Periskop.id - Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial di pasar primer masih naik terbatas sepanjang kuartal II 2026. Di saat bersamaan, penjualan rumah mulai menunjukkan perbaikan meski secara tahunan masih berada di zona kontraksi.
Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR), Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tumbuh 0,69% secara tahunan pada kuartal II 2026. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibanding kuartal I 2026 yang tercatat 0,62% (yoy).
"Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan II 2026 secara tahunan meningkat terbatas," tulis BI dalam keterangan resminya, Jumat (7/8).
Dari sisi penjualan, kondisi pasar primer disebut mulai membaik. Kontraksi penjualan tercatat 2,36% (yoy), jauh lebih kecil dibanding penyusutan 25,67% (yoy) pada kuartal sebelumnya.
Perbaikan tersebut ditopang oleh naiknya penjualan rumah tipe kecil dan tipe besar. Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah masih terbatas.
"Hasil survei mengindikasikan secara keseluruhan penjualan properti residensial di pasar primer membaik meski masih mengalami kontraksi sebesar 2,36 persen (yoy), tidak sedalam kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 25,67 persen (yoy)," tulis BI.
Dari sisi pembiayaan, dana internal perusahaan masih jadi sumber utama pendanaan proyek properti residensial. Porsi pembiayaan dari modal sendiri mencapai 73,28% dari total kebutuhan pembiayaan pengembang.
Di sisi konsumen, pembelian rumah masih didominasi skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan porsi 70,05% dari total transaksi pembelian rumah di pasar primer. BI menilai hasil survei ini menandakan harga rumah masih naik secara moderat, sementara aktivitas penjualan berangsur pulih setelah tertekan cukup dalam pada awal tahun.
Selain data properti residensial, pasar kondominium Jakarta juga dinilai tumbuh secara selektif sepanjang semester I 2026. Segmen menengah atas hingga premium justru menunjukkan daya tahan lebih kuat dan jadi penopang utama pasar hunian vertikal, di tengah pemulihan ekonomi yang belum merata.
Berdasarkan data Knight Frank Indonesia, pasokan kondominium Jakarta hingga semester I 2026 mencapai 249.107 unit setelah satu proyek baru di kawasan Prime Non-CBD rampung dibangun. Tingkat penjualan kumulatifnya tercatat 96,3%.
Segmen middle, upper-middle, dan high-end tercatat sebagai penyumbang terbesar total penjualan kondominium, masing-masing dengan porsi 39%, 25%, dan 21%. Lebih dari separuh pasokan baru kondominium Jakarta dalam beberapa tahun terakhir juga berasal dari segmen menengah atas hingga premium, bahkan seluruh stok baru tahun ini berasal dari segmen premium.
"Resiliensi penjualan kondominium pada segmen high-end menjadi salah satu penopang utama di tengah pemulihan yang belum merata," ujar Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar