Periskop.id – Pemerintah mulai membidik peluang ekspor beras ke Malaysia dan Singapura di tengah kenaikan harga komoditas tersebut di pasar global. Namun, rencana ekspor masih berada dalam tahap negosiasi dan baru akan dijalankan setelah kebutuhan serta stabilitas harga di dalam negeri dipastikan aman.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, kenaikan harga beras dunia dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperluas pasar setelah produksi nasional dan cadangan pemerintah berada pada level tinggi.
"Indonesia akan mengambil celah saat harga beras dunia naik, Indonesia pasti akan mengambil celah ke sana karena ada beberapa negara minta impor. Sementara negosiasi," kata Amran di Medan, Sumatera Utara, Kamis, (16/7).
Harga kontrak beras kasar dunia tercatat sebesar US$13,75 per hundredweight pada perdagangan 15 Juli 2026. Satuan tersebut setara sekitar 45,36 kilogram, bukan satu kuintal metrik. Pada 16 Juli, harganya kembali naik menjadi US$13,93 per hundredweight, menguat 16,76% dalam satu bulan dan 11,26% secara tahunan.
Kenaikan harga dipengaruhi kekhawatiran terhadap cuaca kering dan potensi El Nino yang dapat mengganggu produksi negara-negara pemasok. Reuters mencatat harga beras di sejumlah pusat ekspor Asia Tenggara telah meningkat sekitar 15% dalam sebulan akibat kenaikan biaya produksi dan kekhawatiran pasokan mengetat.
Meski pasar global bergejolak, Amran mengeklaim harga beras di Indonesia masih terkendali karena ditopang produksi dan stok pemerintah. Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton, naik tipis 0,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Adapun cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog tercatat sekitar 5,2 juta ton per 8 Juli 2026. Angka itu sedikit turun dari posisi 5,3 juta ton pada awal Juni, tetapi masih berada pada level tertinggi dalam sejarah pengelolaan stok beras pemerintah.
Data Badan Pangan Nasional juga menunjukkan rata-rata harga beras medium pada 14 Juli masih berada di bawah harga eceran tertinggi di tiga wilayah. Harga di Zona I tercatat Rp13.161 per kilogram, Zona II Rp13.758 per kilogram, dan Zona III Rp15.316 per kilogram.
Bulog Siapkan 200 Ribu Ton Beras
Perum Bulog sebelumnya menyatakan telah menyiapkan sekitar 200 ribu ton beras premium dengan tingkat pecahan lima persen untuk memenuhi permintaan ekspor. Pasokan itu berpotensi dikirim ke Malaysia, Singapura, maupun Uni Emirat Arab apabila kesepakatan dagang tercapai.
Pemerintah tengah membahas rencana pengiriman sekitar 200 ribu ton beras ke Malaysia. Sementara itu, Indonesia menawarkan ekspor sedikitnya 10 ribu ton kepada Singapura dalam pertemuan bilateral pada akhir Juni 2026.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pembahasan lanjutan diperlukan untuk memastikan harga dan skema perdagangan memberikan keuntungan kepada petani serta negara.
"Kita segera tindak lanjuti atas perintah Bapak Mentan untuk langsung mengejar bola ke Malaysia maupun ke Singapura, untuk tindak lanjuti kepastian harga dan lain sebagainya," kata Rizal.
Namun, kesepakatan dengan kedua negara belum bersifat final. Bulog masih menunggu kesiapan Pemerintah Malaysia untuk melakukan pembahasan langsung, sedangkan rincian harga dan jadwal pengiriman ke Singapura juga masih dinegosiasikan.
Rencana tersebut akan menambah daftar ekspor beras Indonesia setelah sebelumnya mengirimkan 2.280 ton beras premium senilai Rp38 miliar ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji Indonesia.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan ekspor hanya dapat dilakukan setelah pemerintah memastikan cadangan nasional mencukupi.
“Semua ekspor dihitung secara cermat. Jangan sampai kebutuhan dalam negeri justru terganggu,” tegas Sudaryono.
Menurut Amran, peningkatan produksi tetap menjadi fokus utama agar Indonesia dapat mempertahankan swasembada sekaligus memanfaatkan peluang pasar internasional. Pemerintah juga akan memperluas hilirisasi komoditas agar ekspor pertanian tidak hanya bergantung pada produk mentah.
"Arahan Bapak Presiden tingkatkan produksi pertahankan swasembada, kemudian lakukan hilirisasi pada sektor perkebunan, hortikultura dan peternakan," tandasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar