periskop.id - Gosip, mengeluh, dan menunda pekerjaan adalah tiga hal yang paling sering masuk dalam daftar resolusi hal yang harus dihentikan. Namun, sebuah artikel menarik dari Psychology Today menawarkan perspektif berbeda yang didukung oleh penelitian ilmiah. Alih-alih membuang sepenuhnya kebiasaan tersebut, para ahli menyarankan kita untuk memahaminya sebagai alat bantu sosial dan emosional. Berikut rangkuman bagaimana tiga kebiasaan yang sering dianggap buruk ini justru dapat menjadi alat untuk mengoptimalkan potensi diri.

Sisi Terang Bergosip: Perekat Kelompok dan Pengurang Kecemasan

Ketika mendengar istilah gosip, banyak orang langsung mengaitkannya dengan obrolan tidak penting atau drama sehari-hari. Namun, psikologi memandang gosip secara lebih objektif. Gosip dipahami sebagai proses berbagi penilaian tentang seseorang yang tidak hadir, tanpa selalu bermuatan negatif. Saat stigma moral disisihkan, praktik ini justru menunjukkan fungsi sosial yang menarik.

Sebuah studi tahun 2021 di jurnal Current Biology menunjukkan bahwa gosip berperan sebagai sarana pembelajaran perwakilan (vicarious learning). Artinya, kita belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Saat membicarakan perilaku rekan kerja, siapa yang bisa dipercaya, atau siapa yang cenderung curang kita sedang menyerap norma sosial secara tidak langsung. Gosip bekerja seperti sistem navigasi sosial yang membantu kita memahami peta perilaku di sekitar.

Selain sebagai sarana belajar, gosip juga berkontribusi dalam memperkuat ikatan kelompok. Kesamaan sudut pandang terhadap suatu peristiwa dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling pengertian. Hubungan emosional pun menjadi lebih erat, sekaligus membantu mengurangi kecemasan sosial. Meski demikian, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan jika gosip dijaga dalam batas yang sehat, sebagai upaya memahami dinamika sosial, bukan untuk menyebarkan fitnah atau kepentingan negatif.

Mengeluh Tidak Selalu Toxic: Seni Melakukan Targeted Venting

Sekarang, fokuskan perhatian dari membicarakan orang lain ke memahami perasaan sendiri. Kebiasaan mengeluh memang sering diberi label negatif dan dianggap identik dengan sikap toxic. Padahal, tidak semua keluhan sama. Ada perbedaan mendasar antara mengeluh tanpa arah dan targeted venting, yaitu curhat yang dilakukan secara sadar dan terarah.

Penelitian tahun 2014 yang menggunakan teknologi neuroimaging menunjukkan bahwa berbagi pengalaman negatif dengan pendengar yang suportif dapat meningkatkan aktivitas di area otak yang berkaitan dengan rasa lega dan penghargaan. Temuan ini menegaskan bahwa jika curhat dilakukan dengan tepat dapat memiliki manfaat psikologis dan bukan sekadar luapan emosi.

Dampaknya muncul melalui proses yang sederhana. Saat perasaan yang semula samar diungkapkan menjadi kata-kata yang jelas, emosi menjadi lebih mudah dipahami dan dikendalikan. Dalam konteks ini, curhat berfungsi sebagai cara mengatur emosi. Pendengar yang empatik juga dapat membantu memberi perspektif baru atau menormalkan perasaan sehingga situasi terasa lebih seimbang.

Meski begitu, batas tetap perlu dijaga. Curhat akan tetap sehat jika dilakukan pada situasi yang tepat dan dengan tujuan yang jelas. Jika berubah menjadi kebiasaan saling mengeluh tanpa arah atau co-rumination, curhat justru berisiko memperkuat emosi negatif.

Saat Menunda Justru Menjadi Kunci Produktivitas

Menunda pekerjaan kerap dicap sebagai musuh utama produktivitas. Kebiasaan ini sering dianggap penyebab tugas terbengkalai dan tenggat waktu yang terlewat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa menunda tidak selalu identik dengan kemalasan. Dalam psikologi, kebiasaan menunda dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pasif dan aktif.

Penundaan pasif muncul karena rasa takut, ragu, atau keinginan menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, penundaan aktif bersifat sadar dan strategis. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh peneliti Shin-Hsien Chu dan Jin Nam Choi. Individu dengan pola ini sengaja menunda pekerjaan karena memahami bahwa mereka justru bekerja lebih fokus dan efektif ketika berada di bawah tekanan waktu.

Dari luar, kebiasaan tersebut memang tampak seperti sikap malas. Padahal, bagi pelaku penundaan aktif, jeda waktu adalah bagian dari manajemen kerja yang terencana. Jeda ini berfungsi sebagai masa inkubasi, memberi ruang bagi pikiran bawah sadar untuk mengolah informasi. Dalam ilmu kreativitas, mengambil jarak sejenak dari tugas seringkali melahirkan ide dan solusi yang lebih matang. Selama penundaan tetap terkendali dan menghasilkan kualitas kerja yang tinggi, kebiasaan ini bukanlah kelemahan, melainkan strategi yang cerdas.