iklan periskop
Ekonomi

Prabowo Sindir Istilah BPS "Aspiring Middle Class": Bilang Saja Miskin!

Presiden Prabowo menyindir penggunaan istilah aspiring middle class oleh BPS. Ia meminta pemerintah jujur mengakui kemiskinan agar masalah bisa diatasi.

6 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Presiden Prabowo Subianto, Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah
Tangkapan layar Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). Foto oleh Periskop/Mila Yuliana
Ukuran teks
Sedang

periskop.id – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyindir penggunaan istilah-istilah ekonomi berlapis seperti aspiring middle class keluaran Badan Pusat Statistik (BPS) yang dinilai terlalu memperhalus keadaan dan tidak mencerminkan kondisi riil kemiskinan masyarakat di lapangan.

“Kita ini kadang-kadang takut bicara apa adanya. Gak mau kita mengakui, gak mau bilang miskin. Dibilang prasejahtera, habis itu ada istilah lagi aspiring middle class,” kata Prabowo dalam rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Senin (2/2).

Kepala Negara mempertanyakan logika di balik penggunaan terminologi asing tersebut. Menurutnya, definisi kelompok yang sedang berusaha naik ke kelas menengah secara harfiah berarti mereka belum mencapai taraf hidup tersebut.

Penggunaan istilah yang terlalu teknis dikhawatirkan justru mengaburkan status ekonomi warga yang sebenarnya. Prabowo meminta jajarannya untuk tidak terjebak dalam permainan kata yang membingungkan.

“Kalau dia berusaha naik berarti dia belum sampai kan. Berarti dia bukan kelas menengah. Kalau bukan kelas menengah, dia kelas apa? Tapi dibilang aspiring middle class,” ujarnya menyentil para pejabat.

Mantan Danjen Kopassus ini memahami bahwa pemilihan diksi halus mungkin bertujuan menjaga moral dan semangat bangsa. Namun, pendekatan tersebut tidak boleh menutupi realitas pahit bahwa masih banyak rakyat hidup dalam keterbatasan.

Prabowo menegaskan negara tidak boleh menutup mata dengan berlindung di balik angka atau istilah statistik. Pengakuan jujur terhadap kondisi kemiskinan merupakan langkah awal paling krusial untuk merumuskan solusi yang tepat sasaran.

“Kita harus paham bahwa kita masih menghadapi kesulitan, masih menghadapi tantangan, masih menghadapi kekurangan,” tegasnya mengingatkan seluruh peserta Rakornas.

Dalam pidatonya, Prabowo lantas menggambarkan karakter masyarakat Indonesia yang tetap dermawan meski hidup pas-pasan. Ia teringat kisah Presiden Singapura yang pernah berkeliling Sulawesi Selatan ala backpacker saat muda dan ditolong warga setempat.

“Mereka sangat miskin, tapi tamu datang diterima dengan baik. Makan hanya nasi dengan pisang, itu dibagi untuk dua tamu. Ini sifat bangsa kita,” kenang Prabowo menirukan cerita tersebut.

Kondisi serba kekurangan seperti dalam cerita itu dinilai Prabowo masih relevan hingga hari ini. Ia meminta para pemimpin daerah untuk peka bahwa masih ada warga yang bertahan hidup dengan menu seadanya.

“Sekarang pun rakyat kita masih banyak yang hanya makan nasi, mungkin dengan daun singkong, mungkin hanya dengan garam,” pungkas Prabowo.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Aspiring Middle Class, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Prabowo Subianto dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.