Periskop.id - Sampah rumah tangga yang menumpuk tanpa penanganan memadai jadi masalah klasik di banyak wilayah Indonesia. Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan jawabannya lewat inovasi incinerator portable yang kini diakui secara internasional.

Tim bernama Gelora ini meraih Most Impact Award pada ajang Universitas 21 (U21) Real Impact on Society and Environment (RISE) Awards 2026, yang berlangsung pada 22 Juli lalu. Penghargaan tersebut diberikan atas inovasi mahasiswa yang dinilai berdampak nyata terhadap masyarakat dan lingkungan.

Apa Itu Incinerator Portable Karya Mahasiswa UGM?

Alat yang dikembangkan berupa incinerator berskala rumah tangga dengan sistem filtrasi karbon aktif. Teknologi ini dirancang khusus untuk mengurai persoalan sampah domestik yang selama ini belum tertangani secara maksimal di Indonesia.

Sistem pembakaran tertutup atau closed combustion system dipadukan dengan penyaringan berbasis karbon aktif. Kombinasi ini berfungsi menekan emisi berbahaya saat proses pembakaran berlangsung, sehingga penggunaannya lebih aman bagi lingkungan sekitar.

Inovasi ini digagas oleh lima mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Sekolah Vokasi UGM. Kelimanya adalah Amir Fren Afrizal, Rahma Alya Nabila Damayanti, Fa'iq Al-Baihaqi, Muhammad Lathif Adani, dan Muhammad Zulfa Azizi.

Kata Ketua Tim Gelora soal Penghargaan Ini

Ketua Tim Gelora UGM Amir Fren Afrizal menyampaikan rasa syukur atas capaian yang diraih timnya. Ia menilai penghargaan tersebut sebagai pengakuan internasional terhadap upaya menghadirkan solusi pengelolaan sampah domestik yang masih jadi tantangan besar di Tanah Air.

"Kami merasa sangat terhormat bisa menerima Most Impact Award pada U21 RISE Awards. Proyek ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan solusi yang praktis terhadap persoalan pengelolaan sampah domestik di Indonesia. Harapan kami, setiap rumah tangga dapat mengakses teknologi pengelolaan sampah yang lebih mudah, berkelanjutan, dan ramah lingkungan," ujarnya dalam keterangan yang dibagikan, Kamis (6/8).

Berkat penghargaan tersebut, Tim Gelora mengantongi pendanaan awal atau seed funding senilai US$2.000. Dana ini rencananya dipakai untuk menyempurnakan aspek keamanan dan ketahanan produk, sekaligus memperluas penerapannya lewat kolaborasi dengan berbagai mitra.

Amir menambahkan bahwa dukungan pendanaan tersebut akan sangat membantu peningkatan kualitas produk agar lebih aman dan tahan lama. Hal ini juga membuka peluang kerja sama untuk memproduksi serta menerapkan inovasi tersebut dalam skala yang lebih luas.

Respons UGM terhadap Prestasi Tim Gelora

Direktur Kemahasiswaan UGM Hempri Suyatna menuturkan bahwa keberhasilan Tim Gelora membuktikan mahasiswa tak hanya unggul secara akademik. Mereka juga mampu menghasilkan inovasi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Capaian tersebut, menurutnya, sejalan dengan komitmen UGM dalam mencetak lulusan yang memiliki kapasitas intelektual sekaligus kepedulian sosial. "Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa UGM tidak hanya memiliki kemampuan intelektual yang baik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara," tuturnya.

Hempri menegaskan UGM akan terus memperkuat ekosistem inovasi melalui kolaborasi lintas fakultas dan direktorat. Pendampingan berkelanjutan diharapkan mendorong inovasi mahasiswa berkembang menjadi produk matang, bahkan berpeluang menjelma startup atau solusi yang diadopsi masyarakat luas.

"UGM akan terus mendorong agar inovasi mahasiswa berkembang lebih baik melalui kolaborasi, pembinaan, dan pendampingan. Harapannya, produk-produk yang dihasilkan tidak hanya memperoleh rekognisi di tingkat nasional maupun internasional, tetapi juga benar-benar diakui dan dimanfaatkan oleh masyarakat," pungkas Hempri.

Selain Tim Gelora UGM, U21 RISE Awards 2026 turut memberi penghargaan pada tiga proyek mahasiswa dari universitas anggota Universitas 21 lainnya. Most Potential Award diraih Potastic dari University of Birmingham, Most Collaborative Award jatuh ke La Raíz dari UC Chile, sementara People's Choice for Innovation Award diberikan pada Craftscape HK dari University of Hong Kong.

Prestasi Tim Gelora menegaskan bahwa solusi berbasis persoalan sehari-hari tetap punya peluang diakui di panggung global. Ke depannya, pengembangan produk ini patut ditunggu apakah dapat diadopsi lebih luas oleh masyarakat Indonesia.