Nasional

Profil Gus Kikin: Dari Laut ke Tebuireng hingga Menakhodai PBNU

Profil lengkap KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Ketum PBNU 2026-2031. Dari keluarga KH Hasyim Asy'ari, pelaut, pengusaha hingga Pengasuh Tebuireng

2 jam yang lalu · 9 mnt baca
gus kikin
Ketyua Umum PBNU terpilih dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). dok.Pesantren Tebuireng Jombang
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Jalan hidup KH Abdul Hakim Mahfudz tidak sepenuhnya mengikuti bayangan lazim seorang putra pesantren. Ia lahir di tengah keluarga ulama, belajar agama sejak kecil, tetapi kemudian memilih pendidikan pelayaran, bekerja di perusahaan kapal, terjun ke dunia usaha, dan menghabiskan puluhan tahun membangun karier profesional.

Hampir empat dekade kemudian, kehidupan justru membawanya kembali ke tempat dari mana tradisi keluarganya bermula: pesantren.

Pada Senin pagi, 31 Agustus 2026, perjalanan panjang itu mencapai babak baru. Sembilan kiai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, secara mufakat memilih pria yang akrab disapa Gus Kikin itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031. 

Sebelumnya, ia menjadi calon dengan dukungan penjaringan terbesar, yakni 472 suara. Ada sedikit ironi yang menarik: seorang pria yang pernah menempuh pendidikan pelayaran kini benar-benar menjadi "nahkoda" organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Tumbuh di Simpul Tiga Pesantren Besar

Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum. Arsip resmi Pesantren Tebuireng dan profil NU Jawa Timur pada 2024 sama-sama mencatat tanggal tersebut. Beberapa publikasi NU terbaru menuliskan tahun 1959, tetapi catatan institusional yang lebih lama konsisten mencatat 1958.

Ayahnya, KH Mahfudz Anwar, merupakan ulama yang dikenal menguasai fikih, tafsir, gramatika Arab, dan ilmu falak. Keluarga dari jalur ayah tersambung dengan KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang, Jombang.

Garis keluarga ibunya tidak kalah kuat. Nyai Abidah Ma'shum merupakan putri KH Ma'shum Ali dan Nyai Khoiriyah Hasyim. KH Ma'shum Ali dikenal sebagai ahli falak sekaligus penulis Amtsilah at-Tashrifiyah, sedangkan Nyai Khoiriyah adalah putri sulung Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, pendiri NU dan Pesantren Tebuireng.

Artinya, Gus Kikin adalah cicit KH Hasyim Asy'ari. Dari dua jalur keluarga itu pula dirinya terhubung erat dengan tiga lingkungan pesantren bersejarah di Jombang: Tebuireng, Seblak, dan Paculgowang. NU Jatim bahkan pernah menggambarkannya sebagai semacam "tali simpul" ketiga pesantren tersebut.

Dalam kehidupan keluarga, Gus Kikin menikah dengan Nyai Hj Lelly Lailyah. Pasangan tersebut dikaruniai dua anak, yakni Ning Dewi Adzroti dan Gus Yusuf Adnan. Yusuf Adnan kemudian ikut aktif dalam struktur NU dan tercatat sebagai Wakil Bendahara PWNU Jawa Timur masa khidmah 2024-2029.

gus kikin
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. dok pri

Santri yang Justru Memilih Dunia Pelayaran

Agama memang menjadi pendidikan pertama Gus Kikin. Ia belajar langsung di bawah bimbingan orang tuanya di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel serta pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Jombang. Sejumlah catatan menyebut ia juga mempelajari ilmu falak dari ayahnya.

Pendidikan formalnya ditempuh di Jombang, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, SMP Negeri 1 Jombang hingga SMA Negeri 2 Jombang. Setelah masa sekolah, pilihan hidupnya bergerak menjauh dari jalur pendidikan keagamaan formal yang umum ditempuh banyak putra kiai.

Ia berangkat ke Jakarta untuk belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Jauh setelah memulai karier profesional, Gus Kikin kembali menempuh pendidikan tinggi dan menyelesaikan sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka.

Pilihan masuk dunia pelayaran kemudian membentuk salah satu sisi penting dalam karakternya: pengalaman mengelola organisasi, manusia, aset, dan bisnis yang kelak ikut dibawanya ketika kembali ke pesantren dan NU.

Dari Djakarta Lloyd sampai Bisnis Migas

Setelah pendidikan pelayaran, Gus Kikin bergabung dengan perusahaan pelayaran BUMN PT Djakarta Lloyd. NU Jatim mencatat ia pernah menjadi Kepala Cabang Cilegon serta Pimpinan Harian Cabang Medan dalam rentang 1980-1992.

Selepas dunia korporasi, ia mengembangkan usaha sendiri. Pada 1997, Gus Kikin mendirikan BBS Group, yang kemudian bergerak di sejumlah sektor. Profil terbaru NU menyebut bisnisnya berkembang antara lain pada transportasi, kontraktor, teknologi informasi, komoditas pinang dan minyak atsiri, hingga media penyiaran melalui PT Bama Berita Sarana.

