iklan periskop
Teknologi

Kaspersky: AI Bikin Serangan Siber Makin Cepat, Talenta Jadi Tantangan Besar

Kaspersky menyoroti AI yang mempercepat kejahatan siber dan kesenjangan talenta keamanan siber Asia-Pasifik dalam Academic Partners Summit 2026 Jakarta

4 hari yang lalu · 6 mnt baca
teknologi AI
Ilustrasi - Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). dok. Kaspersky
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah wajah ancaman siber. Teknologi yang sama-sama bisa digunakan untuk memperkuat pertahanan kini juga memungkinkan pelaku kejahatan mengembangkan malware, melakukan pengintaian, hingga menjalankan phishing dengan biaya dan waktu yang lebih rendah.

Ancaman tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Kaspersky Academic Partners Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (19/8/2026). Kaspersky menilai perkembangan AI perlu diimbangi dengan penguatan talenta keamanan siber karena manusia tetap memegang peran penting dalam pengambilan keputusan, pemikiran kritis, dan pertimbangan etis.

Pertemuan bertajuk “AI, Security, and Society: What’s Next for Our Digital Future?” tersebut mempertemukan praktisi keamanan siber, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk membahas dampak AI terhadap keamanan digital dan masyarakat, terutama di kawasan Asia-Pasifik.

Dalam pemaparannya, Kaspersky mencatat Asia-Pasifik menyumbang sekitar 60% kesenjangan talenta keamanan siber dunia, sementara 95% tim keamanan dilaporkan masih menghadapi kekurangan tenaga ahli. Di Asia Tenggara, sekitar 65% lowongan keamanan siber mensyaratkan pengalaman tiga tahun atau kurang, membuka peluang cukup besar bagi talenta yang baru memasuki industri.

Kaspersky menilai persoalan talenta di Indonesia dan ASEAN bukan sekadar kurangnya minat mahasiswa. Tantangan juga muncul dari keterbatasan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi memadai dan masih minimnya materi pelatihan keamanan siber dalam bahasa lokal.

Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky Evgeniya Russkikh menilai, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup untuk mempersiapkan profesional keamanan siber menghadapi era AI. Menurutnya, etika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting. Mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya, kata Evgeniya, juga  membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat. 

"Kolaborasi kuat antara akademisi, industri, dan sektor publik akan sangat penting untuk membangun sumber daya manusia yang dibutuhkan demi masa depan digital yang tangguh,” ujar Evgeniya.

Kekhawatiran mengenai kebutuhan talenta tersebut sejalan dengan temuan ISC2. Studi tenaga kerja keamanan siber global 2025 yang diterbitkan organisasi itu menunjukkan keterbatasan keterampilan dan jumlah personel masih menjadi salah satu tantangan utama bagi tim keamanan siber, bersamaan dengan tekanan anggaran dan perubahan yang dibawa AI.

Di Indonesia, pemerintah juga mulai memperbesar investasi pada pengembangan sumber daya manusia di bidang AI dan keamanan siber. Kementerian Komunikasi dan Digital pada Januari 2026 menyatakan penguasaan dua bidang tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi transformasi digital.

Kebutuhan talenta tersebut semakin mendesak karena ketergantungan organisasi pada teknologi digital terus meningkat. Kaspersky sebelumnya mencatat 88% organisasi yang disurvei mengalami sedikitnya satu insiden siber sepanjang 2024, dengan kesalahan manusia masih menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap insiden keamanan.

AI Mulai Masuk ke Pengembangan Malware

Selain persoalan tenaga ahli, Kaspersky menyoroti semakin intensifnya penggunaan AI di sisi penyerang.

Perusahaan keamanan siber tersebut melihat adanya evolusi sejak 2022, ketika AI sebagian besar digunakan sebagai asisten pengetahuan dalam pengembangan malware. Pada 2023 dan 2024, penggunaannya berkembang untuk membantu penulisan kode, reconnaissance, hingga pembuatan phishing.

Memasuki 2025, AI disebut semakin terintegrasi dalam alur kerja pengembangan malware. Tahap berikutnya berpotensi mengarah pada malware bersifat agentic, yakni perangkat lunak berbahaya dengan tingkat kemampuan lebih tinggi untuk menjalankan sejumlah tindakan secara otonom.

AI juga dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi sumber terbuka, mencari kerentanan, membuat alat eksploitasi, melakukan debugging kode hingga membantu tahapan lain dalam operasi siber ofensif.

