Asap Karhutla Tekan Jarak Pandang Bandara Supadio Jadi Hanya 600 Meter
sap karhutla kembali mengganggu Bandara Supadio Pontianak. Jarak pandang hanya 600 meter, menyebabkan penerbangan tertunda, batal, hingga putar balik

Periskop.id - Hujan deras yang mengguyur Pontianak dan sekitarnya belum sepenuhnya membersihkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasional Bandara Internasional Supadio, Kalimantan Barat, kembali terganggu pada Rabu (16/9/2026) setelah jarak pandang di kawasan bandara turun menjadi sekitar 600 meter.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap jadwal penerbangan. Sebanyak 10 penerbangan mengalami penundaan dan empat penerbangan dibatalkan. Bahkan, terdapat pesawat yang terpaksa kembali ke bandara asal dan satu penerbangan lainnya dialihkan ke bandara lain.
General Manager Bandara Internasional Supadio Maya Damayanti mengatakan, asap karhutla masih menjadi kendala utama bagi aktivitas penerbangan.
"Asap kebakaran hutan dan lahan masih mengganggu operasional Bandara Supadio Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, setelah jarak pandang turun hingga 600 meter," kata Maya di Sungai Raya, Kubu Raya, Rabu (16/9).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pesawat tidak dapat menjalankan proses lepas landas maupun pendaratan seperti biasa. “Hari ini jarak pandang hanya 600 meter yang tidak memungkinkan pesawat untuk melakukan pendaratan dan penerbangan,” ujar dia.
Batik Air Putar Balik, Lion Air Dialihkan
Data operasional Bandara Supadio mencatat 10 penerbangan tertunda, terdiri atas lima penerbangan kedatangan dan lima keberangkatan. Empat penerbangan lainnya dibatalkan, masing-masing dua kedatangan dan dua keberangkatan. Di tengah gangguan tersebut, dua pesawat masih sempat lepas landas dan satu pesawat berhasil mendarat.
Jarak pandang yang rendah juga membuat penerbangan Batik Air ID 6228 rute Jakarta-Pontianak melakukan return to base (RTB) atau kembali ke bandara asal. Sementara Lion Air JT988 rute Batam-Pontianak harus dialihkan atau divert menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Maya menjelaskan perubahan operasional dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan. Jarak pandang merupakan salah satu faktor penting ketika pesawat melakukan pendekatan, pendaratan maupun lepas landas.
Pengelola Bandara Supadio sebelumnya juga menyatakan terus berkoordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia dan maskapai untuk memantau kondisi cuaca serta menentukan keputusan operasional penerbangan.
Empat Hari Sebelumnya 30 Penerbangan Batal
Gangguan pada Rabu bukan kejadian pertama selama periode kabut asap September.
Pada Sabtu (12/9/2026), kondisi bahkan lebih parah ketika jarak pandang di Bandara Supadio hanya berada pada kisaran 300-500 meter sejak pukul 05.00 hingga 16.00 WIB.
Akibatnya, sebanyak 30 penerbangan dibatalkan dalam satu hari, terdiri atas 15 penerbangan keberangkatan dan 15 kedatangan. Sejumlah penerbangan lainnya mengalami penundaan panjang karena aktivitas lepas landas maupun pendaratan tidak dapat dilakukan.
"Keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan bagi operasional penerbangan," kata Maya ketika itu.
Dibandingkan Sabtu, jarak pandang pada Rabu memang telah membaik menjadi sekitar 600 meter. Namun, asap yang masih bertahan menunjukkan hujan pada Selasa malam belum cukup untuk sepenuhnya memulihkan kondisi udara di sekitar Kubu Raya dan Pontianak.
Ribuan Hotspot Sempat Terdeteksi di Kalbar
Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah yang menghadapi tekanan karhutla cukup berat sepanjang September. BMKG Supadio pada 13 September mendeteksi sekitar 1.830 titik panas di seluruh Kalimantan Barat. Titik panas tersebut tersebar di berbagai kabupaten/kota dengan tingkat kepercayaan berbeda.
Kementerian Kehutanan sebelumnya juga mencatat Kalimantan Barat sebagai salah satu dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla bersama Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Pemadaman dilakukan melalui operasi darat, udara, patroli hingga Operasi Modifikasi Cuaca.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan sektor transportasi. BNPB mencatat pada awal September kualitas udara PM2.5 di Kalimantan Barat sempat berada pada kategori berbahaya dengan jarak pandang di bawah satu kilometer. Kondisi tersebut turut menyebabkan ribuan kasus gangguan pernapasan dan membuat kegiatan belajar dari rumah diperpanjang di sejumlah wilayah.
Reuters juga melaporkan krisis karhutla tahun ini telah menyebabkan kabut tebal di Kalimantan dan Sumatera, meningkatkan kasus gangguan pernapasan serta mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi.
Hujan Mulai Turun, tetapi Asap Belum Hilang
Hujan yang turun pada Selasa malam sebenarnya memberikan harapan kondisi kabut asap berangsur membaik. BMKG memperkirakan pertumbuhan awan hujan mulai lebih merata di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari, meskipun kondisi di Kabupaten Ketapang masih perlu mendapatkan perhatian.
Pemerintah juga memanfaatkan peluang pembentukan awan tersebut untuk Operasi Modifikasi Cuaca. Pada 14-15 September, penyemaian awan diarahkan antara lain ke Ketapang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Landak, Bengkayang dan Sambas untuk membantu pembasahan lahan serta menekan aktivitas kebakaran.
Namun, pengalaman di Bandara Supadio menunjukkan hujan satu malam belum otomatis menghilangkan konsentrasi asap yang telah terakumulasi selama berhari-hari.
Selama jarak pandang belum memenuhi persyaratan operasional masing-masing penerbangan, maskapai dapat mengambil keputusan berupa penundaan, pembatalan, kembali ke bandara asal maupun pengalihan penerbangan demi keselamatan.
Penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara Internasional Supadio pun disarankan memantau status penerbangan secara berkala melalui maskapai sebelum menuju bandara, mengingat kondisi kabut asap dan jarak pandang masih dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan karhutla.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai bandara, Kalimantan Barat, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.







Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.