Nasional

Kemenbud Rilis 5 Jilid Sejarah Indonesia, Bisa Diakses Digital

Kemenbud meluncurkan lima jilid Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Buku disusun 123 pakar dan tersedia melalui Pustaka Budaya

18 jam yang lalu · 5 mnt baca
Kemenbud Rilis 5 Jilid Sejarah Indonesia, Bisa Diakses Digital
Kementerian Kebudayaan RI meluncurkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global sebanyak lima jilid. dok. Periskop.id/ AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi membuka akses publik terhadap lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, Senin (31/8/2026). Seri tersebut menawarkan pembacaan sejarah dari perspektif Indonesia, mulai dari akar peradaban Nusantara hingga terbentuknya negara kolonial pada abad ke-19.

Peluncuran ini menjadi tahap terbaru dari proyek pembaruan historiografi nasional yang melibatkan 123 pakar dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga nonperguruan tinggi. Mereka berasal dari berbagai disiplin, mulai dari sejarah, arkeologi, filologi, epigrafi hingga penelitian lintas bidang. Tim editor umum antara lain terdiri dari Susanto Zuhdi dari Universitas Indonesia, Singgih Tri Sulistiyono dari Universitas Diponegoro, dan Jajat Burhanudin dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, penyusunan buku tersebut menjawab kebutuhan untuk menghadirkan kembali sejarah Indonesia dalam narasi yang lebih luas.

“Karya menunjukkan ini menjadi jawaban atas inspirasi panjang terutama para sejarawan dan organisasi menghadirkan penutup akhiran secara nasional, secara kompetensi,” ujar Fadli Zon dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Menurut Fadli, pemerintah memberikan ruang kepada para penulis untuk menentukan substansi buku tanpa intervensi dalam proses akademiknya.

“Sejak awal proses penyusunan, Kementerian Kebudayaan secara konsisten menempatkan diri sebagai konsultator substansi, ideologi, dan narasi untuk diserahkan kepada para sejarah. Secara independen kepada tim penulis untuk menjaga kreativitas, kebebasan akademik, dan prinsip. Dan seharusnya jelas, negara juga bertugas untuk menjamin warga, pencarian, pekerjaan, pengayaan, pengaman sejarah,” bebernya. 

Dari Manusia Purba hingga Negara Kolonial

Lima jilid yang diluncurkan membawa pembaca menelusuri sejarah Indonesia secara kronologis sekaligus tematis. Jilid I, Akar Peradaban Nusantara, membahas kehidupan manusia purba, migrasi, adaptasi lingkungan, teknologi awal hingga tradisi maritim Nusantara. Buku ini turut mengulas Homo erectus, Homo floresiensis, lukisan cadas Sulawesi, hingga pengelolaan hutan sagu yang sudah berlangsung ribuan tahun. Pustaka Budaya mencatat jilid pertama terdiri dari 1.252 halaman.

Jilid II, Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan Budaya dengan India, Tiongkok dan Persia, terdiri dari 1.260 halaman. Buku ini menyoroti kerajaan, perdagangan maritim, pertukaran budaya, serta posisi aktif masyarakat Nusantara dalam jaringan ekonomi dunia.

Sementara Jilid III, Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah, memiliki 902 halaman dan menelusuri keterhubungan Nusantara dengan dunia Islam sejak sekitar abad ke-7 melalui perdagangan Samudra Hindia, kemunculan komunitas Muslim, lahirnya kesultanan hingga akulturasi hukum dan budaya.

Jilid IV, Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi, terdiri dari 908 halaman. Bagian ini membahas masuknya Portugis, Spanyol, Belanda dan kekuatan Eropa lainnya, sekaligus menunjukkan bagaimana Aceh, Gowa, Mataram, Ternate dan Tidore tidak sekadar menjadi objek kolonialisme, tetapi melakukan diplomasi, aliansi, kompetisi hingga perlawanan.

Adapun Jilid V, Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial 1800-1900, setebal 882 halaman, mengulas perubahan setelah runtuhnya VOC. Bahasannya mencakup sistem tanam paksa, pajak, pembangunan infrastruktur, hukum kolonial, kehidupan agama, perlawanan lokal hingga tumbuhnya benih kesadaran nasional.

Berdasarkan jumlah halaman yang tercantum di Pustaka Budaya, lima jilid yang sudah tersedia mencapai sedikitnya 5.204 halaman.

Fadli Zon: Indonesia Jadi Subjek Sejarah

Salah satu gagasan utama yang dibawa dalam seri baru tersebut adalah pendekatan Indonesia-sentris. Pemerintah ingin narasi sejarah tidak lagi menempatkan bangsa Indonesia semata-mata sebagai objek dari tindakan bangsa asing.

