Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 91 Jiwa, Pengungsi Tembus 161 Ribu
BNPB mencatat korban meninggal gempa M7,7 NTT bertambah menjadi 91 jiwa dan 161.084 warga mengungsi. Lebih dari 1.200 ton bantuan telah dikirim

Periskop.id - Dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Minggu (23/8/2026) pukul 16.00 WIB, 91 orang meninggal dunia dan 161.084 warga masih mengungsi di sejumlah kabupaten terdampak.
Jumlah korban meninggal bertambah empat orang dibandingkan sehari sebelumnya. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak.
“Saat ini, hingga pukul 16.00 WIB Minggu 23 Agustus, jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya. Dengan rincian Manggarai 32 jiwa, Manggarai Timur 31 jiwa, Sikka 6 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Ngada 5 jiwa,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Berdasarkan jenis kelamin, 40 korban merupakan laki-laki dan 48 perempuan. Tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi.
Kelompok lanjut usia tercatat paling banyak menjadi korban meninggal dengan 39 orang. Selain itu, terdapat empat anak bawah tiga tahun, satu balita, 12 anak dan remaja, serta 35 orang dewasa.
BNPB juga mencatat sekitar 51% korban meninggal disebabkan dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sisanya sekitar 49% dikategorikan meninggal akibat dampak tidak langsung bencana.
Pengungsi Bertambah Jadi 161.084 Jiwa
Di saat jumlah korban terus diperbarui, warga yang meninggalkan rumah juga bertambah.
“Saat ini data pengungsi yang ada pada kami bertambah lagi menjadi 161.084 jiwa. Adapun tiga kabupaten tertinggi adalah kabupaten Manggarai (46.519 jiwa), Nagekeo (34.256 jiwa), dan Manggarai Timur (31.372 jiwa),” ujar Berton.
Tingginya jumlah pengungsi berkaitan dengan kerusakan permukiman serta aktivitas gempa susulan yang belum sepenuhnya mereda. Banyak warga masih memilih tinggal di lokasi pengungsian atau tempat terbuka karena khawatir bangunan yang telah mengalami keretakan kembali rusak ketika terjadi guncangan baru.
BMKG sebelumnya mencatat sedikitnya 4.258 gempa susulan hingga 21 Agustus pukul 05.00 WIB, dengan 118 di antaranya dirasakan masyarakat dan 31 kejadian bermagnitudo di atas M5,0. BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu.
Aktivitas kegempaan juga masih terpantau pada Minggu. Data real-time BMKG mencatat sejumlah gempa di kawasan Flores sepanjang 23 Agustus, termasuk gempa M4,0 di laut sekitar 42 kilometer utara Ruteng, Manggarai, pada pukul 10.41 WIB.
BMKG karena itu tetap meminta masyarakat tidak memasuki bangunan yang telah mengalami kerusakan signifikan sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Tim teknis BMKG juga masih melakukan survei lapangan untuk memetakan tingkat guncangan, karakteristik tanah, kerusakan bangunan hingga dampak tsunami.
“Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Kemendagri, serta unsur Forkopimda demi memastikan keselamatan warga,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.

Lebih dari 1.200 Ton Bantuan Sudah Dikirim
Besarnya jumlah pengungsi membuat distribusi kebutuhan dasar menjadi salah satu fokus utama pemerintah.
BNPB melaporkan Pos Dukungan Logistik Nasional di Bandara Halim Perdanakusuma terus mengirim bantuan menuju Labuan Bajo dan Maumere. Khusus Minggu hingga pukul 13.00 WIB, sekitar 271 ton bantuan telah diberangkatkan melalui sembilan sorti penerbangan dan satu pengiriman laut.
Sebanyak 74 ton diterbangkan menuju Labuan Bajo melalui lima sorti, sedangkan 54 ton lainnya dikirim ke Maumere melalui empat penerbangan.
Pengiriman dalam jumlah lebih besar juga dilakukan menggunakan jalur laut. Sekitar 143 ton logistik yang diangkut dalam 16 truk diberangkatkan menggunakan KRI Semarang-594 dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Labuan Bajo.
Secara kumulatif sejak 15 hingga 23 Agustus, BNPB mencatat total bantuan yang sudah didistribusikan mencapai 1.226 ton melalui 77 sorti penerbangan dan satu kapal laut.
Dari jumlah tersebut, sekitar 869 ton dikirim menuju Labuan Bajo melalui 50 sorti penerbangan dan satu kapal. Sementara sekitar 356 ton telah disalurkan menuju Maumere melalui 27 sorti.
Posduklognas juga masih memiliki pasokan bantuan dalam jumlah besar. Total bantuan yang diterima sejak awal bencana hingga Minggu mencapai sekitar 1.750 ton dari 77 donatur, terdiri atas dukungan pemerintah, lembaga, dunia usaha maupun pihak lainnya.

Gempa M7,7 Berasal dari Laut Utara Nagekeo
Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. BMKG memperbarui parameter gempa menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer, berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo.
Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami di NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan sejumlah wilayah lain. Pengamatan BMKG kemudian mencatat tsunami dengan ketinggian berbeda di beberapa lokasi, antara lain sekitar 0,94 meter di Maurole, Ende, 0,54 meter di Bulukumba, 0,38 meter di Kewapante, Sikka, serta 0,36 meter di Labuan Bajo.
Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pagi hari yang sama.
Delapan hari setelah gempa utama, fase penanganan kini menghadapi dua pekerjaan sekaligus. Pemerintah harus memastikan kebutuhan lebih dari 161 ribu pengungsi tetap terpenuhi, sambil mempercepat pemulihan akses, layanan dasar dan bangunan yang rusak.
Dengan gempa susulan masih terus terjadi, proses pemulangan warga ke rumah diperkirakan tidak dapat dilakukan serentak. Pemeriksaan keamanan bangunan dan pembaruan data korban menjadi kunci agar fase rehabilitasi dan rekonstruksi berikutnya dapat dilakukan tanpa menambah risiko bagi masyarakat.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.








Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.