Periskop.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) meraup laba bersih Rp14,8 triliun disepanjang tahun 2025 kemarin. Capaian ini turun 24% dibanding tahun yang lalu, akibat penurunan kontribusi dari segmen Kontraktor Penambangan yang terkendala curah hujan tinggi.
“Penurunan kontribusi yang sama juga datang dari segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, akibat harga jual batu bara yang lebih rendah yang sebagian dapat diimbangi oleh penguatan harga emas,” jelas Corporate Secretary UNTR Ari Setiyawan dalam keterangannya, Jumat (27/2).
Lebih lanjut, UNTR membukukan pendapatan bersih sebesar Rp131,3 triliun atau turun sebesar 2% dari Rp134,4 triliun pada periode yang sama di tahun 2024. Pendapatan bersih tersebut terutama berasal dari Rp54,1 triliun dari segmen Kontraktor Penambangan, 7% lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu.
Kemudian, Rp36,6 triliun dari segmen Mesin Konstruksi, 2% lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu. Lalu, Rp24,2 triliun dari segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, 7% lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu. Selanjutnya, Rp14,0 triliun dari segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya, 41% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.
Segmen Usaha Mesin Konstruksi
Segmen usaha Mesin Konstruksi mencatat peningkatan penjualan alat berat Komatsu sebesar 2% menjadi 4.515 unit, dikarenakan penjualan yang lebih tinggi dari sektor kehutanan dan perkebunan. Berdasarkan riset pasar internal, pangsa pasar Komatsu adalah 20%. Komatsu tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar alat berat di sektor pertambangan.
Penjualan Scania juga naik dari dari 436 unit menjadi 466 unit dan penjualan UD Trucks turun dari 234 unit menjadi 155 unit. Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 3% menjadi Rp11,3 triliun. Total pendapatan bersih dari Mesin Konstruksi turun 2% menjadi Rp36,6 triliun.
Segmen Usaha Kontraktor Penambangan
Untuk segmen usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). PAMA dan KPP Mining (PAMA Grup) menyediakan jasa pertambangan untuk pemilik konsesi tambang, dengan membantu mereka dalam pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) dan produksi batu bara serta mineral lainnya.
Sampai dengan kuartal keempat tahun 2025, PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 10% menjadi 1.100 juta bcm dan volume produksi batu bara untuk para kliennya tetap pada 148 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,4x.
“Pemindahan tanah yang lebih rendah terutama disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan penurunan stripping ratio pada beberapa kontrak klien. Total pendapatan bersih dari Kontraktor Penambangan turun 7% menjadi Rp54,1 triliun,” tutur Ari.
Segmen Usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi
Di segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources). Di tahun 2025, tambang batu bara Turangga Resources mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 11,6 juta ton (termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi), naik 14% dari tahun 2024.
Total volume penjualan batu bara termasuk batu bara pihak ketiga mencapai 14,3 juta ton, 9% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. “Pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi turun sebesar 7% menjadi Rp24,2 triliun, dikarenakan penurunan rata-rata harga jual batu bara,” ujarnya.
Segmen Usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
Adapun untuk segmen usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 41% menjadi Rp14,0 triliun, terutama disebabkan oleh peningkatan harga emas.
Pertambangan Emas
Di usaha pertambangan emas Perseroan yang dioperasikan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR), tercatat total penjualan setara emas sebesar 227 ribu ons sampai dengan kuartal keempat 2025 atau 2% lebih rendah dari tahun lalu. PTAR mencatatkan penjualan setara emas sebesar 213 ribu ons atau turun 7% dibandingkan tahun lalu. SJR mencatatkan 14 ribu ons penjualan setara emas.
Bisnis Nikel
Kemudian, PT Stargate Pasific Resources (SPR)yang mengoperasikan tambang nikel mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 2,1 juta wet metric ton (wmt) sampai kuartal keempat tahun 2025, yang terdiri dari 0,7 juta wmt saprolit dan 1,4 juta wmt limonit.
Nickel Industries Limited (NIC) yang dimiliki sebesar 20,14% merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. Kinerja bisnis ini terdampak oleh pencatatan penurunan nilai terkait dua proyek RKEF lama milik NIC di kuartal terakhir tahun 2024 (yang mempengaruhi kinerja Perseroan di triwulan pertama tahun 2025). Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nickel metal sebesar 93.264 ton sampai kuartal ketiga tahun 2025.
Aksi Korporasi
Selain itu, pada tanggal 14 Januari 2026, UT menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun yang dimulai pada tanggal 31 Oktober 2025 dengan 68,5 juta lembar saham yang dibeli kembali. Selanjutnya, UT mengumumkan tahap kedua pembelian kembali saham dengan nilai maksimal sebesar Rp2 triliun dari tanggal 22 Januari sampai 15 April 2026.
Kedua program ini, kata Ari, dijalankan dengan mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam situasi pasar berfluktuasi. “Program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek Perseroan dan kemampuannya untuk menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, juga bertujuan untuk mendukung Pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal,” tuturnya.
Pada tanggal 11 Februari 2026, Perseroan, melalui anak perusahaannya PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, telah menyelesaikan transaksi untuk mengakuisisi 100% kepemilikan saham PT Arafura Surya Alam, sebuah perusahaan pertambangan emas yang berlokasi di Sulawesi Utara.
Tinggalkan Komentar
Komentar