“Buku ini menempatkan Indonesia sebagai subyek aktif, Indonesia setris, Indonesia perspektif, bukan kolonial perspektif,” tegasnya.

Pendekatan itu dapat dilihat dari deskripsi lima jilid pertama. Dalam pembahasan mengenai masuknya pengaruh India, China, Persia, Timur Tengah hingga Eropa, masyarakat dan kerajaan Nusantara digambarkan sebagai aktor yang melakukan seleksi, adaptasi, diplomasi, perdagangan maupun perlawanan, bukan hanya penerima pengaruh dari luar.

Fadli juga ingin sejarah tidak dipahami sebatas kumpulan nama tokoh dan tahun kejadian. Buku tersebut dirancang untuk mendorong pembaca melihat hubungan sebab-akibat, perubahan sosial, serta berbagai perspektif dalam perjalanan bangsa.

10 Jilid Utama Ditambah Satu Buku Pendamping

Terdapat perbedaan penyebutan jumlah jilid dalam sejumlah pemberitaan. Secara struktur, proyek ini terdiri dari 10 jilid utama dan satu jilid Faktaneka dan Indeks, sehingga keseluruhan seri berjumlah 11 jilid. Jilid terakhir berfungsi sebagai pendamping untuk memudahkan pencarian fakta dan informasi dalam keseluruhan seri.

Naskah lengkap yang diperkenalkan sebelumnya pada 14 Desember 2025 mencapai sekitar 7.958 halaman. Karena itu, peluncuran pada 31 Agustus 2026 lebih tepat dipahami sebagai pembukaan akses terhadap lima jilid pertama yang telah melewati proses pemutakhiran, penyuntingan, penataan desain hingga penyelesaian aspek hak cipta foto.

Keterangan terbaru menyebut bagian berikutnya, yakni jilid 6 hingga 11, dijadwalkan menyusul sekitar September-Oktober 2026.

Proses finalisasi memang memakan waktu lebih panjang. Menurut Fadli, tantangannya tidak hanya berada pada teks, melainkan juga penyuntingan, tata letak serta penyelesaian hak cipta ribuan foto yang digunakan sebagai materi visual.

Bisa Dibaca melalui Pustaka Budaya

Berbeda dengan buku fisik yang dicetak terbatas dan diarahkan antara lain untuk perpustakaan, versi digital dibuka bagi masyarakat melalui Pustaka Budaya, portal resmi Direktorat Sejarah dan Permuseuman Kemenbud.

Portal tersebut saat ini mencantumkan kelima jilid dalam status tersedia. Sistemnya menggunakan mekanisme peminjaman digital dengan masa akses 30 hari. Pustaka Budaya juga menyediakan pembaca digital serta sistem proteksi dokumen untuk menjaga integritas naskah.

Kemenbud menyatakan pengamanan dokumen digital penting agar naskah sejarah tidak mudah dimanipulasi maupun diubah oleh pihak yang tidak berwenang.

Berpotensi Memengaruhi Pelajaran Sejarah di Sekolah

Kehadiran seri baru ini diperkirakan tidak berhenti sebagai referensi akademik. Salah satu editor buku sekaligus Guru Besar Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Agus Suwignyo, menilai temuan dan perspektif baru dalam buku tersebut berpotensi memengaruhi materi sejarah yang dipelajari siswa.

“Pasti akan ada perubahan, pelan-pelan secara bertahap. Siswa perlu mengetahui pengetahuan sejarah yang belum pernah diperkenalkan sebelumnya,” kata Agus.

Agus sekaligus berharap publik tidak menerima buku tersebut sebagai narasi yang tertutup dari kritik. Menurutnya, penerbitan seri sejarah justru semestinya memunculkan perdebatan akademik dan pembacaan kritis di masyarakat.

“Saya pribadi akan senang nanti peluncuran ini akan memancing diskusi-diskusi di ruang publik, di komunitas-komunitas, di perguruan tinggi, di sekolah mengenai sejarah Indonesia,” ujarnya.

Hal itu penting karena penulisan sejarah nasional selalu berhadapan dengan pertanyaan mengenai pemilihan peristiwa, tokoh, sumber dan perspektif yang digunakan. Kehadiran 123 pakar dari berbagai disiplin dan institusi memberi ruang untuk memperluas narasi, tetapi sekaligus membuat buku tersebut terbuka untuk diuji, dibandingkan dan dikritik berdasarkan penelitian sejarah lainnya.

Dengan akses digital yang kini dibuka kepada masyarakat, lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global tidak hanya menjadi proyek penerbitan pemerintah. Buku-buku tersebut kini masuk ke ruang publik, tempat interpretasi tentang masa lalu Indonesia dapat dibaca, diperdebatkan, dan terus diperbarui berdasarkan temuan akademik baru.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Fadli Zon, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Buku Sejarah Indonesia, dan budaya indonesia dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.