iklan periskop
Nasional

Prabowo Minta Sumur Bor dan Sekat Kanal Diperbanyak di Lahan Gambut Sumsel

Prabowo meminta sumur bor, sekat kanal, dan embung diperbanyak di lahan gambut Sumsel untuk mencegah karhutla sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga

1 jam yang lalu · 5 mnt baca
prabowo, karhutla,
Presiden Prabowo Subianto berbincang dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kiri) dan Menteri Sekretaris Presiden Prasetyo Hadi (kanan) saat memimpin rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Lanud Roesmin Nurjadin, Kota Pekanbaru, Riau, Senin (24/8/2026). dok. BPMI Sekretariat Presiden/Muchlis Jr
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah memperbanyak sumur bor, sekat kanal, dan embung di kawasan gambut rawan kebakaran. Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga lahan tetap basah sebelum kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muncul, sekaligus membuat infrastruktur pencegahan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan produktif.

Arahan itu disampaikan Prabowo saat memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026). Rapat tersebut menjadi bagian dari rangkaian peninjauan penanganan karhutla di Sumatra setelah Presiden sebelumnya mendatangi Riau.

Prabowo menilai karakter lahan gambut yang selama ini dianggap sebagai tantangan justru dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem pencegahan kebakaran, terutama karena sumber air dinilai relatif memungkinkan diperoleh melalui sumur bor.

"Beberapa yang kita anggap sebagai rintangan sesungguhnya juga bisa menjadi peluang. Gambut ini ternyata tidak terlalu sulit untuk membor mencari air. Saya kira ini jadi makanya saya bilang peluang," ujar Presiden Prabowo.

Presiden meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ikut terlibat untuk mengembangkan desain embung maupun sekat kanal yang tidak hanya berfungsi menjaga kelembapan gambut, tetapi juga memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar.

"Bagaimana kita bisa sekarang terus menambah embung-embung, kanal-kanal di daerah gambut yang produktif. Apakah bisa embung-embung itu memelihara ikan-ikan tertentu dan sebagainya," kata Prabowo.

Cegah Karhutla Sebelum Api Membesar

Arahan di Sumatera Selatan melanjutkan pendekatan preventif yang disampaikan Prabowo beberapa jam sebelumnya ketika memimpin rapat karhutla di Riau.

Di Riau, Presiden memerintahkan pembangunan sumur bor sejak sebuah lokasi terdeteksi sebagai hotspot, tanpa menunggu titik panas berkembang menjadi kebakaran. Pemerintah juga diminta mengombinasikan sumur bor dengan sekat kanal, embung, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta kesiapan helikopter water bombing.

Pendekatan serupa relevan untuk Sumatera Selatan karena sebagian kawasan rawan karhutla merupakan lahan gambut. Sekat kanal digunakan untuk memperlambat keluarnya air dari kawasan gambut sehingga muka air dapat dipertahankan dan lahan tidak terlalu kering ketika kemarau.

Pakar kehutanan IPB University Bambang Hero Saharjo sebelumnya juga mendorong pemerintah mengintensifkan pembasahan kembali dan penutupan kanal di kawasan gambut sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Menurutnya, teknologi pemantauan saja tidak cukup tanpa respons cepat di lapangan.

“Sistem deteksi dini berbasis satelit, pemantauan hotspot, hingga informasi cuaca telah berkembang pesat. Namun, kesiapan teknologi tersebut harus diimbangi dengan koordinasi lapangan yang kuat,” tuturnya. 

Sumsel Sudah Siaga Karhutla Sejak April

Sumatera Selatan termasuk enam provinsi yang menjadi prioritas nasional penanganan karhutla bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Pemprov Sumsel bahkan telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 22 April hingga 30 November 2026karena musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering.

Hingga 9 Agustus, BNPB mencatat sekitar 664,87 hektare lahan terbakar di Sumatera Selatan. Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas telah mencatat sekitar 48.889,69 hektare area terbakar pada periode tersebut.

