Politik

Hanura Ganti Logo Jadi Kepala Singa, Bidik Comeback ke Senayan pada Pemilu 2029

Hanura mengganti logo menjadi kepala singa untuk menghadapi Pemilu 2029. Partai membangun struktur hingga desa demi kembali ke DPR

6 jam yang lalu · 5 mnt baca
hanura
Ketua Tim Task Force (Satgas) Partai Hanura Patrice Rio Capella (kiri) memimpin konsolidasi dan rapat teknis tim Task Force Partai Hanura di Provinsi Bengkulu. dok. HO-Hanura
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) melakukan perubahan identitas menjelang Pemilu 2029 dengan mengganti logo partai menjadi kepala singa. Rebranding tersebut menjadi bagian dari konsolidasi lebih luas untuk membangun kembali kekuatan Hanura setelah dua pemilu berturut-turut gagal menempatkan wakil di DPR RI.

Ketua Tim Task Force Partai Hanura Patrice Rio Capella mengatakan, identitas baru akan digunakan secara bertahap oleh seluruh struktur partai, mulai tingkat pusat hingga ranting.

“Soal logo kepala singa, kita mengubah semua atribut Hanura, termasuk logo dengan new brand menjadi singa. Hanura instruksikan seluruh jajaran dari pusat hingga ranting satu komando memakai branding baru ini,” kata Rio.

Perubahan tersebut mulai diperkenalkan sejak Juli 2026 dan disosialisasikan melalui rangkaian konsolidasi nasional. Selain logo, Hanura juga melakukan pembaruan pada mars, AD/ART dan struktur organisasi sebagai bagian dari evaluasi menghadapi Pemilu 2029.

Singa Dipilih sebagai Simbol Daya Tarung

Hanura memilih kepala singa karena dianggap mewakili karakter yang ingin dibangun di antara kader dan calon anggota legislatif. “Logo singa filosofinya melambangkan kekuatan, semangat, keberanian mengambil keputusan, tangguh, dan punya daya tarung,” ujarnya.

Menurut Rio, perubahan visual tidak hanya dimaksudkan untuk membuat Hanura lebih mudah dikenali pemilih. Identitas baru juga diharapkan memengaruhi cara kader melihat posisi partai setelah hasil kurang memuaskan pada dua pemilu terakhir.

“Perubahan logo ini dengan harapan bisa memberikan semangat kepada para kader Hanura. Singa itu simbol keberanian, wibawa, kekuatan, keseriusan. Sehingga para caleg bisa menjadi singa-singa petarung Hanura untuk menang di Pemilu 2029,” tuturnya. 

“Saya yakin ini berpengaruh. Mindset atau cara berpikir kader pun berubah. Ada keyakinan dan optimisme di kalangan kader, kita bisa bangkit kembali pada Pemilu 2029,” ujarnya.

Asal tahu saja, konsolidasi Hanura dengan identitas singa ditargetkan menyasar seluruh provinsi hingga September 2026. Sementara penerapan seluruh atribut baru di tingkat daerah ditargetkan selesai paling lambat awal 2027.

“Perlu proses karena masih transisi memerlukan waktu pencetakan dan sebagainya, bisa kita maklumi. Tapi mulai paling lama awal 2027, semua sudah singa,” kata Rio.

Hanura Turun dari 5,26% Menjadi 0,72%

Rebranding tersebut berlangsung ketika Hanura menghadapi pekerjaan berat untuk kembali ke Senayan. Pada Pemilu 2014, Hanura memperoleh 6.579.498 suara atau 5,26% dan mendapatkan 16 kursi DPR RI. Itu menjadi pemilu terakhir ketika Hanura berhasil melewati ambang batas parlemen.

Lima tahun kemudian, suara Hanura turun menjadi 2.161.507 atau 1,54% pada Pemilu 2019, sehingga gagal melewati ambang batas parlemen 4%. Penurunan berlanjut pada Pemilu 2024. Berdasarkan hasil resmi KPU, Hanura hanya memperoleh 1.094.588 suara atau sekitar 0,72% dari 151,79 juta suara sah nasional. Partai tersebut kembali gagal memperoleh kursi DPR RI.

