iklan periskop
Nasional

Pengungsi Gempa NTT Tembus 110.785, BNPB Buka Pendaftaran Relawan

Pengungsi gempa NTT mencapai 110.785 orang dan 83 meninggal. BNPB membuka pendaftaran terpadu relawan untuk memperkuat penanganan bencana

5 jam yang lalu · 4 mnt baca
baznas
Korban bencana gempa bumi memanfaatkan layanan kesehatan gratis yang disediakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas RI) di Pondok Pesantren Pancasila, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). dok. Baznas RI
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah membuka pendaftaran terpadu bagi relawan yang ingin terlibat dalam penanganan gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini dilakukan ketika jumlah pengungsi melonjak menjadi 110.785 orang, sementara korban meninggal bertambah menjadi 83 jiwa hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB.

Pendaftaran relawan dikoordinasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara daring melalui Desk Relawan pada platform Katalog Ketangguhan BNPB. Mekanisme tersebut ditujukan agar pengerahan sumber daya manusia dari berbagai organisasi maupun relawan independen, dapat tercatat dan disesuaikan dengan kebutuhan di wilayah terdampak.

Desk Relawan memang dirancang BNPB sebagai sarana koordinasi dalam situasi darurat, mulai dari mendata siapa yang turun ke lapangan, lokasi penugasan, kegiatan yang dilakukan hingga kebutuhan masing-masing tim. Mekanisme tersebut juga membantu mencegah penumpukan tenaga di satu lokasi ketika daerah lain masih kekurangan personel.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemerintah juga telah menyiapkan dashboard digital untuk memantau perkembangan penanganan bencana, distribusi logistik dan pembaruan kondisi di lapangan.

Kebutuhan terhadap dukungan relawan meningkat seiring bertambahnya warga terdampak. Data BNPB per Jumat sore mencatat korban meninggal bertambah delapan orang dari sebelumnya 75 menjadi 83 jiwa. Sementara korban luka naik dari 907 menjadi 986 orang. Jumlah pengungsi meningkat paling tajam, yakni bertambah 18.050 orang dari 92.735 menjadi 110.785 jiwa.

Tambahan delapan korban meninggal berasal dari dampak tidak langsung bencana, dengan rincian dua orang di Kabupaten Manggarai, dua di Manggarai Timur, tiga di Nagekeo dan satu di Ngada.

Hampir 45 Ribu Rumah Rusak

Skala kerusakan tempat tinggal juga terus membesar. BNPB melaporkan sementara terdapat 44.946 rumah rusak akibat gempa. Data yang disampaikan pemerintah merinci 17.176 unit rusak berat, 9.758 rusak sedang dan 18.013 rusak ringan. Pendataan tersebut masih terus diverifikasi oleh posko di masing-masing kabupaten.

Kerusakan berat paling banyak ditemukan di Manggarai Timur dengan sekitar 5.962 rumah, diikuti Manggarai sekitar 3.146 unit berdasarkan pembaruan BNPB, serta Manggarai Barat sebanyak 3.050 unit. Data tersebut akan menjadi dasar pemerintah menentukan bentuk bantuan pemulihan kepada masyarakat.

"Pendataan dilakukan berbasis nama dan alamat untuk penetapan skema bantuan pemulihan," kata Berton.

Pemutakhiran berbasis nama dan alamat dinilai penting agar bantuan rehabilitasi maupun rekonstruksi nantinya dapat diberikan sesuai tingkat kerusakan rumah setiap keluarga.

Besarnya jumlah korban dan kerusakan juga membuat pemerintah membangun sistem komando penanganan di beberapa titik. BNPB sebelumnya menetapkan Posko Utama Pendampingan Nasional di Labuan Bajo dan posko taktis di Maumere. Labuan Bajo menangani koordinasi wilayah Flores bagian barat, sedangkan Maumere membantu menjangkau Sikka, Nagekeo dan Ngada.

Sistem tersebut menjadi penting bagi relawan yang datang dari luar NTT agar aktivitas kemanusiaan tetap terhubung dengan kebutuhan posko dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

BNPB juga terus mengirim logistik melalui jalur udara, darat dan laut. Hingga 21 Agustus 2026, total bantuan yang telah didistribusikan sejak gempa terjadi dilaporkan mencapai sekitar 776 ton. Pada Jumat saja, sekitar 85 ton bantuan diarahkan ke Maumere dan Labuan Bajo.

“Setiap bantuan yang diterima dipastikan didistribusikan melalui angkutan udara, angkutan darat, maupun angkutan laut, hingga tiba sampai di masyarakat yang terdampak,” ujar Berton.

Gempa Susulan Masih Ribuan Kali

Pengerahan relawan juga berlangsung ketika aktivitas seismik di Flores belum sepenuhnya mereda.

BMKG mencatat 4.258 gempa susulan hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB. Sebanyak 118 di antaranya dirasakan masyarakat, sedangkan 31 gempa memiliki magnitudo lebih dari 5,0. BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih berpotensi berlangsung selama tiga sampai empat minggu.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan aktivitas seismik masih perlu diwaspadai. “Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan,” kata Wijayanto.

Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Hasil analisis BMKG memperbarui kekuatannya menjadi magnitudo 7,7 pada kedalaman 15 kilometer dengan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores.

Tingginya aktivitas gempa susulan menjadi salah satu alasan penempatan relawan harus tetap memperhatikan prosedur keselamatan, koordinasi dengan posko dan kebutuhan keahlian di lapangan.

Relawan tidak hanya dibutuhkan untuk membantu distribusi bantuan. Dalam penanganan bencana sebelumnya, BNPB menggunakan Desk Relawan untuk mengoordinasikan berbagai kemampuan, mulai dari layanan kesehatan, pencarian dan pertolongan, dapur umum, distribusi logistik, pembukaan akses hingga dukungan psikososial.

Sejumlah organisasi kemanusiaan juga telah mengirim tim sejak hari-hari pertama gempa. BAZNAS, misalnya, menerjunkan Tim BAZNAS Tanggap Bencana dengan prioritas awal pencarian dan pertolongan, layanan kesehatan, pengelolaan posko hingga distribusi kebutuhan dasar. Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid menekankan koordinasi tetap diperlukan agar bantuan tidak tumpang tindih.

"Meskipun kondisi sinyal yang belum stabil, koordinasi lanjutan juga akan terus dilakukan untuk memetakan kebutuhan yang diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih," ujarnya.

Dengan pengungsi telah menembus 110 ribu orang dan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan, pemerintah kini menghadapi kebutuhan penanganan yang semakin besar. Pendaftaran relawan secara terpadu diharapkan membuat bantuan tenaga dapat diarahkan berdasarkan kebutuhan nyata di setiap wilayah, sekaligus menjaga keselamatan relawan di tengah ribuan gempa susulan yang masih berlangsung.

BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan informasi dari kanal resmi dan tidak langsung mempercayai kabar terkait korban, bantuan maupun kondisi wilayah terdampak yang belum terverifikasi.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Relawan, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.