Periskop.id — Belanda menutup Piala Dunia 2026 dengan penghargaan yang tidak banyak diprediksi. Meski tersingkir pada babak 32 besar, tim Oranje dinobatkan sebagai penerima FIFA Fair Play Award, karena dinilai menunjukkan sikap paling sportif sepanjang turnamen.
Penghargaan tersebut diumumkan FIFA setelah Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 melalui perpanjangan waktu pada final di New York New Jersey Stadium. Ini menjadi Anugerah Fair Play Piala Dunia pertama bagi tim nasional Belanda.
Belanda hanya melangkah satu putaran setelah fase grup. Perjalanan mereka dihentikan Maroko melalui adu penalti dengan skor 3-2 setelah pertandingan berakhir 1-1 hingga 120 menit di Monterrey. Crysencio Summerville dan Quinten Timber gagal menjalankan tugasnya, sedangkan Ismael Saibari mencetak penalti penentu bagi Maroko.
Bukan Hanya Ditentukan Jumlah Kartu
Belanda mengakhiri turnamen dengan tiga kartu kuning. Namun, jumlah kartu dan pelanggaran bukan satu-satunya dasar yang digunakan FIFA untuk menentukan tim paling sportif.
Regulasi Piala Dunia 2026 menetapkan enam unsur dalam penilaian Fair Play. Unsur tersebut mencakup catatan kartu, permainan positif, penghormatan kepada lawan, sikap terhadap wasit dan perangkat pertandingan, perilaku ofisial tim, serta perilaku pendukung.
Permainan positif dinilai dari keberanian menyerang, upaya mempercepat pertandingan, serta keinginan terus mencetak gol. FIFA memberikan penilaian negatif terhadap permainan kasar, tindakan berpura-pura, dan upaya membuang waktu.
Penghormatan terhadap lawan juga tidak berhenti pada ketiadaan tekel keras. Delegasi FIFA dapat mempertimbangkan tindakan seperti membantu pemain lawan yang cedera, menerima keputusan pertandingan, dan menunjukkan sikap positif di lapangan.
Begitu pula dalam penilaian terhadap wasit. Pemain yang menerima keputusan tanpa protes berlebihan berpeluang memperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan tim yang terus-menerus mengerumuni atau memengaruhi perangkat pertandingan.
Karena itu, tim dengan jumlah pelanggaran paling sedikit belum tentu otomatis memenangi penghargaan. Penilaian dilakukan secara menyeluruh terhadap cara pemain, pelatih, staf, dan suporternya membawa diri selama turnamen.
Dinilai Setelah Setiap Pertandingan
FIFA tidak memilih pemenang hanya berdasarkan penilaian pada akhir turnamen. Seusai setiap pertandingan, seorang delegasi FIFA mengisi formulir Fair Play setelah berkonsultasi dengan wasit dan penilai wasit.
Nilai dari seluruh pertandingan kemudian dijumlahkan dan dibagi berdasarkan jumlah laga yang dimainkan. Keputusan akhir FIFA bersifat final.
Hanya tim yang berhasil melewati fase grup yang dapat mengikuti persaingan penghargaan tersebut. Ketentuan ini menjelaskan mengapa negara yang tampil sangat disiplin tetapi langsung tersingkir pada fase pertama tidak masuk dalam penilaian akhir.
Sistem itu juga memungkinkan perbandingan yang lebih adil antara tim yang memainkan empat pertandingan dan negara yang melangkah hingga final. Penilaian menggunakan rata-rata setiap laga, bukan hanya mengandalkan jumlah keseluruhan kartu atau pelanggaran.
Penghibur Setelah Tersingkir Dramatis
Penghargaan Fair Play menjadi pelipur lara bagi Belanda setelah perjalanan yang berakhir lebih cepat daripada target. Oranje sempat memimpin Maroko melalui gol emosional Cody Gakpo, tetapi gagal mempertahankan keunggulan setelah Issa Diop menyamakan skor pada masa tambahan waktu.
Kapten Belanda Virgil van Dijk mengakui timnya gagal menyelesaikan pertandingan ketika kemenangan sudah berada di depan mata.
“Rencana permainan kami berjalan. Pada akhirnya, pada masa tambahan waktu, Anda terus ditekan. Kemudian pertandingan berlanjut ke adu penalti dan setelah itu, sayangnya, kami tersingkir. Tentu selalu ada hal yang bisa dilakukan lebih baik, tetapi itu tidak membantu kami sekarang,” kata Van Dijk dalam terjemahan.
Kegagalan tersebut turut memicu mundurnya Ronald Koeman dari jabatan pelatih. Ia menerima tanggung jawab atas pencapaian Belanda yang berada jauh di bawah target semifinal.
“Kami semua memimpikan Piala Dunia tempat kami akan membuat sejarah. Itu tidak terjadi. Tidak ada yang lebih kecewa daripada saya. Sebagai pelatih kepala, Anda memikul tanggung jawab itu,” tulis Koeman dalam terjemahan.
Di tengah kekecewaan tersebut, Anugerah Fair Play memberi pengakuan bahwa cara sebuah tim menjalani kompetisi tetap dihargai, bahkan ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Ada Program Sosial Senilai hingga US$50.000
Penghargaan ini bukan sekadar trofi simbolis. Berdasarkan regulasi turnamen, FIFA bersama sponsor akan menjalankan kampanye pembangunan sosial berbasis sepak bola di wilayah asosiasi pemenang.
Anggaran program tersebut dapat mencapai 50.000 dolar AS. Federasi Belanda akan dilibatkan dalam pembahasannya, meskipun FIFA tetap memiliki kewenangan menentukan bentuk, waktu, dan lokasi pelaksanaan kegiatan.
Artinya, penghargaan yang diraih Oranje dapat diterjemahkan menjadi kegiatan pembinaan atau program sosial yang memberi manfaat di luar lapangan.
Belanda Masuk Daftar Pemenang sejak 1970
FIFA Fair Play Award untuk Piala Dunia pertama kali diberikan kepada Peru pada 1970. Brasil menjadi negara dengan koleksi terbanyak, yakni empat kali, sedangkan Inggris dan Spanyol masing-masing mendapatkannya tiga kali.
Sebelum Belanda, Inggris meraih penghargaan tersebut pada Piala Dunia 2022. Spanyol menjadi pemenang pada 2018, Kolombia pada 2014, dan Spanyol kembali mendapatkannya ketika menjadi juara dunia pada 2010.
Kemenangan Belanda menunjukkan Fair Play tidak selalu berjalan searah dengan keberhasilan kompetitif. Oranje gagal melangkah jauh, tetapi FIFA menilai mereka tetap menjaga permainan positif, menghormati lawan dan perangkat pertandingan, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan semangat turnamen.
Mereka pulang tanpa trofi Piala Dunia, tetapi meninggalkan Amerika Utara dengan pengakuan bahwa kekalahan dapat diterima tanpa kehilangan sportivitas.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar