Periskop.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih sebesar Rp956 miliar pada semester I 2026. Capaian tersebut merosot 88% dibandingkan laba Rp8,13 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan laba bersih jauh lebih dalam dibandingkan penyusutan pendapatan. Pendapatan bersih perseroan turun 15% secara tahunan dari Rp68,53 triliun menjadi Rp58,29 triliun. Berdasarkan perhitungan dari laporan perusahaan, margin laba bersih menyusut dari sekitar 11,9% menjadi hanya 1,6%.

Ringkasan Kinerja United Tractors Semester I 2026

 

KeteranganSemester I 2026 (Rp miliar)Semester I 2025 (Rp miliar)Perubahan
Pendapatan bersih58.28968.525Turun 15%
Laba bersih di luar non-recurring items4.2628.195Turun 48%
Non-recurring items(3.306)(65)
Laba bersih9568.130Turun 88%
Laba per saham di luar non-recurring itemsRp1.207Rp2.256Turun 47%
Laba per sahamRp271Rp2.239Turun 88%

 

Beban Non-Recurring Tekan Laba

Tekanan utama terhadap laba bersih berasal dari pencatatan non-recurring items atau komponen nonberulang sebesar Rp3,31 triliun. Nilainya melonjak tajam dibandingkan beban Rp65 miliar pada semester I 2025.

Komponen tersebut terutama terdiri atas penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan dalam rangka Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan di Tambang Nikel Stargate.

Apabila komponen nonberulang dikeluarkan, laba bersih UT tercatat Rp4,26 triliun. Angka itu tetap turun 48% dari Rp8,20 triliun pada semester I tahun lalu. Margin laba bersih yang disesuaikan juga menurun dari sekitar 12% menjadi 7,3%.

Dengan demikian, penurunan laba bukan hanya disebabkan pencatatan beban nonberulang. Pelemahan kinerja operasional, khususnya pada bisnis emas, alat berat, dan pertambangan batu bara, turut menekan hasil perseroan.

Penjualan Emas Turun 82%

Segmen pertambangan emas dan mineral lainnya mencatat pendapatan Rp2,4 triliun, turun 66% secara tahunan. Penjualan setara emas anjlok dari 125 ribu ons menjadi 23 ribu ons atau turun sekitar 82%.

Penurunan tersebut dipengaruhi penghentian sementara operasional Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources. Tambang itu baru kembali menjalankan operasinya pada periode pelaporan kuartal II 2026.

Sebelum operasional dilanjutkan, Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro mengatakan perusahaan menargetkan pemulihan kegiatan tambang pada pertengahan Mei.

"Pertengahan bulan Mei sudah bisa beroperasi dan apabila itu kita sudah bisa beroperasi, targetnya sekitar 60.000 ounce," ungkap Iwan.

Penjualan Komatsu dan Batu Bara Ikut Melemah

Bisnis alat berat juga mengalami tekanan. Penjualan alat berat Komatsu turun 27 persen menjadi 1.994 unit. Penurunan terutama terjadi pada kategori mesin berukuran besar untuk pertambangan yang merosot 55% menjadi 325 unit.

Akibatnya, pendapatan segmen alat berat turun 28% menjadi Rp15 triliun. Namun, pendapatan penjualan suku cadang dan layanan pemeliharaan masih naik tipis dari Rp5,4 triliun menjadi Rp5,5 triliun.

 

United Tractors
United Tractors (UNTR). dok. UT

 

 

Di segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi, volume penjualan Turangga Resources turun 10% menjadi 6 juta ton. Kondisi itu membuat pendapatan segmen tersebut menyusut 4% menjadi Rp12,9 triliun.

United Tractors mengaitkan pelemahan sejumlah bisnis tersebut dengan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya batu bara nasional 2026 yang lebih rendah. Reuters sebelumnya melaporkan pemerintah berencana memangkas kuota produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton untuk menopang harga komoditas, dari produksi yang lebih tinggi pada tahun sebelumnya.

Kontraktor Pertambangan Jadi Penahan Penurunan

Di tengah tekanan pada sejumlah segmen, bisnis kontraktor pertambangan masih mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 4% menjadi Rp27,2 triliun. Peningkatan tersebut terutama ditopang penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat.

Meski pendapatan tumbuh, aktivitas operasional PAMA Grup tetap menurun. Volume pemindahan tanah turun 10% menjadi 481 juta bank cubic meter, sedangkan produksi batu bara untuk klien menyusut 3 persen menjadi 67 juta ton.

UT juga mencatat perubahan posisi keuangan dari kas bersih Rp7,7 triliun pada akhir 2025 menjadi utang bersih Rp9,4 triliun per Juni 2026. Perubahan tersebut terutama mencerminkan akuisisi perusahaan tambang emas dan pelaksanaan pembelian kembali saham.

Hingga akhir Juni 2026, perseroan telah membeli kembali secara akumulatif sebanyak 237 juta saham dengan nilai sekitar Rp7,1 triliun. UT kemudian menjalankan tahap keempat buyback dengan nilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Juli sampai 30 September 2026.

“Program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek Perseroan dan kemampuannya untuk menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, juga bertujuan untuk mendukung Pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.”