banner-sheroes-yoga
Komoditas

Harga Emas Naik Tajam Usai Dolar AS dan Minyak Melemah

Harga emas dunia melompat lebih dari 2% usai harga minyak dan dolar AS sama-sama tertekan, di tengah sorotan pasar pada langkah terbaru The Fed.

Harga Emas Naik Tajam Usai Dolar AS dan Minyak Melemah
Ilustrasi emas batang 24 karat. Foto/Ilustrasi: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga emas dunia melompat 2,4% menjadi US$4.364,29 per ons pada perdagangan Kamis, 17 September 2026 waktu setempat. Lonjakan ini terjadi setelah harga minyak dan dolar AS sama-sama melemah, sementara pasar mencermati kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) beserta sinyal kebijakan lanjutannya.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turut menguat 0,4% menjadi US$4.404,80 per ons. Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger menguraikan, ada korelasi terbalik yang erat antara harga emas dan harga energi akibat tekanan inflasi. Menurutnya, penurunan tajam harga energi pada hari itu turut meredakan sebagian tekanan di pasar emas.

"Kami melihat ada korelasi terbalik yang sangat erat dengan harga energi akibat tekanan inflasi tersebut. Harga energi turun cukup tajam hari ini. Jadi, penurunan harga energi inilah yang mengurangi sebagian tekanan pada pasar emas," kata David Meger, dikutip dari CNBC, Jumat (18/9).

Harga minyak memang melanjutkan pelemahan selama dua hari beruntun hingga menyentuh level terendah dalam sepekan. Kondisi ini dipicu meredanya kekhawatiran pasar soal gangguan pasokan.

Di saat bersamaan, dolar AS tergerus dari level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir. Pelemahan mata uang Paman Sam ini membuat emas jadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang jadi acuan pasar juga ikut turun. Imbal hasil tinggi pada obligasi bebas risiko biasanya mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan bunga.

The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu dan mengisyaratkan kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan ke depan. Ketua The Fed Kevin Warsh ikut ambil bagian dalam keputusan bulat tersebut, yang secara efektif mengakui pemerintahan Trump belum mampu mengendalikan inflasi, kondisi yang dikhawatirkan bakal memburuk oleh para pembuat kebijakan.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang 51% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya saat pejabat bank sentral bertemu lagi pada Oktober. Angka ini naik dari sekitar 44% sehari sebelumnya, menurut data CME FedWatch. Meski emas kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga tinggi justru mengurangi daya tariknya karena mendorong minat pasar ke aset-aset berbunga.

Bank of England mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Kamis. Sementara itu, Bank of Japan diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Jumat, sekaligus mengisyaratkan kesiapan untuk terus mengerek biaya pinjaman.

"Meningkatnya defisit fiskal, beban utang yang lebih tinggi, pelemahan dolar AS di masa mendatang, serta perkiraan kami bahwa The Fed akan kembali melonggarkan kebijakan tahun depan seharusnya dapat mendukung harga emas, terlepas dari volatilitas jangka pendek," tulis UBS dalam catatannya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Federal Reserve (The Fed), dan Harga Emas Dunia dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.