Labuan Bajo Pulihkan Pariwisata Pascagempa, Destinasi Tak Dibuka Sebelum Aman
BPOLBF dan pelaku wisata membahas pemulihan pariwisata Labuan Bajo pascagempa M7,7 dengan prinsip destinasi harus aman sebelum kembali dibuka

Periskop.id – Pemulihan pariwisata Labuan Bajo dan kawasan Flores pascagempa M7,7 dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan wisatawan. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menegaskan destinasi terdampak tidak akan buru-buru dibuka maupun dipromosikan sebelum kondisi di lapangan dinyatakan aman dan siap menerima kunjungan.
Pendekatan tersebut dibahas BPOLBF bersama pelaku usaha dan asosiasi pariwisata dalam Bincang Kepariwisataan di Labuan Bajo. Forum digelar untuk menghimpun kondisi terbaru destinasi, akses transportasi, akomodasi hingga aktivitas usaha setelah gempa Flores pada 15 Agustus 2026.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan data dari pelaku industri dibutuhkan agar pemerintah dapat menentukan langkah pemulihan berdasarkan kondisi faktual, bukan sekadar asumsi bahwa seluruh kawasan telah pulih.
“Informasi yang dihimpun meliputi kondisi dan kesiapan destinasi, aksesibilitas, fasilitas pendukung, hingga aktivitas usaha pariwisata. Data tersebut menjadi dasar dalam merumuskan langkah kolaboratif untuk mendukung pemulihan dan keberlanjutan pariwisata di Labuan Bajo dan Floratama,” tuturnya.
“Forum ini kami selenggarakan sebagai ruang untuk melihat secara langsung perkembangan kondisi kepariwisataan pascagempa, termasuk berbagai isu, perhatian, dan tren yang berkembang di lapangan,” ucapnya.
Terapkan Prinsip Safe Before Open
BPOLBF menerapkan prinsip safe before open dan ready before promote. Dengan pendekatan tersebut, destinasi yang terkena dampak gempa harus melewati pemantauan dan verifikasi sebelum kembali dibuka kepada wisatawan maupun dipromosikan sebagai lokasi yang siap dikunjungi.
“Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, kami memetakan kondisi destinasi, mulai dari destinasi yang mengalami kerusakan ringan hingga berat, destinasi yang masih ditutup sementara, serta destinasi yang telah dinyatakan aman dan kembali beroperasi,” ujarnya.
Langkah itu menjadi penting karena kondisi destinasi di Flores tidak seragam. Berdasarkan pembaruan BPOLBF hingga 23 Agustus, 29 desa wisata telah kembali menerima kunjungan, sedangkan 22 desa wisata lainnya masih tutup atau belum beroperasi dan sebagian masih menjalani verifikasi.
Di Manggarai Barat, aktivitas wisata relatif lebih cepat pulih. Taman Nasional Komodo, Gua Rangko, Batu Cermin, Puncak Waringin, Compang Liang Ndara dan sejumlah destinasi lainnya telah kembali beroperasi. Enam bandara utama di Flores, termasuk Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo, juga telah kembali melayani penerbangan.
Andhy sebelumnya mengingatkan bahwa pulihnya sebagian kawasan tidak berarti seluruh destinasi memiliki kondisi keamanan yang sama. “Pemulihan aktivitas wisata di sejumlah wilayah merupakan perkembangan positif. Namun, wisatawan tetap perlu melihat kondisi masing-masing destinasi karena situasinya berbeda-beda,” ucap Andhy.
Ribuan Wisatawan Tetap Berlayar ke Komodo
Aktivitas wisata di Labuan Bajo menunjukkan pemulihan relatif cepat setelah gempa. Data KSOP Kelas III Labuan Bajo yang dihimpun BPOLBF mencatat 308 kapal wisata membawa 3.651 penumpang pada 16 Agustus 2026, hanya sehari setelah gempa. Dari jumlah tersebut, 2.840 merupakan wisatawan mancanegara dan 811 wisatawan nusantara.
