Nasional

Gunung Sinabung Erupsi, Abu Vulkanik Membubung 3,5 Km

Gunung Sinabung di Karo meletus Senin pagi dengan kolom abu setinggi 3,5 kilometer. Badan Geologi minta warga jauhi zona bahaya dan waspada lahar dingin.

1 hari yang lalu · 2 mnt baca
gunung sinabung
Kondisi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara hasil pemantauan tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Jumat (22/5/2026). dok. Badan Geologi
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meletus hebat pada Senin pagi. Letusan itu memuntahkan kolom abu vulkanik tebal setinggi sekitar 3.500 meter atau 3,5 kilometer di atas puncak.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Lana Saria melaporkan, erupsi mulai terekam pukul 10.17 WIB dan masih berlangsung hingga keterangan tersebut disampaikan. Ia memaparkan kondisi kolom abu serta data seismik yang tercatat dari letusan tersebut.

"Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 120 mm dan durasi sementara ini kurang lebih 1 jam 1 menit 48 detik," kata Lana Saria dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (31/8).

Status aktivitas Sinabung, menurut Lana, masih berada di Level II atau Waspada. Meski begitu, letusan kali ini tergolong signifikan dilihat dari tinggi kolom abu dan durasi rekaman seismiknya.

Menyikapi kondisi tersebut, Badan Geologi merilis sejumlah rekomendasi bagi masyarakat sekitar. Warga maupun wisatawan diminta tidak beraktivitas di desa-desa yang sebelumnya sudah direlokasi akibat ancaman Sinabung.

Larangan beraktivitas juga berlaku di zona bahaya dengan radius tiga kilometer dari puncak gunung. Untuk sektor selatan-timur, radius larangan diperluas menjadi 4,5 kilometer mengingat arah sebaran abu dominan ke sana.

Ancaman lain yang perlu diwaspadai warga adalah potensi banjir lahar dingin. Badan Geologi mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai berhulu di Gunung Sinabung agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan turun.

Lahar dingin bisa terbentuk dari material vulkanik yang mengendap di lereng gunung, lalu terbawa arus sungai ketika hujan deras mengguyur kawasan puncak. Risiko ini kerap muncul pasca-erupsi gunung api aktif seperti Sinabung.

Badan Geologi turut meminta Pemerintah Kabupaten Karo untuk terus berkoordinasi secara aktif dengan Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung. Koordinasi itu juga melibatkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) demi memantau perkembangan aktivitas vulkanik terkini secara berkelanjutan.

Pemantauan intensif dinilai penting mengingat status Sinabung yang masih fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir. Data dari pos pengamatan dan PVMBG menjadi acuan utama dalam menentukan langkah mitigasi lanjutan di wilayah terdampak.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.