Periskop.id - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan nilai ekspor kopi Indonesia menembus Rp100 triliun per tahun. Target itu akan dikejar melalui peningkatan produksi, penguatan hilirisasi, perluasan pasar ekspor, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, nilai ekspor kopi Indonesia saat ini telah mencapai sekitar Rp40 triliun pada 2025. Ia menilai potensi kopi nasional masih sangat besar untuk terus dikembangkan hingga mampu menghasilkan nilai ekspor yang lebih tinggi.

"Sekarang nilai ekspor kopi kita sudah mencapai sekitar Rp40 triliun (pada tahun 2025). Ke depan harus kita dorong menjadi Rp100 triliun, bahkan kalau bisa Rp200 triliun. Potensinya sangat besar," kata Amran saat melakukan inspeksi mendadak di kawasan pembibitan kopi Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7).

Sidak tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas bibit kopi yang akan menjadi fondasi peningkatan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing Kopi Gayo di pasar internasional. Pembibitan juga dinilai berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.

Amran menjelaskan, kualitas bibit unggul menjadi faktor utama dalam membangun kebun kopi yang produktif. Menurutnya, pembibitan di lokasi tersebut telah dikelola dengan baik berkat pendampingan berbagai pihak.

"Kami sangat puas. Pembibitannya sangat bagus, betul-betul dikawal. Saya mengapresiasi direktur, jajaran di wilayah Aceh, dan para PPL (penyuluh pertanian lapangan) yang bekerja dengan baik mendampingi petani," ucap Amran.

Ia mengungkapkan, pemerintah telah mengalokasikan bantuan pengembangan kopi di Aceh seluas sekitar 17 ribu hektare dengan total 17 juta batang bibit kopi. Berdasarkan laporan pemerintah daerah, program tersebut diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan pekebun hingga Rp4 triliun.

Menurut Amran, pemerintah akan melanjutkan dukungan pengembangan kopi pada tahun depan. Ia menekankan, tanaman harus dirawat dengan baik agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh petani.

Selain produksi, Amran menilai pengakuan dunia terhadap Kopi Gayo menjadi modal besar untuk memperluas pasar ekspor. Menurutnya, pengalaman itu pernah ia rasakan saat melakukan kunjungan kerja ke Meksiko dan Argentina.

"Kopi ini sudah mendunia. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina, saya bertemu Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton. Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia. Karena itu kita harus terus membantu petani kopi, termasuk di Aceh," katanya.

Lebih lanjut, Amran menyebut penguatan sektor hulu melalui penyediaan bibit berkualitas menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat posisi Kopi Gayo di pasar global. Ia juga menyoroti kenaikan harga kopi yang kini mencapai sekitar Rp110 ribu per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp50 ribu per kilogram sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurutnya, pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan penguatan sistem ekspor nasional. Sistem tersebut diharapkan mampu memperbesar posisi tawar Indonesia sehingga tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memiliki nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan negara.

"Potensinya sangat besar. Masyarakatnya pekerja keras, pemerintah daerah juga sangat mendukung. Karena itu, tahun depan kita bantu lagi agar Kopi Gayo semakin maju dan petaninya semakin sejahtera," imbuh Amran.