Nasional

Prabowo: Syubbanul Wathon Bukti Nasionalisme NU Sebelum Proklamasi

Prabowo menyebut lagu Syubbanul Wathon sebagai bukti nasionalisme NU jauh sebelum proklamasi kemerdekaan.

3 jam yang lalu · 2 mnt baca
prabowo, mukhtamar nu
Presiden Prabowo Subianto dalam Mukhtamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Jombang, Kamis (27/8). Tangkapan layar Periskop.id
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menyebut Nahdlatul Ulama (NU) sebagai institusi bersejarah yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan. Ia menyampaikan hal itu dalam amanat pada seremoni pembukaan Muktamar Ke-35 NU di Lapangan Untung Suropati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis sore.

"Ini kehormatan besar bagi saya. Nahdlatul Ulama adalah institusi yang bersejarah, sangat besar jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Prabowo.

Dari titik itu, Prabowo menunjuk satu bukti yang menurutnya paling terang, yaitu Syubbanul Wathon, lagu yang kini melekat sebagai lagu resmi NU.

"Lagu ini bisa dikatakan adalah lagu patriotik, lagu nasionalis, lagu yang dibuat oleh kelompok religius tapi semangatnya adalah semangat cinta tanah air dan semangat nasionalisme yang luar biasa," ujarnya.

Prabowo menekankan konteks waktu penciptaannya kepada peserta muktamar, terutama generasi muda. Lagu itu digubah KH Abdul Wahab Hasbullah belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan, saat gagasan tentang negara merdeka masih samar.

"Pada waktu itu kita juga belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas," ujar Prabowo.

Menurut dia, para pemimpin religius kala itu tetap berani menulis lagu yang patriotik dan nasionalis. Ia lalu melantunkan satu bait lagu tersebut, bait yang menautkan cinta tanah air dengan keimanan dan menyerukan agar bangsa Indonesia bangkit.

Seruan bangkit itu ia baca sebagai cita-cita para pendiri NU, yakni agar Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

"Bangsa yang terhormat adalah bangsa yang adil dan makmur. Tidak ada bangsa yang dihormati kalau dia tidak makmur," ujarnya.

"Dan tidak ada kemakmuran tanpa keadilan," ujar Prabowo.

Prabowo menutup amanatnya dengan singkat. Ia menyatakan rasa bangga dan terima kasih, lalu mengucapkan selamat bermuktamar kepada para peserta.

"Nahdlatul Ulama selalu hadir dan Nahdlatul Ulama yang menentukan stabilitas keamanan, perdamaian, dan masa depan bangsa Indonesia," ujarnya.

Amanat presiden dijadwalkan sebagai bagian akhir seremoni pembukaan, setelah khutbah iftitah yang disampaikan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar dan sambutan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut hadir dalam seremoni tersebut, bersama Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin, serta Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Muktamar Ke-35 NU berlangsung pada 27 sampai 31 Agustus 2026. Agenda paling menentukan dijadwalkan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, yakni pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi, penetapan Rais Aam, dan pemilihan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026 sampai 2031.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Prabowo Subianto, dan Nahdlatul Ulama (NU) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.