iklan periskop
Nasional

Stok Beras Pemerintah 5,1 Juta Ton, Amran Sebut Aman Hadapi El Nino

Stok Cadangan Beras Pemerintah mencapai 5,1 juta ton dan diklaim aman menghadapi El Nino, meski harga beras masih menghadapi tekanan

3 jam yang lalu · 4 mnt baca
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. dok. Bapanas
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah memastikan cadangan beras nasional dalam kondisi kuat menghadapi dampak El Nino dan puncak musim kemarau 2026. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai sekitar 5,1 juta ton, level yang disebut tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, besarnya cadangan tersebut menjadi bantalan pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan, mengintervensi harga, hingga memenuhi kebutuhan dalam kondisi bencana dan keadaan darurat.

"Stok kita sekarang, (meski) ada El Nino, (jadi yang) tertinggi. Tapi alhamdulillah cadangan kita tertinggi selama Republik ini berdiri, yaitu 5,1 juta ton," kata Amran di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Angka 5,1 juta ton tersebut merujuk pada stok CBP yang dikuasai pemerintah melalui Bulog, bukan keseluruhan stok beras yang berada di masyarakat, pelaku usaha maupun rantai perdagangan.

Data Bapanas menunjukkan posisi stok CBP pada 21 Agustus 2026 mencapai sekitar 5,17 juta ton. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan posisi stok pada Agustus 2023 yang berada di kisaran 1,32 juta ton ketika Indonesia juga menghadapi tekanan El Nino.

Besarnya cadangan menjadi semakin penting karena Indonesia tengah memasuki periode dengan risiko kekeringan tinggi. BMKG menyebut El Nino telah berada pada kategori kuat dan diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027. Puncak musim kemarau 2026 diproyeksikan terjadi terutama pada Agustus yang mencakup 48,84% wilayah daratan Indonesia, kemudian berlanjut pada September sebesar 25,41%.

Stok Tinggi, Harga Tetap Harus Dijaga

Meski cadangan beras berada pada level tinggi, Amran mengakui pemerintah tetap menghadapi tantangan menjaga keseimbangan harga di tingkat petani, pelaku usaha, dan konsumen.

"Ketika harga naik (beras naik), konsumen marah. Harga turun, petani marah. Harga sedang sedang, pengusaha marah. Jadi begitu berat bebannya pemerintah," ucapnya.

Pemerintah karena itu tidak hanya mengandalkan besarnya stok, tetapi juga menggelontorkan CBP melalui sejumlah program stabilisasi. Hingga 24 Agustus 2026, realisasi penyaluran CBP secara nasional telah mencapai sekitar 1,69 juta ton. 

Jumlah tersebut antara lain berasal dari penjualan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Januari-Februari sebanyak 221,05 ribu ton dan SPHP periode Maret-Agustus sebanyak 688,98 ribu ton.

Pemerintah juga telah menyalurkan 662,86 ribu ton beras melalui bantuan pangan tahap pertama. Adapun bantuan pangan tahap kedua yang mulai berjalan telah terealisasi 59,83 ribu ton. Sementara 11,39 ribu ton lainnya disalurkan untuk penanganan bencana dan keadaan darurat serta 53,68 ribu ton untuk golongan anggaran.

Data tersebut menunjukkan sekitar sepertiga dari besaran CBP saat ini telah digelontorkan sepanjang 2026 melalui berbagai skema intervensi. Namun angka itu tidak berarti stok awal hanya sebesar 5,1 juta ton, sebab Bulog juga melakukan penyerapan beras dan gabah produksi dalam negeri selama tahun berjalan.

Harga Beras di Penggilingan Masih Naik

Besarnya stok juga belum sepenuhnya menghilangkan tekanan harga. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras premium di tingkat penggilingan pada Juli 2026 mencapai Rp14.880 per kilogram, naik 0,44% dibandingkan Juni.

Harga beras medium di penggilingan bahkan meningkat lebih tinggi, yakni 1,25% menjadi Rp13.694 per kilogram. BPS juga mencatat beras biasa sebagai salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga secara tahunan pada tingkat perdagangan besar selama Juli.

Sementara berdasarkan pemantauan Bapanas, rata-rata harga beras premium secara nasional sepanjang Juli berada di kisaran Rp15.972 per kilogram, naik 0,68% secara bulanan. Harga beras medium rata-rata Rp13.564 per kilogram atau meningkat tipis 0,39% dibandingkan bulan sebelumnya, meski masih turun 4,18% secara tahunan.

Kondisi itu membuat program SPHP dan bantuan pangan tetap menjadi instrumen penting untuk meredam tekanan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Amran mengatakan pemerintah akan memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga meski kondisi iklim dan harga beras global mengalami perubahan.

"Kesiapan pangan kita selesai. (Meskipun) harga beras dunia naik, salah satu di Jepang (sampai) Rp100 ribu per kilo. (Tapi) ada yang mengatakan, jangan bandingkan. Kalau tidak ada beras, bagaimana? Satu, (bisa) kelaparan rakyat Indonesia. Kita pastikan itu tidak terjadi," katanya menegaskan.

Produksi Beras Jadi Kunci Hadapi El Nino

Selain cadangan pemerintah, perkembangan produksi dalam negeri akan menentukan seberapa kuat Indonesia melewati periode El Nino tanpa tekanan pasokan yang berlebihan.

BPS mencatat produksi beras untuk konsumsi penduduk pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 2,47 juta ton, meningkat 6,96% dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 2,31 juta ton. Produksi padi pada periode yang sama mencapai sekitar 4,29 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 7,02% secara tahunan.

Pemerintah sebelumnya juga menyatakan stok CBP saat memasuki musim kemarau jauh lebih besar dibandingkan ketika menghadapi El Nino pada 2023. Pada 22 Juli 2026, stok tercatat sekitar 5,24 juta ton, sedangkan menjelang puncak El Nino 2023 hanya sekitar 1,52 juta ton.

Namun tantangan belum berakhir. BMKG memperingatkan El Nino yang berlangsung bersamaan dengan musim kemarau dapat memperkuat kondisi kering, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan. Dampaknya terhadap ketersediaan air dan produksi pertanian tetap perlu diantisipasi meskipun posisi cadangan beras pemerintah saat ini relatif kuat.

Dengan stok CBP sekitar 5,1 juta ton, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk melakukan intervensi apabila produksi terganggu atau harga kembali meningkat. Efektivitas distribusi SPHP, bantuan pangan, penyerapan hasil panen petani, serta kemampuan menjaga produksi selama El Nino akan menjadi penentu agar tingginya stok benar-benar berdampak pada stabilitas harga dan ketersediaan beras bagi masyarakat.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Andi Amran Sulaiman, Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Pangan Nasional (Bapanas), stok beras bulog, dan El-Nino dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.