iklan periskop
Perbankan

LPS Catat Indeks Menabung Anjlok Imbas Harga BBM Naik

Survei LPS mencatat Indeks Menabung Konsumen dan Indeks Kepercayaan Konsumen sama-sama melemah pada Juli 2026, dipicu naiknya harga BBM dan kebutuhan rumah tangga.

1 jam yang lalu · 3 mnt baca
Buku tabungan, rekening dormant
Ilustrasi buku tabungan. Foto oleh Generated AI
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat Indeks Menabung Konsumen (IMK) merosot ke level 77,7 pada Juli 2026, turun 4,0 poin dari bulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang anjlok 4,9 poin ke level 84,2.

Hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) LPS tersebut menunjukkan kedua komponen pembentuk IMK ikut terkoreksi. Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) turun 1,3 poin menjadi 71,9, sementara Indeks Kemauan Menabung (IKMM) turun lebih dalam sebesar 6,6 poin ke level 83,6.

Pelemahan tersebut berlangsung di tengah naiknya kebutuhan pengeluaran rumah tangga, termasuk biaya pendidikan, ditambah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini yang membuat kemampuan sekaligus minat masyarakat untuk menyisihkan uang ikut tergerus.

Penurunan IKPM tercermin dari persentase responden yang mengaku sering menabung, yang turun tipis dari 17,1% pada Juni 2026 menjadi 17,0% pada Juli 2026. Di sisi lain, responden yang menyatakan tabungannya lebih kecil dari rencana justru naik dari 37,1% menjadi 38,1%.

Sementara itu, penurunan IKMM sejalan dengan berkurangnya responden yang menilai saat ini waktu tepat untuk menabung, dari 27,0% pada Juni 2026 menjadi 23,2% pada Juli 2026. Penilaian terhadap prospek menabung tiga bulan ke depan juga melemah, dari 34,8% menjadi 28,5%.

Berdasarkan kelompok pendapatan rumah tangga, penurunan IMK terbesar terjadi pada kelompok berpendapatan Rp3 juta hingga Rp7 juta per bulan, yakni 4,1 poin. Kelompok berpendapatan Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan turun 1,8 poin, sedangkan kelompok berpendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan turun 0,4 poin.

Berlawanan dengan tren tersebut, IMK kelompok rumah tangga berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan justru naik 4,3 poin dan tetap bertahan di atas level 100 pada Juli 2026.

Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi juga ikut melemah. Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) turun 6,1 poin menjadi 63,9, sedangkan Indeks Ekspektasi (IE) turun 4,0 poin menjadi 99,5.

Pada komponen situasi saat ini, pelemahan paling terasa pada penilaian terhadap kondisi ekonomi lokal dan ketersediaan lapangan kerja. Untuk komponen ekspektasi, konsumen menilai prospek perekonomian dan pendapatan pada masa mendatang juga menurun.

Penurunan IKK dipicu sejumlah faktor yang mencatat kenaikan dari bulan sebelumnya, mulai dari harga bahan pokok yang naik, sulitnya lapangan kerja, kenaikan harga BBM, kegagalan panen, hingga harga pupuk yang mahal dan langka. Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang disertai antrean pembelian di sejumlah daerah turut memperbesar kekhawatiran konsumen terhadap potensi kenaikan harga barang dan pengeluaran rumah tangga.

Berdasarkan kelompok pendapatan, penurunan IKK terbesar terjadi pada kelompok berpendapatan di atas Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan sebesar 6,8 poin, diikuti kelompok berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan sebesar 6,3 poin, dan kelompok berpendapatan Rp3 juta hingga Rp7 juta per bulan sebesar 3,4 poin.

Berbeda dari kelompok lain, IKK kelompok rumah tangga berpendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan justru naik 4,7 poin. Kelompok rumah tangga berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan pun masih mencatatkan IKK di atas level 100, menandakan optimisme kelompok tersebut terhadap kondisi perekonomian masih terjaga meski turun dari bulan sebelumnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Indeks Menabung Konsumen (IMK), Indeks Intensitas Menabung (IIM), dan kenaikan harga bbm dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.