BGN Coret 80 Sekolah Elite dari Program MBG
BGN mencoret sekitar 80 sekolah swasta elite dari daftar penerima Makan Bergizi Gratis. Sekolah berasrama seperti Taruna Nusantara juga dikecualikan.

Periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) resmi mengeluarkan sekitar 80 sekolah dari daftar penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekolah-sekolah yang dicoret merupakan lembaga pendidikan swasta elite se-Indonesia yang dinilai sudah tak lagi membutuhkan bantuan tersebut.
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, langkah ini merupakan bagian dari penyisiran penerima manfaat MBG agar anggaran negara tersalur lebih tepat sasaran. Menurutnya, status penerimaan sebuah sekolah terhadap program MBG berkaitan langsung dengan efektivitas alokasi dana.
"Sekarang ini kan kita sudah sisir, beberapa sekolah swasta yang memang swasta elit kan, yang saya kira tidak membutuhkan MBG, nah itu beberapa sudah ada 80an sekolah itu se-Indonesia, yang kemudian sekolah swasta khususnya, itu kemudian kita exclude untuk tidak terima MBG," kata Sudaryono di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (28/8).
Pengecualian ternyata tidak berhenti pada sekolah swasta elite semata. Sekolah-sekolah berasrama yang sudah memiliki program pemenuhan gizi sendiri juga masuk daftar yang dikeluarkan dari skema MBG, karena kebutuhan gizi siswanya dianggap sudah tercukupi lewat program internal masing-masing.
"Termasuk sekolah seperti kan sekolah-sekolah berasrama kan ada banyak nih, seperti sekolah saya dulu SMA Taruna Nusantara kan tidak kemudian mendapatkan MBG, karena itu sudah menjadi bagian dari kegiatan mereka sendiri-sendiri kan," ujar Sudaryono.
Kebijakan pencoretan ini, menurut Sudaryono, sudah berjalan dan bisa dipantau langsung oleh masyarakat. BGN menyediakan sistem bernama Radar MBG untuk mengecek status penerimaan setiap sekolah.
Masyarakat cukup memasukkan nama sekolah ke laman Radar MBG untuk mengetahui apakah lembaga tersebut masih terdaftar sebagai penerima atau sudah dikecualikan. Sudaryono menyebutkan sejumlah contoh sekolah yang bisa langsung dicek publik.
"Sudah (berjalan), Anda bisa cek di radar MBG, cek saja, misalnya masukkan aja sekolah misalnya JIS atau Cikal, atau Taruna Nusantara atau Kemala Bhayangkari, Taruna Bhayangkara misalnya, nanti di dalam radar MBG ada keterangan tidak mendapatkan alokasi MBG," tutur Sudaryono.
Radar MBG sendiri menjadi alat transparansi BGN dalam menjalankan program tersebut. Lewat sistem ini, publik bisa mengawasi langsung penyaluran bantuan gizi ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia tanpa perlu menunggu laporan resmi lembaga.
Program MBG memang dirancang untuk menyasar kelompok yang paling membutuhkan dukungan gizi tambahan. Penyisiran penerima seperti yang dilakukan BGN kali ini menjadi bagian dari upaya menjaga agar anggaran negara tidak mengalir ke pihak yang sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Sudaryono, dan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.