Dengan demikian, tantangan Hanura bukan semata memperkenalkan logo baru kepada pemilih, tetapi membalik tren elektoral yang berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Bangun Struktur hingga 83 Ribu Desa

Hanura karena itu tidak hanya mengandalkan perubahan citra. Task Force partai menargetkan struktur organisasi terbentuk 100% di seluruh provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan, bahkan menjangkau sekitar 83.000 desa di Indonesia.

Rio sebelumnya mengatakan struktur tersebut menjadi fondasi agar Hanura memiliki mesin politik hingga tingkat akar rumput. “Kalau struktur partai ini tersusun rapi dari 100% provinsi, 100% kota, 100% kecamatan di 7.300 kecamatan, dan 100% di 83.000 desa seluruh Indonesia, (Parliamentery Treshold) empat persen itu lewat,” kata Rio pada konsolidasi Hanura di Sumatera Selatan.

Dalam konsolidasi di Banten, ia juga menegaskan persiapan dilakukan lebih dini karena Hanura ingin belajar dari hasil pemilu sebelumnya. “Kami mempersiapkan diri dari awal karena Hanura belajar dari pengalaman dan menyadari bahwa Hanura akan bangkit kembali di 2029 harus dimulai dari keseriusan dan konsistensi dalam membangun partai ini di setiap tingkatan,” ujar Rio.

Strategi itu memperlihatkan bahwa perubahan logo kepala singa ditempatkan sebagai simbol dari agenda yang lebih besar, yakni restrukturisasi organisasi dan konsolidasi elektoral menuju 2029.

Ambang Batas Pemilu 2029 Belum Tentu Tetap 4%

Meski Hanura kerap menggunakan angka 4% sebagai patokan untuk kembali ke DPR, besaran ambang batas parlemen Pemilu 2029 sebenarnya belum final. Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 116/PUU-XXI/2023 menyatakan ketentuan parliamentary threshold 4% tetap berlaku untuk Pemilu 2024, tetapi hanya dapat diberlakukan pada Pemilu 2029 apabila pembentuk undang-undang lebih dahulu mengubah norma dan besaran ambang batas berdasarkan parameter yang ditetapkan MK.

MK kembali menegaskan pada Maret 2026 bahwa ketentuan tersebut belum direvisi sehingga angka 4% yang lama belum dapat otomatis dijadikan dasar hukum untuk Pemilu DPR 2029.

DPR saat ini tengah menyusun revisi UU Pemilu. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad pada 14 Agustus mengatakan pembahasan terbatas telah mulai dilakukan, sementara isu ambang batas parlemen termasuk materi yang masih dibahas.

Artinya, Hanura harus mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2029 ketika aturan mengenai batas minimal suara untuk masuk DPR masih dalam proses perubahan.

Logo Baru Bukan Jaminan Elektoral

Perubahan identitas partai lazim digunakan untuk memperbarui citra, meningkatkan pengenalan merek politik dan menandai perubahan organisasi. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada faktor yang lebih substantif, seperti kualitas kandidat, struktur di daerah, isu yang diperjuangkan dan kemampuan mengubah dukungan menjadi suara.

Hanura sendiri saat ini masih dipimpin Oesman Sapta Odang. Di bawah Task Force yang dipimpin Rio, partai sedang menjalankan konsolidasi nasional serta pembenahan struktur menjelang Pemilu 2029.

Karena itu, kepala singa menjadi simbol awal dari strategi comeback Hanura, tetapi ujian sebenarnya baru akan terlihat ketika partai mampu menghentikan penurunan suara dari 5,26% pada 2014 menjadi 1,54% pada 2019 dan 0,72% pada 2024.

Target berikutnya adalah memastikan seluruh struktur menggunakan identitas baru pada awal 2027 dan mengubah konsolidasi tersebut menjadi dukungan elektoral yang cukup untuk membawa Hanura kembali ke DPR pada 2029.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai parpol, pemilu 2029, DPR RI, dan parliamentary threshold dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.