Periskop.id - Kaspersky mengungkapkan pola penyebaran konten dan promosi judi online mengalami perubahan signifikan. Modus yang sebelumnya mengandalkan situs web dan iklan digital kini bergeser ke akun media sosial palsu serta sistem otomatis.

Country Manager Kaspersky Indonesia Defi Nofitra memaparkan, promosi judi online kini lebih sering muncul lewat spam komentar di unggahan viral, akun dengan interaksi tinggi, pesan pribadi, tautan sementara, hingga penyingkat URL. Ia menilai metode ini jauh lebih sulit dilacak dibanding cara lama.

"Kita melihat pergeseran yang jelas dari situs web statis dan iklan banner menuju metode distribusi yang sangat adaptif dan otomatis," kata Defi, dikutip Senin (20/7).

Menurutnya, beberapa tahun lalu promosi judi online relatif gampang dikenali karena umumnya memakai situs khusus atau iklan digital. Konten promosi kini justru disamarkan sebagai interaksi pengguna biasa, sehingga upaya moderasi dan penumpasan jadi lebih rumit.

Defi menyebut bot otomatis jadi salah satu pendorong utama masifnya penyebaran promosi ini. Bot mampu menerbitkan ribuan komentar dalam waktu singkat, membuat akun baru begitu akun lama diblokir, serta mengubah kata kunci dan gaya bahasa demi menghindari sistem deteksi.

"Alih-alih menggantikan manusia sepenuhnya, bot dan otomatisasi memperkuat skala dan kecepatan kampanye ini," ujar Defi.

Fenomena ini terlihat dari lonjakan komentar spam berisi promosi judi online di berbagai unggahan populer media sosial. Defi menilai lonjakan tersebut jadi sinyal bahwa praktik ilegal ini sudah berkembang menjadi operasi terorganisasi, bukan lagi aktivitas yang berjalan sendiri-sendiri.

Ia menyoroti data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang mencatat lebih dari 1,3 juta konten terkait judi online telah diblokir sepanjang Oktober 2024 hingga Mei 2025.

Angka tersebut, menurut Defi, menggambarkan besarnya skala promosi perjudian ilegal yang masih beredar di ruang digital meski pemblokiran terus dilakukan.

Karena itu, pemberantasan judi online dinilai tidak cukup hanya lewat pemblokiran situs web. Defi menekankan perlunya kolaborasi lebih erat antar berbagai pihak untuk membongkar ekosistem yang menopang penyebaran konten ini.

"Diperlukan kolaborasi yang lebih kuat antara platform digital, lembaga pemerintah, perusahaan keamanan siber, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk mengganggu ekosistem yang lebih luas yang memungkinkan kampanye-kampanye ini menyebar," katanya.