Periskop.id - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) mencatat kinerja positif sepanjang tiga bulan pertama 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp101,89 miliar. Capaian tersebut diraih di tengah tekanan industri semen nasional yang masih menghadapi kelebihan pasokan, kompetisi harga, serta kenaikan biaya energi global.

Direktur Utama SBI Rizki Kresno Edhie Hambali mengatakan, transformasi bisnis yang dilakukan perseroan mulai menunjukkan hasil nyata sejak akhir tahun lalu. “Result-nya sendiri dari sejak Q4 sudah kelihatan sebetulnya,” kata Rizki dalam paparan publik perusahaan di Jakarta, Jumat (22/5). 

Kinerja SBI pada kuartal I 2026 ditopang pertumbuhan penjualan dan strategi efisiensi biaya yang lebih agresif. Perseroan mencatat volume penjualan semen dan terak mencapai 2,92 juta ton atau meningkat 1,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan itu, pendapatan perusahaan juga naik 3,6% menjadi Rp2,56 triliun. Sementara laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tumbuh 14,3% menjadi Rp358 miliar.

Menurut Rizki, salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan perusahaan adalah transformasi digital dalam sistem pemasaran dan distribusi. SBI kini menggunakan sistem geo-coding untuk memantau aktivitas tenaga penjual dan distributor secara real time. “Sehingga intelijen kita terhadap market menjadi sangat tajam,” ungkap Rizki.

Digitalisasi juga diterapkan pada lini produksi untuk menekan biaya operasional. Direktur Operasi SBI Edi Sarwono mengatakan perusahaan memanfaatkan teknologi Advanced Process Control, guna menjaga stabilitas operasional sekaligus meningkatkan efisiensi energi di pabrik semen.

“Sehingga akhirnya itu akan memberikan performa yang lebih efisien sehingga akan memberikan efek ke cost produksi yang lebih efisien,” kata Edi.

Meski demikian, SBI mengakui tekanan biaya energi global masih menjadi tantangan utama sepanjang 2026. Kenaikan harga bahan bakar dan bahan penunjang operasional mulai berdampak terhadap biaya produksi perusahaan.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SBI Asruddin menyebut, dampak geopolitik global termasuk konflik internasional yang memicu lonjakan harga energi, mulai dirasakan oleh industri semen nasional. “Efek kenaikan BBM karena peristiwa geopolitik perang itu sudah mulai terasa di kita,” ujar Asruddin.

Stress Test 
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, perseroan telah melakukan stress test atau uji ketahanan terhadap potensi kenaikan biaya energi lebih lanjut. SBI juga menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga profitabilitas perusahaan tetap stabil.

"Kita sudah melakukan stress test terhadap kondisi ini, dan kita sudah identifikasi apa yang menjadi main issue, main problem yang harus kita address," tuturnya.

Di tengah tekanan biaya, SBI tetap optimistis mampu mempertahankan margin laba di atas 6% sepanjang tahun ini. Hingga April 2026, perusahaan mencatat volume penjualan masih tumbuh sekitar 9% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, SBI juga mencatat kinerja solid sepanjang 2025 dengan laba tahun berjalan mencapai Rp658,7 miliar dan EBITDA sebesar Rp1,87 triliun. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), pemegang saham menyetujui pembagian 50% laba bersih 2025 sebagai dividen dan sisanya digunakan untuk mendukung operasional serta pengembangan bisnis perseroan.

Selain mengesahkan laporan keuangan tahun buku 2025, RUPST juga menyetujui perubahan anggaran dasar perusahaan serta pengangkatan kembali Yasuhide Abe sebagai direktur perseroan hingga RUPST 2031.

Kinerja SBI sejalan dengan tren industri semen nasional yang mulai menunjukkan pemulihan bertahap. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) sebelumnya mencatat permintaan semen domestik mulai tumbuh seiring peningkatan proyek infrastruktur pemerintah dan pembangunan sektor properti pada awal 2026.

Namun, industri masih menghadapi tantangan besar berupa kelebihan kapasitas produksi nasional dan fluktuasi biaya energi global yang terus memengaruhi struktur biaya produsen semen di Indonesia.