banner-sheroes-yoga
Nasional

BMKG Prediksi Puncak Kemarau Bertahan hingga Oktober 2026

BMKG memperkirakan puncak kemarau di sejumlah wilayah RI masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026, dipengaruhi El Nino sangat kuat.

Sungai Cisadane, Kali Cisadane, Pintu Air 10, Bendungan Cisadane, kekeringan, sungai kering, sungai surut, musim kemarau, kemarau panjang, krisis air, dasar sungai, perubahan iklim, krisis lingkungan
Suasana Sungai Cisadane yang mulai mengering di Tangerang, Banten, Kamis (16/7/20236). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Kondisi ini disebut berpotensi memperpanjang risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, durasi musim kemarau tahun ini berkisar antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung wilayahnya. Menurutnya, sebanyak 437 Zona Musim yang mencakup 48,77% luas daratan Indonesia berpotensi mengalami kemarau yang lebih panjang.

"Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026," kata Faisal dalam keterangan resmi di laman BMKG, Kamis (17/9).

Ia menegaskan, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat hingga memasuki periode musim hujan. Faisal mengingatkan, sejumlah daerah saat ini masih mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Faisal memaparkan, kondisi musim kemarau turut dipengaruhi fenomena El Nino kategori sangat kuat. Fenomena ini, menurutnya, masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla dalam beberapa pekan ke depan.

BMKG mencatat, pada periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah. Angkanya berkisar 0-150 mm per dasarian.

Kondisi tersebut menandakan pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan masih terbatas. BMKG mengaitkan hal ini dengan pengaruh El Nino sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia, sehingga kondisi kering berpotensi berlanjut di sejumlah daerah.

El Nino yang berkembang kuat di Samudra Pasifik berpotensi bersinggungan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia sekitar September ini. Peneliti memperkirakan pertemuan dua anomali iklim tersebut dapat mengacaukan cuaca global maupun regional.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan ada 90% kemungkinan tahun 2026 menghasilkan El Nino terkuat dalam 150 tahun terakhir, bertepatan dengan munculnya IOD positif.

Ahli pemodelan iklim Institut Meteorologi Tropis India Ankur Srivastava menguraikan, sekitar sepertiga kejadian IOD positif dipicu oleh El Nino yang muncul lebih lambat di musim panas India, seperti yang terjadi tahun ini. IOD sendiri merupakan kontras suhu antara Samudra Hindia bagian barat dan timur yang memengaruhi curah hujan serta angin di negara-negara sekitarnya.

Srivastava menerangkan, dampak pertemuan El Nino dan IOD positif di Asia Selatan bergantung pada kekuatan masing-masing fenomena serta ada tidaknya fenomena cuaca lain dalam periode yang sama. Monsun India, menurutnya, sempat mengalami defisit curah hujan akibat El Nino selama Juli dan Agustus.

Jika IOD positif berkembang cukup kuat, fenomena itu disebut dapat memompa kelembapan dan menetralkan defisit curah hujan di akhir musim. Namun jika IOD positif tak menguat, India berisiko mengalami kekeringan berkepanjangan. Departemen Meteorologi India turut mengonfirmasi, efek El Nino telah mendominasi sejak awal monsun sehingga potensi pemulihan dari IOD positif kemungkinan hanya terbatas pada akhir musim.

Selain memicu defisit curah hujan, El Nino sangat kuat juga dapat mengakibatkan jeda monsun yang panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor apabila hujan berintensitas tinggi turun secara mendadak.

"Himalaya dan kaki bukitnya tetap sangat rentan terhadap curah hujan dan tanah longsor yang berdampak tinggi, bahkan di musim yang lebih kering dari rata-rata," kata Srivastava, melansir Nature, Selasa (8/9).

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan Musim Kemarau 2026 dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.