fundamental makroekonomi domestik turut jadi penopang, dengan nilai tukar rupiah berangsur stabil di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per US$1, sementara aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmen pemerintah menjaga keuangan negara. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), menurutnya, tetap diarahkan sebagai instrumen pendorong pertumbuhan sekaligus penjaga stabilitas perekonomian.
Pengelolaan keuangan negara itu diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi lewat konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, serta kegiatan ekspor, sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Federal Reserve (The Fed), Rupiah, dan dolar AS dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.