Peneliti Keamanan Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, mengatakan perubahan terbesar terletak pada kecepatan dan aspek ekonomi operasi kejahatan siber.

“AI mengubah aspek ekonomi dan kecepatan kejahatan siber. Teknologi ini tidak hanya membantu penyerang menulis kode lebih cepat, tetapi juga semakin mendukung pengintaian, penelitian, pengujian, dan tahapan operasi ofensif lainnya. Evolusi ini mempertegas perlunya para profesional keamanan siber, peneliti, dan pendidik untuk memahami bagaimana AI diadopsi oleh pelaku ancaman, sehingga kita dapat memperkuat pertahanan dan bersiap menghadapi ancaman siber generasi berikutnya,” kata Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky.

Menurut Kaspersky, sejumlah karakteristik bahkan dapat menjadi petunjuk awal bahwa kode malware dibuat dengan bantuan AI, seperti komentar kode berlebihan, penamaan variabel terlalu umum, keluaran yang menyerupai tutorial, penggunaan emoji dalam pesan, hingga munculnya modul atau API yang sebenarnya tidak tersedia akibat halusinasi model AI.

Risiko tersebut bukan lagi sekadar skenario teoritis. Reuters pada 13 Agustus 2026 melaporkan Taiwan mendeteksi kampanye serangan siber yang menggunakan kombinasi operasi manual dan bantuan agen AI untuk membidik lembaga pemerintah. Pemerintah Taiwan kemudian memperkuat pemantauan sistem dan pedoman perlindungan menghadapi ancaman siber berbasis AI.

Tren serupa juga mendapat perhatian industri keuangan Asia. Reuters pada April 2026 melaporkan sejumlah bank dan regulator di kawasan meningkatkan pengawasan karena model AI canggih berpotensi mempercepat proses pencarian serta eksploitasi kerentanan perangkat lunak.

Indonesia Butuh Talenta dan Tata Kelola AI

Direktur Direktorat Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada Prof. Ridi Ferdiana menilai, kemampuan Indonesia menghadapi era AI tidak hanya akan ditentukan oleh teknologi yang tersedia, tetapi juga sumber daya manusia dan tata kelolanya.

AI, menurut dia, telah berkembang menjadi faktor strategis yang dapat memengaruhi ekonomi, ketahanan nasional, hingga keamanan. Karena itu, pemanfaatannya perlu diiringi kemampuan masyarakat untuk beradaptasi.

"Dan saya sangat meyakini pentingnya berpikir kritis, ko-kreativitas dengan AI, kolaborasi terbuka, komunikasi yang baik, serta sikap yang tepat terhadap keamanan siber," ujarnya.

Pemerintah Indonesia membawa pandangan serupa. Kementerian Komdigi pada April 2026 menekankan AI seharusnya digunakan untuk memberdayakan manusia, bukan menggantikannya, sekaligus menempatkan keamanan siber sebagai elemen penting dalam transformasi digital.

Penguatan talenta juga mulai dilakukan melalui sejumlah program. Pada Juni 2026, Komdigi dan ASEAN Foundation memperkuat kerja sama melalui ASEAN AI Ready, yang menyasar pengembangan keterampilan AI bagi masyarakat di Indonesia dan negara ASEAN. Pemerintah juga menjalankan Digital Talent Scholarship dengan bidang pelatihan yang mencakup AI dan keamanan siber.

Urgensinya semakin besar ketika Indonesia berupaya memperluas pemanfaatan AI di berbagai sektor. Pemerintah sendiri tengah mendorong penerapan AI dalam sejumlah program strategis, tetapi para pengamat menilai keterbatasan keterampilan tenaga kerja dan infrastruktur masih menjadi hambatan Indonesia untuk bergerak dari sekadar pengguna menjadi pengembang teknologi AI.

Melalui Academic Partners Summit 2026, Kaspersky mendorong kolaborasi lebih erat antara perguruan tinggi, industri, komunitas keamanan siber, dan pemerintah. Fokusnya bukan hanya mencetak lebih banyak tenaga teknis, tetapi juga mempersiapkan profesional yang mampu memahami konsekuensi sosial dan etis dari penggunaan AI.

Di tengah AI yang dapat digunakan sekaligus sebagai alat pertahanan dan senjata serangan, kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu garis pertahanan terpenting. Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya mengejar adopsi teknologi, melainkan memastikan pertumbuhan AI berjalan beriringan dengan keamanan siber, tata kelola yang kuat, dan ketersediaan talenta yang memadai.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai kaspersky, Artificial Intelligence, dan keamanan siber dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.