iklan periskop
Nasional

Atasi Karhutla, Prabowo Perintahkan Buat Sumur Bor di 300 Hotspot Riau

Prabowo memerintahkan pembangunan sumur bor di sekitar 300 hotspot karhutla Riau. Sebanyak 900 hektare di tujuh titik masih menjadi fokus pemadaman

2 jam yang lalu · 5 mnt baca
Atasi Karhutla, Prabowo Perintahkan Buat Sumur Bor di 300 Hotspot Riau
Tangkapan layar - Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, Senin (24/8/2026). dok. YouTube Sekretariat Presiden
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto mengubah fokus penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau dari sekadar memadamkan api menjadi intervensi sejak titik panas terdeteksi. Pemerintah daerah diminta segera membuat sumur bor di sekitar 300 lokasi hotspot agar tersedia sumber air sebelum titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih sulit dikendalikan.

Arahan tersebut disampaikan Prabowo ketika memimpin rapat penanganan karhutla di Posko Aju Provinsi Riau, Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Senin (24/8/2026). Dalam rapat, BPBD Riau melaporkan terdapat 306 hotspotberdasarkan pemantauan hingga 23 Agustus. Tujuh lokasi di antaranya telah terindikasi mengalami kebakaran dan tersebar di Pelalawan, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, serta Kampar.

"Jangan nunggu sampai jadi titik api. Tolong masuk ke titik hotspot itu. Segera saja masuk, ambil tindakan dini. Di tempat-tempat itu bisa dibikin bor air?," kata Prabowo.

Presiden meminta pembangunan sumber air tidak menunggu api benar-benar muncul.

"Saya kira segera saja di 300 titik langsung bikin bor air. Begitu ada hotspot bikin bor air di situ. Jangan tunggu titik api," ucapnya. 

Strategi tersebut dipadukan dengan sekat kanal, embung, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta kesiapan helikopter water bombing.

"Begitu hotspot, lakukan pencegahan. Sekat, embung, bor. OMC (operasi modifikasi cuaca) diupayakan terus. Helikopter water bombing stanby," ucap Presiden.

Hotspot Bukan Berarti Semuanya Sedang Terbakar

Jumlah hotspot perlu dibedakan dengan jumlah kebakaran aktif. Kementerian Kehutanan menjelaskan titik panas yang ditangkap satelit merupakan indikasi awal anomali suhu permukaan, bukan berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran yang terjadi bersamaan. Karena itu, setiap hotspot harus diverifikasi melalui pengecekan lapangan.

Perbedaan waktu pemantauan juga dapat membuat angka hotspot berubah dalam hitungan jam. Data BMKG yang diperbarui hingga Minggu (23/8) pukul 23.00 WIB, misalnya, mencatat 491 hotspot di Riau, sementara angka 306 disampaikan BPBD dalam rapat Presiden berdasarkan data pemantauan yang digunakan saat itu.

Karena itu, instruksi Prabowo pada prinsipnya meminta setiap indikasi panas diperlakukan sebagai sinyal dini yang harus diperiksa dan, jika berada di kawasan berisiko, segera dipersiapkan sumber air untuk mencegah kebakaran membesar.

Pendekatan tersebut relevan terutama pada lahan gambut. Pedoman teknis Kementerian Kehutanan menjelaskan sumur bor digunakan untuk mengatasi keterbatasan sumber air permukaan pada musim kemarau sekaligus menyediakan air untuk pemadaman awal dan pembasahan lahan. Sekat kanal juga digunakan untuk mempertahankan air agar gambut tetap basah dan lebih sulit terbakar.

Lebih dari 16 Ribu Hektare Terbakar Sepanjang 2026

Data BPBD Riau menunjukkan luas kumulatif hutan dan lahan yang terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 16.277,50 hektare.

Dalam periode yang sama, sebanyak 10.514 hotspot tercatat dan 521 titik di antaranya terindikasi berkembang menjadi kebakaran. Pemerintah menyatakan sebagian besar telah berhasil ditangani.