Tekanan meningkat memasuki Agustus. Pemantauan pada 1 hingga 10 Agustus mencatat 2.145 titik panas di Sumatera Selatan, dengan puncak 251 hotspot dalam satu hari pada 10 Agustus. Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin menjadi salah satu kawasan konsentrasi titik panas.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru sebelumnya mengingatkan dampak kebakaran tidak berhenti di lokasi api. "Kita harus waspada, karena asap karhutla tidak hanya menurunkan indeks kualitas udara, tetapi juga bisa meluas ke wilayah lain hingga mengganggu penerbangan," ucapnya. 

El Niño Sangat Kuat, Curah Hujan Sumsel Rendah

Kekhawatiran pemerintah diperkuat kondisi iklim.

BMKG mencatat indeks Niño 3.4 pada Dasarian II Agustus 2026 telah mencapai +2,99, yang menunjukkan El Niño berada pada kategori sangat kuat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Indonesia.

Khusus Sumatera Selatan, BMKG memprakirakan curah hujan pada Dasarian III Agustus masih didominasi kategori rendah dengan sifat hujan di bawah normal. Pada Dasarian II Agustus, sebagian besar wilayah Sumsel hanya menerima curah hujan sekitar 0 sampai 50 milimeter. Bahkan hari tanpa hujan terpanjang tercatat mencapai 60 hari di Muara Kuang, Ogan Ilir.

Kondisi tersebut membuat vegetasi dan lapisan gambut semakin mudah mengering sehingga api dapat menyebar lebih cepat ketika muncul sumber pemicu.

Sumatera Selatan sebelumnya juga telah beberapa kali menjalankan OMC. BNPB kembali menggelar operasi selama tujuh hari pada 4 sampai 10 Agustus setelah titik panas yang terdeteksi Satelit NOAA-20 naik dari 46 titik pada 2 Agustus menjadi 104 titik sehari berikutnya.

Pada periode sebelumnya, OMC juga diarahkan untuk membasahi lahan serta mengisi kembali embung dan kanal yang dapat digunakan tim pemadam sebagai sumber air ketika kebakaran terjadi.

Prabowo meminta langkah tersebut tetap dilanjutkan selama kondisi atmosfer memungkinkan. "Kita antisipatif, titik-titik hotspot itu, alhamdulillah, kalau berkurang. Saya kira juga akibat saudara-saudara bekerja keras sudah sejak awal tahun. Terima kasih," tuturnya.

Infrastruktur Pencegahan Didorong Punya Manfaat Ganda

Gagasan terbaru pemerintah adalah membuat infrastruktur pengendalian gambut tidak hanya digunakan ketika karhutla terjadi. Embung yang dibangun, misalnya, dapat dipelajari kemungkinan pemanfaatannya untuk perikanan atau kebutuhan produktif masyarakat. Sementara sumur bor dapat menjadi sumber air yang tetap tersedia ketika kawasan memasuki musim kemarau.

Pendekatan tersebut sekaligus dimaksudkan agar fasilitas pencegahan dirawat dan digunakan sepanjang tahun, bukan dibiarkan setelah masa darurat selesai.

Namun, pembangunan sumur bor dan sekat kanal tetap membutuhkan penentuan lokasi yang tepat. Kondisi hidrologi gambut, kedalaman sumber air, jaringan kanal, kepemilikan lahan hingga kebutuhan masyarakat perlu diperhitungkan agar infrastruktur tidak justru mengganggu tata air kawasan.

Pemerintah juga masih mengandalkan operasi udara sebagai lapisan pengamanan ketika kebakaran telanjur terjadi. Sumatera Selatan telah menyiagakan sejumlah helikopter untuk patroli dan water bombing, sementara BPBD sebelumnya mengajukan penambahan armada karena beberapa wilayah rawan karhutla sulit dijangkau melalui jalur darat.

Dengan El Niño masih sangat kuat dan puncak risiko karhutla berlangsung pada Agustus hingga September, strategi pemerintah kini semakin diarahkan pada mencegah gambut mengering sebelum api muncul.

Sumur bor, embung, sekat kanal, pemantauan hotspot, OMC, patroli darat, dan water bombing akan berjalan sebagai satu rangkaian. Jika skema tersebut efektif, pemerintah tidak hanya memiliki sumber air ketika kebakaran muncul, tetapi juga dapat mengurangi peluang titik panas berkembang menjadi kebakaran besar sejak awal.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Prabowo Subianto, Presiden Indonesia, sumur bor, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.