Di sektor energi, namanya berkaitan dengan PT Energi Mineral Langgeng (EML), perusahaan migas nasional yang pernah memperoleh pengelolaan South East Madura Block. Ia juga pernah menjadi Ketua Bidang Energi Kadin Jawa Timur pada periode 2000-2013.

Fase inilah yang membuat profil Gus Kikin cukup berbeda dari banyak kiai struktural NU. Ia tidak hanya memahami tradisi pesantren, tetapi pernah hidup di dunia korporasi, logistik, investasi, media, dan energi.

Kelak, pengalaman itu terlihat dalam gagasannya soal ekonomi warga NU. Menjelang Muktamar 2026, ia melihat besarnya jumlah Nahdliyin sebagai kekuatan pasar yang selama ini belum sepenuhnya dikonsolidasikan.

"Semua ekonomi itu berbasis pasar. Nah, NU dengan jumlah warganya yang begitu besar sebenarnya akan menjadi pasar ekonomi," ujar Gus Kikin.

2016, Panggilan untuk Pulang ke Tebuireng

Salah satu titik balik terbesar dalam hidup Gus Kikin terjadi pada 2016. Saat itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah mulai memikirkan regenerasi kepemimpinan pesantren. 

Prosesnya tidak dilakukan mendadak. Lebih dari 200 anggota keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy'ari dikumpulkan dan dimintai pandangan mengenai sosok yang kelak dapat meneruskan kepengasuhan Tebuireng.

Hasil musyawarah keluarga mengarah kepada Gus Kikin. Ia kemudian diminta mendampingi Gus Sholah sekaligus mempelajari berbagai aspek pengelolaan Tebuireng.

"Januari 2016 saya diminta Gus Sholah membantu beliau dan bersiap. Kalau terjadi suksesi, kami diminta melanjutkan," tutur Gus Kikin kala mengenang proses tersebut.

Bagi seorang pria yang puluhan tahun berada di dunia profesional dan usaha, permintaan itu berarti perubahan besar. Ia mulai kembali ke lingkungan yang secara genealogis sebenarnya tidak pernah jauh darinya.

Ketika Gus Sholah wafat pada 2 Februari 2020, skenario regenerasi yang telah disiapkan empat tahun sebelumnya berjalan. Gus Kikin resmi menjadi Pengasuh ke-8 Pondok Pesantren Tebuireng.

Jejak langkah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Ketum PBNU 2026-2031. dok. Periskop.id

Membawa Cara Kerja Manajerial ke Pesantren

Menjadi pengasuh tidak membuat Gus Kikin meninggalkan seluruh pengalaman profesionalnya. Sebaliknya, salah satu ciri masa kepemimpinannya justru terlihat pada upaya memperkuat sistem dan manajemen pesantren.

Pada 2026, ketika melantik pimpinan unit pendidikan Tebuireng, ia menekankan regenerasi melalui proses yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan pengambilan keputusan berbasis data. Saat itu, Yayasan Hasyim Asy'ari menaungi belasan unit pendidikan dari sekolah, madrasah hingga Ma'had Aly.

Di masa kepemimpinannya, MA Sains Tebuireng Putri juga didirikan pada 2023. Jaringan Tebuireng terus berkembang hingga memiliki pesantren cabang di berbagai wilayah Indonesia, sementara Tebuireng Online mencatat jaringan Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng atau IKAPETE telah berkembang menjadi 18 pengurus wilayah dan 79 pengurus cabang pada masa kepengasuhannya.

Namun bagi Gus Kikin, modernisasi institusi tidak boleh menggeser fungsi sosial pesantren.

"Pesantren Tebuireng sejak awal tidak hanya fokus pada pendidikan ilmu pengetahuan semata, melainkan hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan masyarakat," ungkapnya akhir 2025 lalu. 

Pandangan tersebut menggambarkan dua sisi kepemimpinannya: pesantren harus kokoh secara agama, tetapi tidak boleh terputus dari problem nyata masyarakat.

Dari PWNU Jawa Timur ke Panggung Nasional

Karier organisasi Gus Kikin di NU berlangsung panjang sebelum dirinya sampai ke kursi Ketua Umum PBNU. Ia tercatat menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur pada 2008-2022. Pada 2022, ia masuk jajaran PBNU dengan tanggung jawab di bidang ekonomi. Kemudian pada Januari 2024, PBNU menunjuknya sebagai Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur.

Beberapa bulan kemudian, dalam Konferensi Wilayah XVIII NU Jawa Timur pada 3 Agustus 2024, Gus Kikin terpilih menjadi Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmah 2024-2029. Sebanyak 43 PCNU hadir dalam forum tersebut.