Pada hari yang sama, sekitar 1.381 wisatawan mengunjungi Padar Selatan, 328 wisatawan menuju Loh Liang di Pulau Komodo, 277 wisatawan berada di Loh Buaya Pulau Rinca dan 54 wisatawan mengunjungi Gili Lawa.
Namun, sejumlah fasilitas pariwisata memang terdampak. BPOLBF sebelumnya menemukan kerusakan dengan tingkat berbeda pada beberapa akomodasi di Manggarai Barat, mulai dari retakan ringan hingga kerusakan plafon dan fasad. Kerusakan minor juga tercatat di Puncak Waringin serta landmark sign Loh Liang di Pulau Komodo.
Gempa utama M7,7 terjadi pada 15 Agustus pukul 04.58 WIB dengan kedalaman 15 kilometer dan pusat gempa sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. BMKG mencatat gempa tersebut berasal dari aktivitas Flores Back-arc Thrust dan disusul ribuan gempa susulan. Hingga 20 Agustus pukul 05.00 WIB saja, BMKG telah mencatat 3.394 gempa susulan, dengan kekuatan antara M1,1 hingga M6,2.
Hotel Sebut Okupansi Mulai Meningkat
Sinyal pemulihan juga datang dari industri perhotelan. Perwakilan Hotel AYANA Komodo Waecicu Beach, Budi, menyampaikan operasional hotel setelah gempa berlangsung normal. Bangunan dan fasilitas disebut tetap berfungsi, sementara tingkat okupansi berada dalam kondisi normal dan menunjukkan tren meningkat.
Kondisi itu menjadi indikator penting karena pariwisata merupakan salah satu penggerak ekonomi utama Manggarai Barat. Sebelum gempa, kunjungan wisatawan Labuan Bajo terus bertumbuh. BPOLBF mencatat hingga Oktober 2025 saja terdapat 434.799 kunjungan wisatawan, dengan wisatawan mancanegara mendominasi terutama untuk perjalanan menuju Taman Nasional Komodo.
Pemerintah juga ingin pemulihan tidak hanya mengembalikan jumlah wisatawan, tetapi membuat industri lebih tangguh. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat berkunjung ke Labuan Bajo pada Jumat (28/8) membahas pengembangan destinasi alternatif di luar Pulau Komodo, termasuk Gua Rangko dan Pulau Kelor. Pemerintah daerah menyebut rata-rata lama tinggal wisatawan saat ini sekitar 2,8 hari dan ingin meningkatkannya menjadi tujuh hari.
Kunjungan Menpar tersebut sekaligus menjadi tindak lanjut pemulihan sektor pariwisata setelah pemerintah, industri dan asosiasi menyampaikan persoalan yang dihadapi pascagempa.
Pemerintah Siapkan Surat Kesiapan Labuan Bajo
BPOLBF dan Pemkab Manggarai Barat juga menyepakati penerbitan statement letter mengenai kondisi dan kesiapan pariwisata Labuan Bajo menerima wisatawan. Surat tersebut akan didasarkan pada hasil verifikasi dan asesmen terhadap destinasi, hotel serta operasional pelaku industri yang terdampak gempa.
Dokumen itu diharapkan menjadi rujukan resmi sehingga wisatawan dan pelaku usaha memperoleh informasi yang telah diverifikasi, sekaligus mengurangi risiko informasi keliru mengenai kondisi Labuan Bajo.
Pendekatan ini membuat fase pemulihan tidak sekadar mengejar kembalinya kunjungan wisatawan. Tantangan pemerintah adalah menjaga kepercayaan pasar pariwisata tanpa mengesampingkan keselamatan, terutama selama gempa susulan masih berlangsung dan kondisi masing-masing destinasi di Flores belum sepenuhnya sama.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai labuan bajo, dan industri pariwisata dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.