iklan periskop
Nasional

Akses Palue Pulih, Pemerintah Kawal Warga Gempa NTT hingga Bangkit

Pemerintah memastikan pemulihan warga gempa NTT terus dikawal. Akses Pulau Palue kembali terbuka, sementara 110.785 warga masih mengungsi

21 jam yang lalu · 4 mnt baca
gempa ntt, bnpb, basarnas
Anggota Tim SAR gabungan mengevakuasi korban terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8). Foto oleh Basarnas
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah memastikan penanganan gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berhenti setelah masa tanggap darurat. Pemulihan akan dilanjutkan hingga warga dapat kembali menjalani aktivitas secara aman, termasuk di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, yang sebelumnya sempat terisolasi akibat longsor.

Komitmen tersebut disampaikan setelah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengunjungi Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Jumat (21/8), untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan memastikan bantuan menjangkau wilayah kepulauan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemerintah juga memberikan perhatian terhadap pemulihan psikologis masyarakat yang masih dibayangi kekhawatiran akibat gempa susulan.

"Pemulihan kehidupan masyarakat akan terus dikawal agar warga Pulau Palue dapat kembali beraktivitas dengan aman dan perlahan meninggalkan trauma akibat gempa," kata Berton dikutip di Jakarta, Sabtu (22/8).

Pulau Palue termasuk wilayah yang merasakan guncangan kuat karena relatif dekat dengan pusat gempa utama pada 15 Agustus. Sejumlah rumah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda sehingga sebagian warga masih memilih tidur di tenda yang didirikan di sekitar rumah.

BNPB menyebut rasa khawatir untuk kembali ke bangunan menjadi salah satu persoalan yang masih dihadapi masyarakat. Kondisi tersebut diperkuat oleh ribuan gempa susulan yang terus terjadi setelah gempa utama.

Longsor Dibersihkan, Akses Ladolaka Kembali Terbuka

Salah satu kemajuan penting dalam pemulihan Pulau Palue adalah terbukanya kembali akses menuju Desa Ladolaka. Jalur tersebut sebelumnya tertutup material longsor akibat gempa. 

Pemerintah mengerahkan tiga ekskavator untuk membersihkan material hingga jalan kembali dapat dilalui warga dan kendaraan pengangkut bantuan. BNPB menilai pemulihan akses menjadi penting karena mempercepat distribusi logistik sekaligus memulihkan pergerakan masyarakat.

“Beberapa hari yang lalu jalur akses sudah bisa kita lalui setelah tiga alat berat dikerahkan. Akses yang sebelumnya tertutup longsor kini sudah mulai bisa dilewati,” kata Kepala BNPB Suharyanto.

Selain memastikan akses, Suharyanto berdialog dengan warga untuk mengetahui kebutuhan mereka. Pemerintah juga meminta masyarakat tetap waspada terhadap guncangan susulan tanpa panik berlebihan.

Kondisi di Palue menjadi bagian dari pemulihan infrastruktur yang berlangsung di sejumlah wilayah Flores. BNPB melaporkan sembilan ruas jalan nasional yang terdampak gempa, termasuk 64 titik longsor dan lima titik patahan, sudah kembali fungsional per 21 Agustus 2026. Akses utama Ende-Nagekeo yang sebelumnya sempat terputus juga telah tersambung kembali.

Kelistrikan di wilayah layanan Flores bagian timur dan barat juga dilaporkan telah pulih 100%. Sebanyak 11 trafo gardu induk, 59 penyulang dan 3.478 gardu distribusi kembali menyala, sementara layanan telekomunikasi relatif normal dengan 735 site provider kembali berfungsi.

Lebih dari 110 Ribu Warga Masih Mengungsi

Meski infrastruktur vital mulai pulih, skala dampak gempa masih besar. Data resmi BNPB hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB mencatat 83 orang meninggal dunia, 986 orang luka-luka dan lebih dari 110.785 warga masih mengungsi.

Kerusakan permukiman tercatat mencapai 45.006 rumah, terdiri atas 17.175 unit rusak berat, 9.818 rusak sedang dan 18.013 rusak ringan. Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan terbesar, termasuk 5.962 rumah kategori rusak berat.

Data tersebut masih terus diverifikasi menggunakan metode by name by address sebagai dasar penentuan bantuan pemulihan bagi warga.

Sektor pendidikan juga terdampak signifikan. BNPB mencatat 1.378 sekolah dengan 177.678 siswa dan 21.166 guru terdampak, sedangkan 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan. Sebanyak 923 sekolah untuk sementara meliburkan siswa, 171 menerapkan pembelajaran jarak jauh dan 35 menggunakan ruang belajar darurat.

Di sisi logistik, sebanyak 778 ton bantuan pangan dan nonpangan telah disalurkan sejak 15 hingga 21 Agustus. Bantuan mencakup tenda, matras, selimut, genset dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.

Pemulihan layanan kesehatan juga diperkuat dengan kehadiran KRI Suharso 990 di Pelabuhan Reo. Kapal bantu rumah sakit milik TNI AL tersebut mampu menangani operasi besar dan menyediakan kapasitas rawat inap untuk 75 pasien.

Gempa Susulan Masih Berlangsung

Pemulihan masyarakat berlangsung ketika aktivitas kegempaan Flores belum sepenuhnya reda. BMKG mencatat 4.258 gempa susulan hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB. 

Dari jumlah tersebut, 118 gempa dirasakan masyarakat dan 31 kejadian memiliki magnitudo di atas 5,0. BMKG memperkirakan aktivitas susulan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat minggu.

Pada Sabtu (22/8) pukul 08.31 WIB, BMKG kembali mencatat gempa magnitudo 5,2 dengan pusat di laut sekitar 68 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, pada kedalaman 10 kilometer.

Aktivitas seismik tersebut menjelaskan mengapa sebagian warga masih bertahan di tenda meski rumah mereka tidak seluruhnya mengalami kerusakan berat. Faktor keselamatan bangunan dan trauma menjadi bagian penting dari agenda pemulihan selain rehabilitasi fisik.

Situasi serupa juga ditemukan di Desa Jegharangga, Kabupaten Ende. BNPB melaporkan sebagian warga masih memilih tinggal di tenda di halaman rumah karena rasa takut dan trauma pascagempa, sehingga pendampingan psikososial menjadi bagian dari respons pemerintah.

Pemulihan Pulau Palue kini memasuki fase penting setelah akses darat kembali terbuka. Pemerintah menargetkan kelancaran distribusi bantuan, pemulihan rumah dan fasilitas dasar berjalan beriringan dengan pendampingan psikologis bagi masyarakat.

Berton menegaskan pemerintah bersama berbagai unsur penanganan bencana akan tetap hadir hingga kebutuhan masyarakat terpenuhi dan kehidupan warga berangsur normal.

Dengan akses transportasi yang kembali terbuka serta infrastruktur utama yang mulai berfungsi, tantangan berikutnya bergeser dari sekadar penanganan kedaruratan menuju rehabilitasi rumah, layanan publik, pemulihan ekonomi serta penguatan rasa aman masyarakat yang masih menghadapi gempa susulan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Letjen TNI Suharyanto, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.