Cove Catat Kamar Bulanan di Bali Naik 100%, Denpasar Jadi Favorit
Cove mencatat jumlah kamar sewa bulanan di Bali tumbuh 100% sejak awal 2026. Denpasar menjadi lokasi favorit, didorong kebutuhan pekerja muda

Periskop.id - Kebutuhan hunian jangka menengah di Bali mulai bergeser seiring bertambahnya penduduk yang datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga untuk bekerja. Penyedia hunian co-living Cove mencatat jumlah kamar dalam portofolionya di Bali yang disewakan secara bulanan meningkat 100% sejak awal 2026, dengan Denpasar menjadi lokasi paling diminati.
Pertumbuhan tersebut berjalan di tengah ekonomi Bali yang tetap ekspansif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali tumbuh 5,78% secara tahunan pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. PDRB Bali pada periode tersebut mencapai Rp89,27 triliun atas dasar harga berlaku.
Struktur ekonomi Bali masih kuat ditopang sektor penyediaan akomodasi dan makan minum dengan kontribusi 21,91% terhadap PDRB. Namun, pertumbuhan aktivitas ekonomi juga turut mendorong mobilitas penduduk yang membutuhkan tempat tinggal untuk periode lebih panjang dibanding wisatawan.
Data Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (PMD Dukcapil) Bali menunjukkan 300.258 penduduk datang ke Pulau Dewata sepanjang 2025. Denpasar menjadi tujuan terbesar dengan 74.296 pendatang, disusul Buleleng sebanyak 55.300 orang dan Badung 39.732 orang.
Kepala Dinas PMD Dukcapil Bali I Made Dwi Dewata sebelumnya mengatakan tingginya mobilitas itu memperlihatkan besarnya daya tarik Bali sebagai tempat menjalankan aktivitas ekonomi.
“Data ini menunjukkan arus masuk penduduk ke Bali masih cukup tinggi dan sedikit melampaui jumlah penduduk yang pindah keluar,” kata Dwi.
Pekerja Dominasi Penghuni Bulanan
Perubahan pola mobilitas tersebut turut terbaca dalam data internal Cove. Perusahaan menyebut 76% penghuni kamar bulanannya di Bali merupakan warga domestik. Kelompok usia 25-29 tahun menjadi yang terbesar dengan porsi 29%.
Dari sisi pekerjaan, 46,6% merupakan pekerja profesional dan 22,7% lainnya bekerja sebagai freelancer. Dian Paskalis, Country Director of Growth and VP of Online Marketing Cove mengatakan, perpindahan generasi muda ke Bali kini tidak lagi hanya berkaitan dengan pariwisata.
“Cove melihat bahwa pergerakan Gen Z dan Milenial ke Bali kini tidak lagi hanya untuk wisata, namun juga bekerja," serunya.
Ia menyebut, mayoritas dari penghuni bulanan Cove di Bali memilih untuk tinggal selama 1-2 bulan saja. Hal ini menunjukkan pola kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan jangka pendek seperti relokasi sementara, proyek, atau pekerjaan freelance.
"Kebutuhan ini sulit untuk dipenuhi oleh hotel harian atau hunian sewa lain yang umumnya membutuhkan kontrak tahunan, dan karenanya kami memutuskan untuk memperluas akses ke co-living bulanan Cove guna mendukung ketersediaan hunian berkualitas di Bali,” ungkap Dian.
Perubahan kebutuhan tersebut juga terlihat di pasar co-living secara lebih luas. Pada Maret 2026 dilaporkan, mayoritas penghuni Cove berada dalam kelompok Gen Z dan Milenial. Cove saat itu mengelola sekitar 7.600 kamar yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.
Sementara Bisnis.com melaporkan pada Maret 2026 bahwa perusahaan menargetkan portofolionya berkembang menjadi sekitar 8.000 kamar pada akhir tahun, seiring permintaan terhadap hunian co-living yang dinilai terus tumbuh.
Harga di Bawah Rp5 Juta Paling Dicari
Data Cove juga menunjukkan harga menjadi pertimbangan penting bagi penyewa bulanan di Bali. Permintaan paling banyak mengarah ke kamar dengan tarif kurang dari Rp5 juta per bulan, terlepas dari lokasi properti. Pola ini berbeda dengan Jabodetabek, di mana kedekatan hunian dengan lokasi aktivitas dan akses transportasi menjadi faktor yang lebih menonjol.
Kebutuhan hunian bulanan di Bali sebelumnya juga terlihat dari ekspansi properti sewa. Pada Mei 2026, bertambahnya portofolio co-living bulanan di Bali untuk menyasar pekerja remote, digital nomad, hingga profesional muda yang menetap dalam jangka menengah maupun panjang.
Denpasar Kuasai Permintaan
Di antara area operasional Cove di Bali, Denpasar mencatat permintaan terkuat. Berdasarkan data internal perusahaan, sekitar 79% penghuni bulanan Cove di Bali memilih kawasan tersebut. Tingkat keterisiannya bahkan diklaim mencapai lima kali lipat dibanding area Cove lainnya di Pulau Dewata.
Dominasi Denpasar sejalan dengan tingginya arus penduduk masuk. Selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi Bali, Denpasar juga menjadi lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur.
KEK Sanur ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2022 dan menjadi KEK pertama di Indonesia yang berfokus pada sektor kesehatan. Kawasan seluas 41,26 hektare itu mengintegrasikan layanan kesehatan dengan pariwisata. Data Dewan Nasional KEK mencatat investasi di kawasan tersebut mencapai Rp4,25 triliun hingga 2024 dengan 3.826 tenaga kerja.
Keberadaan pusat-pusat ekonomi baru tersebut berpotensi memperluas kebutuhan hunian pekerja di luar kawasan wisata tradisional seperti Kuta, Seminyak, dan Canggu. “Dengan berkembangnya aktivitas ekonomi di luar kawasan wisata utama Bali, Cove melihat kebutuhan akan hunian sewa yang lebih beragam akan turut tumbuh. Oleh karena itu, Cove akan terus memperluas portofolio hunian sewa fleksibel di Bali untuk mengikuti arah pertumbuhan kebutuhan tersebut,” ucap Dian.
Peningkatan kamar bulanan yang dicatat Cove memang belum dapat menggambarkan keseluruhan pasar sewa Bali karena bersumber dari portofolio internal perusahaan. Namun, data tersebut beriringan dengan arus pendatang yang tinggi serta menguatnya aktivitas ekonomi Bali, khususnya di Denpasar, yang membuka ruang bagi pertumbuhan hunian sewa jangka pendek hingga menengah.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Cove, bali, dan properti dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.