Dua tahun berselang, struktur PWNU dan PCNU se-Jawa Timur mendorongnya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Gus Kikin mengatakan pencalonan tersebut bukan ambisi yang sejak awal ia rancang. "Semula saya tidak ada niat untuk mencalonkan diri," serunya.  

Ia menerima pencalonan itu setelah menyebutnya sebagai penugasan dan amanah dari jajaran NU Jawa Timur. Dalam pemilihan Ketua PBNU di Muktamar ke-35, Gus Kikin memperoleh 472 suara, mengungguli KH Zulfa Mustofa 262 suara, KH Abdussalam Sochib 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258 suara, dan KH Abdul Ghaffar Rozin 155 suara di antara lima calon yang memenuhi persyaratan. 

Keputusan final kemudian berada di tangan Rais Aam terpilih bersama delapan anggota AHWA, yang akhirnya memilih Gus Kikin secara mufakat pada 31 Agustus 2026.

Bagaimana Afiliasi Politik Gus Kikin?

Di tengah hubungan historis NU dengan politik Indonesia, latar politik Ketua Umum PBNU selalu menjadi sorotan. Dalam kasus Gus Kikin, tidak ditemukan catatan yang menunjukkan dirinya menjadi pengurus atau kader resmi suatu partai politik.

Fakta bahwa ia lolos sebagai calon Ketua Umum PBNU juga relevan. Muktamar ke-35 menetapkan calon Rais Aam dan Ketua Umum harus menjalani masa jeda setidaknya satu tahun setelah aktif dalam jabatan politik sesuai Peraturan Perkumpulan NU.

Posisi publik Gus Kikin justru cukup eksplisit: NU tidak semestinya ditarik menjadi kendaraan politik praktis, meskipun organisasi tetap mempunyai tanggung jawab dalam politik kebangsaan.

"NU tidak bisa lepas dari politik, namun agendanya politik kebangsaan dan kemanusiaan," katanya menjelang Muktamar.

Setelah terpilih, ia kembali menegaskan NU merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan serta tidak boleh menjadi alat kepentingan politik tertentu. Dengan demikian, lebih tepat membaca posisi Gus Kikin sebagai tokoh NU dan masyarakat sipil, bukan representasi formal partai tertentu.

Presiden Prabowo Subianto (tengah) menghadiri acara penutupan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026). dok. BPMI Sekretariat Presiden

Qanun Asasi dan Obsesi Membawa NU Kembali ke Akarnya

Di balik pengalaman bisnisnya yang modern, salah satu gagasan paling menonjol Gus Kikin menjelang kepemimpinan nasional NU justru berangkat dari sebuah dokumen lama.

Ia menemukan dan mempelajari kembali Qanun Asasi, naskah fundamental KH Hasyim Asy'ari yang berisi pijakan dasar perjalanan NU. Gus Kikin ingin dokumen itu tidak sekadar ditempatkan sebagai warisan sejarah, tetapi kembali menjadi pedoman manhaj, fikrah, dan harakah organisasi pada abad kedua NU.

"Saya di Tebuireng itu menemukan naskahnya Qanun Asasi, bukunya Qanun Asasi," katanya sebelum Muktamar.

Di sinilah benang merah perjalanan Gus Kikin terlihat. Pendidikan pelayaran membawanya keluar dari pesantren. Dunia usaha memberinya pengalaman mengelola organisasi dan ekonomi. Tebuireng kemudian membawanya kembali kepada warisan para pendiri.

Ketika akhirnya memimpin PBNU, ia datang dengan dua bahasa sekaligus: bahasa tradisi dan bahasa manajemen.

Dari Warisan Nama Menuju Ujian Kepemimpinan

Menjadi cicit KH Hasyim Asy'ari tentu memberikan Gus Kikin modal historis yang besar. Namun nasab saja tidak cukup menjelaskan perjalanannya menuju kursi Ketua Umum PBNU.

Ia sampai ke titik itu setelah melewati laut, perusahaan negara, ruang bisnis, organisasi pengusaha, pesantren, PWNU Jawa Timur, dan PBNU. Pengalamannya terbentuk tidak hanya oleh kitab dan lingkungan kiai, tetapi juga oleh neraca perusahaan, struktur organisasi, sumber daya manusia, dan dinamika ekonomi.

Kini ujian terbesarnya justru dimulai. Gus Kikin harus memimpin NU setelah dinamika internal Muktamar, menyatukan berbagai kelompok, menjaga hubungan Syuriyah dan Tanfidziyah, menjauhkan jam'iyah dari tarikan politik praktis, sekaligus membuktikan bahwa gagasan kemandirian ekonomi dan kembali kepada Qanun Asasi dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Perjalanan hidupnya seolah bergerak melingkar. Dari pesantren, ia berangkat melihat dunia. Setelah puluhan tahun berada di luar, ia pulang untuk memimpin Tebuireng. Dan dari Tebuireng, kini amanah itu membawanya ke panggung yang jauh lebih besar: menakhodai PBNU hingga 2031.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Profil, dan muktamar NU dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.