Saat Prabowo memimpin rapat pada Senin, tersisa tujuh titik kebakaran yang menjadi perhatian dengan luas total sekitar 900 hektare. Lokasinya berada di empat kabupaten, yakni Pelalawan satu titik, Indragiri Hilir dua titik, Indragiri Hulu dua titik, serta Kampar dua titik.

Prabowo meminta TNI dan Polri mengerahkan kekuatan untuk menuntaskan titik yang tersisa serta meminta pemerintah daerah segera melapor apabila membutuhkan tambahan dukungan.

Pemerintah Provinsi Riau juga masih menjalankan pendinginan pada lokasi yang telah terkendali. Di Desa Sungai Guntung Hilir, Indragiri Hulu, misalnya, Manggala Agni dan tim gabungan masih melakukan mopping up untuk menyisir bara yang tersimpan di akar tanaman dan lantai hutan. Luas area terbakar di lokasi tersebut berdasarkan interpretasi citra Sentinel-2 mencapai 471,39 hektare.

TNI, Karhuta,
Ilustrasi -Prajurit TNI dari Kodam I/Bukit Barisan yang tergabung dalam Satgas Karhutla berjibaku padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Riau. dok. Kodam I/Bukit Barisan

El Niño Sangat Kuat Perbesar Ancaman Karhutla

Tantangan Riau belum selesai meskipun sebagian besar kebakaran telah berhasil dikendalikan. BMKG mencatat El Niño pada Agustus 2026 sudah berada pada kategori sangat kuat. Sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5% wilayah Indonesia juga telah memasuki musim kemarau, sementara curah hujan rendah mendominasi 90,79% wilayah. Kondisi ini memperbesar risiko pengeringan vegetasi dan lahan gambut.

Riau sejak awal telah ditempatkan sebagai salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla bersama Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Hingga akhir Juli, BMKG mencatat 5.019 hotspot secara nasional dengan konsentrasi tinggi antara lain berada di Riau.

OMC juga telah digunakan untuk menjaga kelembapan lahan sebelum kondisi kering semakin parah. BMKG sebelumnya menyiapkan Posko OMC Pekanbaru dan menjalankan penyemaian awan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Namun, operasi tersebut tetap bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat.

Karena itu, pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan hujan buatan. Infrastruktur air di darat seperti sumur bor, embung dan sekat kanal menjadi penting untuk menjaga ketersediaan air ketika pertumbuhan awan minim.

Asap Mulai Jadi Masalah Kesehatan

Karhutla juga mulai berdampak terhadap kualitas udara. Pemprov Riau pada Minggu telah meminta masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker ketika diperlukan.

Pemerintah daerah menyiapkan sekitar 110 ribu masker, obat-obatan dan dukungan kesehatan untuk masyarakat serta personel yang terpapar asap. Informasi kualitas udara juga diminta ditampilkan melalui videotron pemerintah agar lebih mudah diakses masyarakat.

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto sebelumnya meminta seluruh unsur menghilangkan ego sektoral selama penanganan kebakaran.

“Kita harus bekerja sama. Tidak ada lagi ego sektoral karena persoalan ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Arahan membangun sumur bor di sekitar lokasi hotspot kini menandai perubahan pendekatan pemerintah dari reaktif menuju preventif. Jika sebelumnya sumber daya besar baru dikerahkan ketika api telah meluas, Prabowo menginginkan intervensi dilakukan sejak satelit memberikan indikasi panas.

Keberhasilannya tetap bergantung pada kecepatan ground check, ketepatan menentukan lokasi sumur, ketersediaan air tanah, kesiapan personel, serta pemeliharaan infrastruktur setelah dibangun. Dengan puncak musim kemarau dan El Niño masih berlangsung, tantangan Riau berikutnya bukan hanya memadamkan sekitar 900 hektare yang tersisa, tetapi mencegah ratusan hotspot baru berkembang menjadi kebakaran berikutnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Prabowo Subianto, Presiden Indonesia, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dan sumur bor dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.