banner-sheroes-yoga
Pasar Modal

Bobot RI di MSCi Cuma 0,5%, Asing Tunggu Menkeu Baru

CGS International Sekuritas catat arus masuk dana asing US$155 juta pekan pertama September, tapi bobot RI di MSCI yang cuma 0,5% jadi ganjalan.

Bobot RI di MSCi Cuma 0,5%, Asing Tunggu Menkeu Baru
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - CGS International Sekuritas mencatat investor asing membukukan arus masuk bersih senilai US$155 juta ke pasar saham Indonesia pada pekan pertama September 2026. Meski begitu, bobot Indonesia yang cuma 0,5% dalam indeks MSCI APAC ex-Japan bikin pemulihan dana asing berpotensi berjalan bertahap.

Analis CGS International Sekuritas Hadi Soegiarto menjelaskan, perhatian investor asing terhadap pasar Indonesia saat ini masih lebih rendah dibanding periode ketika bobot RI di indeks tersebut lebih besar. Menurutnya, kondisi ini berbeda jauh dari Desember 2025 saat bobot Indonesia masih mencapai 1,2%.

"Bobot Indonesia yang rendah, hanya 0,5% dalam indeks MSCI APAC ex-Japan telah mengurangi perhatian investor asing terhadap pasar Indonesia dibandingkan ketika bobotnya masih 1,2% pada Desember 2025," tulis Hadi dalam riset CGS International Sekuritas, dikutip Sabtu (19/9).

Pada Agustus 2026, bobot Indonesia di indeks tersebut cuma setara 51% bobot Thailand, 50% Malaysia, dan 14% Singapura. Kesenjangan ini membuat perbaikan kebijakan domestik butuh waktu lebih lama untuk tercermin dalam aliran dana asing.

Hadi menerangkan, investor asing cenderung menunggu lebih lama untuk memastikan perbaikan kebijakan di Indonesia berjalan konsisten sebelum mengambil posisi investasi jangka panjang. CGS International Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan asalkan pemerintah terus menghadirkan kebijakan yang ramah pasar.

Selain faktor domestik, investor asing juga mencermati arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan harga minyak dunia. Hadi mengatakan, selama kegiatan marketing CGS International Sekuritas pekan lalu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang semakin hawkish serta harga minyak yang tinggi turut menggerus minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar Indonesia.

"Investor sangat tertarik membahas prospek kebijakan fiskal dan moneter Indonesia, yang berkaitan erat dengan kepercayaan mereka terhadap rupiah," tulis Hadi.

Dari sisi fiskal, investor mempertanyakan kemampuan Indonesia menurunkan defisit sesuai target pemerintah, di tengah harga minyak tinggi dan potensi beban subsidi yang membengkak. Hadi menyebutkan, apabila Menteri Keuangan yang baru mampu merealisasikan penurunan defisit sesuai target, hal tersebut akan dipandang positif oleh investor asing.

Dari sisi moneter, perhatian investor tertuju pada sikap Bank Indonesia (BI) menghadapi The Fed yang makin hawkish, terutama dampaknya bagi stabilitas rupiah. Faktor lain yang jadi sorotan adalah keputusan MSCI menjelang review indeks pada November 2026, di mana sejumlah investor disebut kecewa jika skenario dasar CGS International Sekuritas, yakni perpanjangan status freeze tanpa downgrade, benar-benar terjadi. Namun skenario itu dinilai tidak serta-merta memicu aksi jual karena investor menganggap perbaikan makroekonomi domestik lebih menentukan keputusan investasi jangka panjang mereka.

CGS International Sekuritas menilai pemulihan penuh IHSG ke level 2025 baru bisa tercapai jika status freeze MSCI dicabut. Investor juga masih menanyakan risiko sosial usai aksi demonstrasi yang sempat terlihat namun relatif terbatas pada Agustus 2026.

Dalam laporan bertajuk "Half the weight, double the effort", CGS International Sekuritas tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pasar Indonesia. Sejumlah saham pilihan utama yang direkomendasikan antara lain BBCA, BBRI, BBNI, ASII, AADI, UNVR, EXCL, TINS, JPFA, MAPA, BFIN, dan WIIM, dengan BBRI baru ditambahkan karena ekspektasi perbaikan metrik operasional dan kualitas aset dalam jangka pendek.

"Secara keseluruhan, meskipun investor terlihat berhati-hati, kami memandang situasi ini secara positif," ujar Hadi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan msci dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.