777 Ton Bantuan Gempa NTT Terkirim via Udara, 47 Ton Lagi Diterbangkan
BNPB mencatat 777,7 ton bantuan gempa NTT telah dikirim lewat udara hingga 21 Agustus 2026. Sebanyak 47 ton tambahan disiapkan untuk dikirim

Periskop.id - Distribusi bantuan untuk korban gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperbesar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 777.711 kilogram atau sekitar 777,7 ton bantuan telah diterbangkan ke wilayah terdampak sepanjang 15-21 Agustus 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pengiriman dilakukan secara bertahap melalui penerbangan TNI Angkatan Udara dan pesawat kargo komersial.
"Hingga 21 Agustus 2026, total bantuan yang telah didistribusikan melalui dua jalur udara tersebut mencapai 777.711 kilogram atau sekitar 777,7 ton. Bantuan tersebut disalurkan secara bertahap untuk mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak di wilayah NTT," kata Berton, Sabtu (22/8).
Dari jumlah tersebut, 312.711 kilogram atau sekitar 312,7 ton diangkut menggunakan pesawat TNI AU. Sementara 465 ton lainnya merupakan bantuan yang bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) BNPB dan diterbangkan menggunakan pesawat kargo komersial.
Besarnya kebutuhan logistik berkaitan dengan luasnya dampak gempa di Pulau Flores. BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia hingga Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB mencapai 75 orang, sementara 907 orang mengalami luka-luka. Pada periode yang sama, jumlah gempa susulan yang tercatat telah mencapai 3.752 kejadian.
Data BNPB pada Kamis pagi juga menunjukkan sebanyak 82.691 warga masih mengungsi, terdiri atas 38.801 orang di posko terpusat dan 43.890 orang yang mengungsi secara mandiri. Kondisi tersebut membuat kebutuhan tempat tinggal sementara, pangan, air bersih hingga layanan kesehatan tetap tinggi.
Ribuan Tenda Dikirim ke Labuan Bajo dan Maumere
Bantuan yang dikirim pemerintah tidak hanya berupa kebutuhan pangan. BNPB juga memperkuat ketersediaan hunian sementara bagi masyarakat yang rumahnya rusak atau masih khawatir kembali ke bangunan akibat gempa susulan.
Pada Jumat (21/8), sebanyak 245 tenda pengungsi dikirim menuju wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, 201 unit diarahkan ke Labuan Bajo dan 44 unit ke Maumere.
Selain itu, pemerintah mengirim 2.968 tenda keluarga, dengan rincian 2.332 unit menuju Labuan Bajo dan 636 unit ke Maumere. Dua kota tersebut berfungsi sebagai titik penting penerimaan sekaligus distribusi logistik menuju daerah-daerah terdampak di Flores.
Stok bantuan juga masih tersedia dalam jumlah besar. Hingga Jumat, Pos Dukungan Logistik Nasional di Lanud Halim Perdanakusuma mencatat persediaan sekitar 576.948 kilogram atau 577 ton. Bantuan berasal dari kementerian dan lembaga, TNI-Polri, pemerintah daerah, dunia usaha hingga berbagai organisasi kemanusiaan.
Untuk Sabtu (22/8), TNI AU kembali menyiapkan empat penerbangan dengan total kapasitas sekitar 47 ton. Satu pesawat Airbus A-4001 berkapasitas sekitar 22 ton dijadwalkan menuju Maumere.
Sementara Boeing A-7305 berkapasitas sekitar 10 ton dan Boeing A-7304 sekitar 5 ton dijadwalkan menuju Labuan Bajo. Boeing A-7306 dengan kapasitas sekitar 10 ton juga dipersiapkan terbang menuju Maumere.
Distribusi juga dilakukan melalui jalur laut. BNPB sebelumnya mengerahkan KRI Bung Hatta dari Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok untuk membawa paket bantuan Presiden, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta donasi masyarakat bagi warga Manggarai dan Manggarai Timur.
Gempa Berdampak pada Ribuan Sekolah
Skala kerusakan tidak hanya menyasar permukiman. Data terbaru menunjukkan 1.378 satuan pendidikan di Flores terdampak gempa, dengan 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan dan 502 bangunan fasilitas sekolah masuk kategori rusak berat.
Dampaknya menjangkau 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan. Sebanyak 923 sekolah untuk sementara menjalankan pembelajaran dari rumah, 171 menerapkan metode pembelajaran lain atau jarak jauh, dan 35 menggunakan ruang kelas darurat.
Kemendikdasmen juga mendistribusikan 100 tenda kelas darurat, 5.000 school kit, 1.500 family kit, 3.196 papan tulis, serta 123.522 buku untuk menjaga aktivitas pendidikan tetap berjalan di tengah masa tanggap darurat.
Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. BMKG memperbarui kekuatannya menjadi magnitudo 7,7dengan kedalaman 15 kilometer dan episentrum sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Gempa tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores. Peringatan dini tsunami yang sempat diterbitkan kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB.
Di tengah distribusi bantuan, pemerintah mulai mengarahkan penanganan menuju pemulihan akses dan aktivitas masyarakat. Di Desa Ladolaka, Pulau Palue, tiga alat berat telah membuka kembali jalur yang sebelumnya tertutup material longsor akibat gempa.
"Pemulihan kehidupan masyarakat akan terus dikawal agar warga Pulau Palue dapat kembali beraktivitas dengan aman dan perlahan meninggalkan trauma akibat gempa," kata Berton.
Dengan puluhan ribu warga masih berada di pengungsian dan ribuan fasilitas terdampak, tantangan berikutnya bukan hanya memastikan bantuan tiba di Flores. Distribusi dari titik logistik di Labuan Bajo dan Maumere hingga desa-desa terdampak, termasuk wilayah kepulauan dan kawasan yang aksesnya terganggu, menjadi kunci agar bantuan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bantuan kemanusiaan, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.








Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.