Periskop.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat dua tren berlawanan dalam survei konsumen Juni 2026. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) terkoreksi 3,7 poin ke level 89,1, sementara Indeks Menabung Konsumen (IMK) justru menguat 1,6 poin ke level 81,7.
Penurunan IKK dari 92,8 di Mei 2026 menandai melemahnya optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian. Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) LPS mengidentifikasi sejumlah faktor penekan, yakni kenaikan harga bahan pokok, sulitnya lapangan kerja, serta kenaikan harga BBM dan elpiji.
Kenaikan signifikan harga BBM nonsubsidi dinilai memicu kekhawatiran berlanjut ke harga BBM bersubsidi dan barang-barang lain. Situasi ini diperparah keterbatasan pasokan yang menyebabkan antrean pembelian BBM di sejumlah daerah.
Dua sub-indeks pembentuk IKK turut merosot. Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) turun 2,3 poin ke level 70,0, sedangkan Indeks Ekspektasi (IE) tergerus 4,7 poin ke level 103,5. Penurunan itu mencerminkan lemahnya penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi lokal, lapangan kerja, maupun prospek pendapatan ke depan.
Berdasarkan kelompok pendapatan rumah tangga, koreksi IKK paling dalam dialami kelompok berpendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan, yakni sebesar 12,7 poin. Kelompok berpendapatan Rp3 juta hingga Rp7 juta turun 4,1 poin, dan kelompok Rp1,5 juta hingga Rp3 juta terkoreksi 3,2 poin.
Berbeda dengan mayoritas kelompok lainnya, rumah tangga berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan justru mencatat kenaikan IKK sebesar 3,8 poin. Kelompok ini pun tetap bertahan di atas level 100, yang mengisyaratkan optimisme mereka terhadap kondisi ekonomi masih terjaga.
Di sisi lain, IMK yang menguat ke 81,7 didorong oleh kenaikan Indeks Kemauan Menabung (IKMM) sebesar 3,5 poin ke level 90,2. LPS mencatat, peningkatan itu terutama berasal dari membaiknya persepsi konsumen mengenai waktu yang tepat untuk menabung, seiring kebutuhan persiapan pengeluaran pendidikan dalam beberapa bulan mendatang.
Secara rinci, porsi responden yang menilai saat ini sebagai waktu tepat menabung naik dari 25,5% pada Mei 2026 menjadi 27,0% pada Juni 2026. Porsi yang memandang tiga bulan ke depan sebagai waktu ideal pun meningkat dari 33,7% menjadi 34,8%.
Berbanding terbalik dengan IKMM, Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) justru turun tipis 0,4 poin ke level 73,2. Penurunan ini terjadi karena porsi responden yang mengaku sering menabung berkurang dari 18,9% menjadi 17,1%. Meski begitu, porsi responden yang merasa jumlah tabungannya lebih kecil dari rencana juga menyusut, dari 39,1% menjadi 37,1%.
Dari sisi kelompok pendapatan, IMK pada mayoritas kelompok turut menguat di Juni 2026. Kenaikan terbesar terjadi pada rumah tangga berpendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan sebesar 5,0 poin, diikuti kelompok di atas Rp7 juta sebesar 2,4 poin, dan kelompok Rp3 juta hingga Rp7 juta sebesar 1,0 poin. Satu-satunya kelompok yang IMK-nya turun adalah rumah tangga berpendapatan Rp1,5 juta hingga Rp3 juta, yakni sebesar 1,2 poin.
Kelompok rumah tangga berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan tercatat tetap berada di atas level 100 untuk IMK, menunjukkan kemauan dan kemampuan menabung segmen tersebut masih relatif kokoh dibanding kelompok pendapatan lainnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar