Periskop.id – Lionel Messi mengakui kekalahan Argentina dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026 meninggalkan luka mendalam yang tidak dapat pulih dalam waktu singkat. Meski gagal mempertahankan gelar, kapten berusia 39 tahun itu tetap bangga karena timnya mampu menembus dua final Piala Dunia secara beruntun.

Argentina menyerah 0-1 kepada Spanyol dalam pertandingan final di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, Minggu, 19 Juli 2026. Gol tunggal pemain pengganti Ferran Torres pada menit ke-106 mengakhiri ambisi La Albiceleste menjadi tim pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia putra.

Kekalahan tersebut juga berpotensi menjadi penampilan terakhir Messi di Piala Dunia. Pemain Inter Miami itu diperkirakan tidak lagi tampil pada edisi 2030 ketika usianya mencapai 43 tahun, meskipun sampai sekarang ia belum mengumumkan keputusan pensiun dari tim nasional.

"Rasanya luar biasa pedih, dan luka ini membutuhkan waktu untuk pulih. Namun, saya juga tetap mengingat semua hal baik yang telah terjadi," tulis Messi di media sosial.

Messi Tetap Bangga dengan Perjalanan Argentina

Messi memilih tidak hanya mengenang kegagalan pada laga terakhir. Ia menyoroti perjuangan Argentina sepanjang turnamen, termasuk dukungan para pendukung yang kembali menyatukan masyarakat di negaranya.

"Laga-laga yang berhasil kami atasi dengan mencurahkan segalanya di lapangan, momen-momen yang akan selalu abadi dalam ingatan kami, serta dukungan dari seluruh negeri, yang berpadu dengan kerja keras dan perjuangan tim ini, telah membawa kami kembali ke jajaran elite dunia," tulis Messi.

Argentina melewati fase grup dengan meyakinkan sebelum menunjukkan karakter kuat pada babak gugur. Mereka beberapa kali membutuhkan gol pada pengujung pertandingan, termasuk ketika membalikkan keadaan untuk mengalahkan Inggris 2-1 pada semifinal melalui gol Lautaro Martinez pada menit ke-92.

Messi menjadi motor serangan tim dengan catatan delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen. Jumlah gol itu menempatkannya di bawah penyerang Prancis Kylian Mbappe, yang meraih Sepatu Emas setelah mengoleksi 10 gol. Penghargaan pemain terbaik turnamen jatuh kepada kapten Spanyol, Rodri.

"Sulit untuk sepenuhnya mengapresiasi pencapaian kami saat ini, tetapi tim ini telah mencapai dua final Piala Dunia berturut-turut," ujarnya.

Pencapaian tersebut melanjutkan periode sukses Argentina setelah menjuarai Copa America 2021, Piala Dunia 2022, Finalissima 2022, dan Copa America 2024. Messi masih tercatat sebagai pemain Argentina dengan koleksi gelar terbanyak.

Final Ketiga Messi Berakhir Tanpa Gelar

Final melawan Spanyol menjadi pertandingan puncak Piala Dunia ketiga bagi Messi setelah edisi 2014 dan 2022. Ia menjadi pemain kedua dalam sejarah sepak bola putra yang tampil dalam tiga final, menyamai pencapaian mantan kapten Brasil, Cafu.

Argentina mampu menahan Spanyol tanpa gol selama 90 menit berkat penampilan gemilang Emiliano Martinez. Penjaga gawang yang akrab disapa Dibu itu membukukan 12 penyelamatan, rekor terbanyak dalam satu pertandingan final Piala Dunia.

Namun, situasi berubah setelah Enzo Fernandez diusir wasit menjelang berakhirnya waktu normal. Unggul jumlah pemain, Spanyol meningkatkan tekanan hingga Torres menyambar bola di kotak penalti dan mencetak gol kemenangan pada menit ke-106.

Spanyol tampil lebih dominan dan melepaskan 20 tembakan sebelum Argentina mencatatkan percobaan pertamanya. Pasukan Luis de la Fuente kemudian mempertahankan keunggulan hingga akhir untuk meraih gelar dunia kedua setelah keberhasilan pada 2010.

Kemenangan itu melengkapi performa pertahanan Spanyol yang hanya kemasukan satu gol dalam delapan pertandingan. Catatan tersebut menjadi rekor jumlah kebobolan paling sedikit bagi sebuah tim juara Piala Dunia.

Masa Depan Messi Bersama Argentina Belum Jelas

Messi belum memberikan kepastian mengenai kelanjutan kariernya bersama Argentina. Sebelum dan selama turnamen, ia hanya mengisyaratkan bahwa Piala Dunia 2026 kemungkinan besar menjadi penampilan terakhirnya pada kompetisi tersebut.

Meski demikian, pesannya setelah final tidak berisi pengumuman perpisahan. Ia justru menekankan kebanggaan terhadap rekan satu tim, suporter, dan perjalanan Argentina hingga kembali menjadi salah satu dari dua tim terbaik dunia.

"Terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam atas setiap ucapan dan pesan yang disampaikan. Sekali lagi, kami berhasil bersatu sebagai sebuah negara dan berdiri bersama, berbagi kebanggaan luar biasa sebagai warga Argentina. Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Spanyol atas keberhasilannya meraih gelar juara," katanya.

Kekalahan di New Jersey membuat Messi gagal menutup turnamen dengan trofi kedua. Namun, delapan gol, empat assist, dan keberhasilannya membawa Argentina ke final beruntun tetap memperpanjang catatan luar biasa sang kapten pada level internasional.

Kini, Argentina harus menunggu keputusan Messi sekaligus mempersiapkan pergantian generasi menuju Piala Dunia 2030. Sementara bagi Messi, waktu akan menentukan apakah tangis di New Jersey benar-benar menjadi akhir perjalanannya di panggung terbesar sepak bola dunia.