banner-sheroes-yoga
Nasional

Anak Krakatau Tumbuh Cepat, PVMBG: Belum Berpotensi Picu Tsunami

PVMBG menyebut pertumbuhan Gunung Anak Krakatau berlangsung cepat, tetapi belum berpotensi mengalami keruntuhan yang memicu tsunami. Statusnya masih Level III Siaga

Anak Krakatau Tumbuh Cepat, PVMBG: Belum Berpotensi Picu Tsunami
Erupsi Gunung Anak Krakatau diambil dari Pulau Sertung Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. dok. PVMBG
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berlangsung relatif cepat. Kendati demikian, kondisi tubuh gunung saat ini dinilai belum mengkhawatirkan dari sisi potensi keruntuhan lereng yang dapat memicu tsunami seperti peristiwa 2018.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan bagian dari proses alami gunung api muda yang sedang membentuk kembali tubuhnya. Aktivitas erupsinya juga telah kembali pada karakteristik strombolian yang umumnya berlangsung singkat.

"Potensi erupsi masih ada, tetapi jangan terlalu dikhawatirkan karena ini memang bagian dari dinamika pertumbuhan Anak Krakatau yang merupakan gunung api muda yang sedang membentuk tubuhnya," kata Rita.

Namun, pernyataan PVMBG bahwa kondisi morfologinya belum berpotensi memicu tsunami bukan berarti Anak Krakatau bebas bahaya. Hingga Kamis (17/9/2026), gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi tidak teramati pada hari itu, tetapi kegempaan vulkanik dangkal masih tercatat.

PVMBG tetap melarang masyarakat, wisatawan, dan pelaku aktivitas laut memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas. Ancaman yang masih perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, hingga aliran lava jika erupsi kembali meningkat.

Mengapa Anak Krakatau Tumbuh Cepat?

Menurut Rita, pembentukan tubuh Anak Krakatau dipengaruhi kombinasi beberapa faktor geologi. Di antaranya kondisi tektonik regional Selat Sunda, sistem magma yang relatif terbuka, karakter magma dengan viskositas rendah atau lebih encer, serta tingginya frekuensi erupsi.

Perubahan arah zona subduksi dari wilayah Sumatera menuju Selat Sunda turut membentuk jalur yang memungkinkan magma bergerak menuju permukaan. Magma yang relatif cair kemudian lebih mudah keluar dan menumpuk sebagai material baru di tubuh gunung.

"Ini membuka jalur magma, sehingga magma ini tanpa hambatan berarti bisa naik ke atas. Ini menyebabkan suhu magma sangat tinggi dan cair, sehingga meleleh dan cepat membentuk tubuh gunungnya," papar Rita.

Gunung Anak Krakatau sendiri muncul di kompleks Krakatau pada akhir 1920-an dan terus mengalami fase pertumbuhan yang diselingi berbagai episode erupsi. Setelah keruntuhan tubuh pada Desember 2018, aktivitas erupsi berskala relatif rendah secara bertahap kembali membangun tubuh gunung. Badan Geologi mencatat fase konstruksi tersebut berlangsung hingga Desember 2023 sebelum aktivitas erupsi kembali muncul pada Juli 2026.

Kondisi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. dok.PVMBG

Tinggi Sekitar 150 Meter, Lereng Masih Landai

Salah satu faktor yang membuat PVMBG belum melihat ancaman keruntuhan besar saat ini adalah ukuran dan bentuk tubuh Anak Krakatau. Ketinggiannya sekarang diperkirakan masih sekitar 150 meter, sementara kemiringan lereng relatif landai. Kondisi itu berbeda dengan konfigurasi tubuh gunung menjelang keruntuhan besar pada 2018.

"Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau ini belum mengkhawatirkan bisa menjadi ancaman keruntuhan, karena tubuhnya sekarang ketinggiannya masih sekitar 150-an meter dan slope-nya (kemiringan lereng) juga masih landai. Jadi sekali lagi, saat ini kalau terjadi runtuhan itu tidak akan menyebabkan tsunami," ucap Rita.

Kajian ilmiah atas peristiwa 22 Desember 2018 menunjukkan keruntuhan lateral Anak Krakatau saat itu memang menjadi pemicu tsunami di Selat Sunda. Studi dalam Scientific Reports memperkirakan volume material yang runtuh sekitar 0,22-0,30 kilometer kubik dan menghasilkan run-up tsunami hingga sekitar 13 meter di sejumlah pantai Jawa dan Sumatera.

Penelitian lain di Nature Communications menunjukkan keruntuhan 2018 mengurangi ketinggian Anak Krakatau dari sekitar 320 meter menjadi 120 meter. Peristiwa tersebut memperlihatkan mengapa perubahan morfologi gunung terus menjadi salah satu parameter penting dalam pemantauan PVMBG.

Erupsi Menerus Sempat Berlangsung 25 Jam

Aktivitas Anak Krakatau sempat meningkat tajam pada awal September. Badan Geologi mencatat satu episode erupsi menerus berlangsung sejak 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB, atau sekitar 25 jam. Fenomena itu menyerupai lava fountain atau air mancur lava dan menghasilkan aliran lava.

Setelah episode tersebut berakhir, pola erupsi kembali didominasi tipe strombolian. Hingga 11 September pukul 06.00 WIB, PVMBG mencatat 14 kali erupsi strombolian. Meski kecenderungan aktivitas tertentu menurun, kegempaan yang berkaitan dengan suplai magma dari kedalaman masih terdeteksi sehingga peluang erupsi berikutnya tetap ada.

Pada 14 dan 15 September, Rita menyebut tidak ada letusan yang tercatat. Kondisi itu menjadi dasar penilaian bahwa pola aktivitas telah kembali mendekati karakter erupsi normal Anak Krakatau, tetapi pemantauan tetap dilakukan selama 24 jam.

BRIN: Masih dalam Fase Inkubasi

Penilaian mengenai kondisi Anak Krakatau juga datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Aditya Pratama mengatakan sistem gunung api tersebut saat ini diperkirakan masih berada dalam fase awal perkembangan menuju suatu siklus erupsi besar.

"Pada (Gunung) Anak Krakatau, ini diperkirakan masih pada fase inkubasi begitu ya. Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera forming eruption," kata Aditya dalam diskusi kebencanaan, Senin (14/9/2026).

Pernyataan itu merespons kekhawatiran mengenai kemungkinan letusan besar seperti Krakatau 1883. BRIN menekankan pembentukan erupsi kaldera merupakan proses panjang dengan sejumlah tahapan sehingga aktivitas Anak Krakatau saat ini tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi menjelang letusan besar tersebut.

Dengan demikian, pesatnya pertumbuhan fisik Anak Krakatau saat ini belum dinilai sebagai pertanda langsung tsunami maupun letusan pembentuk kaldera. Meski begitu, status Level III tetap menandakan aktivitas vulkanik yang membutuhkan kewaspadaan.

PVMBG memastikan perubahan kegempaan, deformasi dan morfologi gunung akan terus dipantau. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang, tetapi mengikuti informasi resmi serta mematuhi radius aman karena potensi erupsi Anak Krakatau masih terbuka.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau, dan tsunami dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.