iklan periskop
Saham

Dari Riset Kampus ke Bursa, SWAP UGM Bidik Rp45,22 Miliar dari IPO

PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP), perusahaan hilirisasi riset UGM, menawarkan 323 juta saham dan membidik dana IPO hingga Rp45,22 miliar.

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
ftse russel, ihsg, bei
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Hilirisasi riset Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai masuk ke pasar modal. PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP), perusahaan manufaktur produk kesehatan berbasis riset yang berada dalam ekosistem bisnis UGM, bersiap menggelar penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) dengan target menghimpun dana maksimal Rp45,22 miliar.

Berdasarkan data resmi sistem e-IPO, SWAP menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru atau setara 30,30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawaran awal ditetapkan pada kisaran Rp130-Rp140 per saham dengan masa bookbuilding berlangsung 24-27 Agustus 2026.

"Jumlah seluruh nilai penawaran umum sebanyak-banyaknya adalah Rp45.220.000.000,” ujar Manajemen Swayasa Prakarsa sebagaimana tercantum dalam dokumen penawaran.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal indikatif, pernyataan efektif ditargetkan diperoleh pada 31 Agustus. Penawaran umum dijadwalkan berlangsung 2-8 September, penjatahan pada 8 September, distribusi saham pada 9 September, dan SWAP ditargetkan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 10 September 2026.

PT Sukadana Prima Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Dalam e-IPO, SWAP tercatat berada di sektor Healthcare, subsektor Healthcare Equipment, dengan kegiatan utama manufaktur produk kesehatan berbasis riset.

Dana IPO untuk Ekspansi hingga Bayar Kewajiban

Dana yang diperoleh dari IPO tidak seluruhnya digunakan untuk ekspansi. Berdasarkan prospektus yang diberitakan Katadata, sekitar Rp15,8 miliar akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi dan kualitas produk.

Sekitar Rp12,2 miliar lainnya disiapkan untuk belanja modal. Sementara Rp12 miliar akan digunakan membayar kewajiban perusahaan, dengan rincian Rp2 miliar kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) dan Rp10 miliar kepada Yayasan Universitas Gadjah Mada (YUGM).

Merujuk prospektus, sebagian belanja modal akan digunakan untuk pembangunan gedung baru di kawasan Cangkringan, Kalasan, serta pembelian perlengkapan gedung dan kendaraan. Modal kerja antara lain diarahkan untuk bahan baku, peralatan penunjang produksi, peningkatan SDM, sistem ERP, pemasaran, serta pengembangan portofolio produk.

Direktur Utama PT Swayasa Prakarsa Tbk Bondan Ardiningtyas menyebut, masuknya perusahaan ke pasar modal tidak hanya bertujuan mendapatkan tambahan pendanaan.

“Bagi kami, IPO bukan sekadar aksi korporasi untuk memperoleh pendanaan,” ujar Bondan.

Perusahaan menyatakan IPO juga menjadi bagian dari transformasi menuju tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel sekaligus mempercepat komersialisasi inovasi kesehatan hasil riset dalam negeri.

UGM Tetap Jadi Pengendali

Sebelum IPO, kepemilikan SWAP sangat terkonsentrasi pada PT Gama Multi Usaha Mandiri. GMUM memiliki 721.898.050 saham atau 97,16%, sedangkan kepemilikan langsung UGM mencapai 20.009.190 saham atau sekitar 2,693%. Sisanya dimiliki PT Radio Swara Gadjah Mada dan Bondan Ardiningtyas.

Setelah 323 juta saham baru dilepas kepada publik, porsi GMUM diperkirakan terdilusi menjadi sekitar 67,72%, kepemilikan langsung UGM sekitar 1,88%, dan masyarakat akan memegang 30,30% saham SWAP.

UGM tetap tercatat sebagai pihak pengendali. Berdasarkan surat pernyataan pengendali pada 12 Agustus 2026 yang dikutip Katadata dari prospektus, UGM menyatakan tidak akan melepaskan pengendalian atas perusahaan setidaknya selama 12 bulan sejak pernyataan pendaftaran IPO efektif.

Dibentuk untuk Membawa Riset UGM ke Industri

SWAP berdiri pada 12 Januari 2012 dan mulai beroperasi secara komersial pada 2014. Perseroan dibentuk sebagai kendaraan untuk mengubah hasil penelitian UGM menjadi produk yang dapat diproduksi serta dipasarkan secara komersial.

Bisnisnya kemudian berkembang melalui sejumlah unit. Gama Herbal Indonesia bergerak di produk herbal, Heprogama mengembangkan dan memproduksi alat kesehatan, Gamafood masuk ke pangan kesehatan sejak 2017, sedangkan Unit Distribusi IMEDEV dibentuk pada 2022 untuk memperkuat jaringan distribusi perusahaan.

Portofolio produk kesehatan yang telah dikembangkan perusahaan antara lain RZ-VAC Negative Pressure Wound Therapy, INA-SHUNT, CeraSpon, Gama-CHA, ventilator Venindo, hingga DivaBirth. Selain alat kesehatan, perusahaan juga mengembangkan obat tradisional, produk herbal, dan pangan fungsional berbasis penelitian perguruan tinggi.

Salah satu produk yang telah lebih dulu dikomersialisasikan adalah Gama-CHA, material bone graft yang dikembangkan dari riset UGM. Gama Multi Group mencatat produk tersebut telah dipasarkan secara komersial dan masuk ke katalog elektronik pemerintah.

Pendapatan Tumbuh, Perusahaan Masih Catat Kerugian

Menjelang IPO, SWAP juga tengah memperbaiki kinerja bisnis. Perusahaan menyebut pendapatan semester I 2026 meningkat sekitar 77% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kerugian bersih dalam periode tersebut juga disebut turun sekitar 82,9% seiring perbaikan efisiensi operasional dan struktur biaya.

Meski demikian, fakta bahwa perusahaan masih mencatat kerugian menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan calon investor bersama dengan risiko lain yang tercantum dalam prospektus. Status IPO juga masih berada pada tahap pre-effective, sehingga jadwal maupun ketentuan penawaran masih dapat berubah mengikuti proses dan persetujuan regulator.

Bondan mengatakan, transformasi bisnis akan diarahkan untuk memperkuat fundamental perusahaan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi, jaringan distribusi, dan penetrasi pasar.

Perseroan berharap akses terhadap pendanaan pasar modal dapat mempercepat proses membawa inovasi dari laboratorium menuju produksi massal. Dengan demikian, IPO SWAP bukan hanya menjadi aksi korporasi perusahaan milik kampus, tetapi juga menjadi ujian bagi model hilirisasi riset perguruan tinggi melalui perusahaan terbuka.

Masuknya SWAP juga terjadi ketika sektor kesehatan masih aktif menghadirkan emiten baru. Data e-IPO mencatat PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) baru tercatat di BEI pada Juli 2026. SWAP akan menyusul jika pencatatan pada 10 September berjalan sesuai jadwal.

Bagi SWAP, tantangan setelah IPO tidak berhenti pada keberhasilan memperoleh Rp45,22 miliar. Perusahaan harus membuktikan bahwa tambahan modal publik mampu mempercepat komersialisasi hasil riset, memperbesar skala penjualan produk kesehatan, sekaligus membawa bisnis berbasis inovasi kampus menuju kinerja yang berkelanjutan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Universitas Gadjah Mada (UGM), IPO, dana hasil IPO, dan PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.