The Fed Naikkan Bunga, Bagaimana Proyeksi IHSG 2026?
Kenaikan suku bunga The Fed dan sikap tahan Bank Indonesia bikin IHSG diprediksi lebih volatil hingga akhir 2026. Dua analis beri proyeksi berbeda soal arah indeks.

Periskop.id - Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, memberi tekanan baru bagi pasar saham Indonesia. Bank Indonesia yang juga mempertahankan suku bunga di level tinggi membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak dinamis hingga penghujung 2026.
Head Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyebutkan, kenaikan Fed Rate dan peluang kenaikan lanjutan masih membebani IHSG. Menurutnya, tekanan itu datang lewat potensi yield US Treasury 10 tahun di atas 5%, pelemahan rupiah, serta arus dana asing yang cenderung bercampur ke arah negatif.
"Fed hike 25bps dan peluang kenaikan lanjutan masih menjadi tekanan untuk IHSG, terutama lewat US10Y di atas 5%, rupiah dan foreign flow," kata Liza, dikutip Jumat (18/9).
Meski begitu, target IHSG 2026 yang ditetapkan Liza di kisaran 7.250-7.700 belum langsung direvisi. Ia melihat ruang gerak indeks saat ini lebih realistis bila diarahkan untuk sekadar menutup tahun di level 7.000, dengan peluang menyentuh 7.200.
"Dengan kondisi sekarang saya lebih konservatif ke asal bisa tutup di kepala 7 aja (level psikologis 7000), up to 7.200," ujarnya.
Target resmi itu belum buru-buru diubah selama rupiah dan risiko sovereign masih terkendali. Pandangan berbeda datang dari Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama, yang memproyeksikan IHSG bergerak di rentang 6.250-6.900 hingga akhir 2026, dengan target akhir tahun di kisaran 6.700-6.900.
Elandry menilai kenaikan Fed Rate bisa menekan pasar saham Indonesia lewat penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta berkurangnya minat investor terhadap aset pasar negara berkembang. Namun tekanan tersebut belum tentu berubah jadi koreksi berkepanjangan, sebab sebagian sentimen sudah lebih dulu diperhitungkan pasar.
"Foreign flow berpotensi tetap fluktuatif dan selektif, terutama pada saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat," ujarnya.
Arah IHSG ke depan masih sangat bergantung pada kebijakan The Fed selanjutnya. Jika suku bunga kembali naik, rupiah melemah signifikan, dan yield obligasi global terus menanjak, target IHSG berpeluang dikaji ulang lebih konservatif.
Tekanan suku bunga tinggi juga berpotensi menjalar ke sejumlah sektor, terutama perusahaan yang butuh pembiayaan besar. Properti, consumer discretionary, konstruksi, otomotif, teknologi, dan emiten berutang bunga tinggi jadi kelompok yang perlu dicermati karena biaya pendanaan makin mahal, sehingga menekan ruang ekspansi dan margin.
Sebaliknya, bank besar, consumer staples, telekomunikasi, energi dan komoditas, serta emiten berarus kas kuat cenderung lebih defensif. Meski perbankan bisa diuntungkan dari kenaikan asset yield, kondisi ini tidak otomatis berlaku ke seluruh bank karena biaya dana, pertumbuhan kredit, likuiditas, dan kualitas aset tetap jadi penentu.
Bank dengan CASA tinggi, likuiditas kuat, dan kualitas aset baik dinilai lebih tahan menghadapi periode suku bunga tinggi. Emiten komoditas berorientasi ekspor pun berpeluang diuntungkan saat dolar AS menguat, sehingga membuka ruang rotasi sektor dari saham berbasis growth dan leverage tinggi menuju emiten berfundamental kuat.
Liza sendiri menempatkan sektor bank, telekomunikasi, consumer, energi, dan infrastruktur dalam positioning investasinya.
Memasuki sisa 2026 hingga 2027, kekuatan neraca perusahaan dinilai makin menentukan kemampuan emiten melewati era biaya dana mahal. Perusahaan dengan utang rendah, arus kas berulang, dan kemampuan menaikkan harga produk dianggap lebih mampu menjaga kinerja.
"Emiten dengan leverage rendah, pricing power dan recurring cash flow lebih mampu bertahan, sementara perusahaan yang banyak utang harus lebih disiplin capex, refinancing dan working capital," ujar Liza.
Di sektor perbankan, penguatan CASA dan kualitas kredit jadi perhatian utama. Perusahaan properti dan otomotif pun perlu memperkuat skema pembiayaan, mengelola persediaan, dan memastikan ekspansi tetap ditopang permintaan riil. Prospek 2027 dinilai bisa membaik apabila inflasi Amerika Serikat melandai dan siklus suku bunga berbalik lebih longgar.
Bagi investor, periode suku bunga tinggi berarti strategi tak lagi sekadar mengejar saham yang bergerak cepat. Fundamental perusahaan dan valuasi jadi semakin penting, dengan akumulasi bertahap disarankan ketika valuasi dan risiko-imbal hasil sudah menarik, sembari menjaga sebagian dana dalam bentuk kas.
Dari sisi pilihan saham, Liza mengunggulkan ANTM dengan target harga Rp4.800, KLBF Rp970, BBNI Rp4.100, BBRI Rp3.600, dan JSMR Rp3.850. Elandry memasukkan BBCA dengan target indikatif Rp7.000-Rp7.300, TLKM Rp3.500-Rp3.700, ICBP Rp11.500-Rp12.000, serta ANTM Rp3.400-Rp3.600.
Pilihan tersebut mencerminkan preferensi terhadap kombinasi saham komoditas, perbankan besar, consumer staples, telekomunikasi, dan perusahaan berarus kas relatif stabil, sembari menunggu kejelasan terminal rate The Fed dan arah kebijakan Bank Indonesia.
"Di era suku bunga tinggi saya lebih pilih quality first, balance sheet sehat, earnings nyata, valuasi masuk akal dan likuiditas baik," kata Liza.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Federal Reserve (The Fed) dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.