Periskop.id – Nilai ekspor DKI Jakarta menembus US$8,59 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2026, tumbuh 4,04% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut terutama ditopang industri pengolahan serta meningkatnya pengiriman kendaraan dan logam mulia ke pasar internasional.

Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat nilai ekspor secara lebih rinci mencapai US$8.587,78 juta. Dengan demikian, angka tersebut setara sekitar US$8,59 miliar, bukan US$8,5 juta seperti tertulis dalam judul sumber awal. 

Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan, kenaikan ekspor selama semester pertama berasal dari tambahan ekspor nonmigas sebesar US$308,13 juta dan migas US$25,60 juta.

"Nilai ekspor migas terjadi kenaikan sebesar 165,7%. Sedangkan non-migas tercatat terjadi kenaikan 3,74%," kata Kadarmanto di Jakarta, Senin (3/8).

Meski pertumbuhan ekspor migas terlihat tinggi secara persentase, struktur perdagangan Jakarta tetap didominasi produk nonmigas. Industri pengolahan menyumbang 97,79% terhadap keseluruhan nilai ekspor dan tumbuh US$427,51 juta atau 5,36% dibandingkan semester pertama 2025. 

Kendaraan dan Logam Mulia Jadi Penggerak

Kendaraan beserta komponennya menjadi salah satu kelompok barang dengan kinerja paling kuat. Nilai ekspor komoditas tersebut tumbuh 15,64% secara kumulatif, menunjukkan produk otomotif tetap memiliki permintaan tinggi di pasar luar negeri.

Ekspor logam mulia dan perhiasan atau permata juga meningkat 10,73%. Sebaliknya, alas kaki yang selama ini termasuk komoditas unggulan Jakarta mengalami penurunan 3,96% dibandingkan Januari hingga Juni 2025. 

Performa positif selama enam bulan pertama tetap perlu dicermati karena laju pertumbuhannya mulai melambat. Pada Januari hingga Mei 2026, ekspor Jakarta masih tumbuh 6,77% dengan nilai US$7,33 miliar. Setelah data Juni masuk, pertumbuhan kumulatif turun menjadi 4,04%. 

Berdasarkan selisih kedua data kumulatif tersebut, ekspor pada Juni diperkirakan sekitar US$1,26 miliar. Nilainya sekitar 3,1% lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai US$1,30 miliar. Perhitungan ini menunjukkan ekspor masih tumbuh secara tahunan, tetapi pergerakan bulanannya belum sepenuhnya stabil. 

Thailand Jadi Pasar Ekspor Terbesar

Thailand, Amerika Serikat, dan China menjadi tiga tujuan utama ekspor Jakarta selama semester pertama 2026. Total nilai pengiriman ke ketiga negara mencapai sekitar US$3,19 miliar.

"Nilai ekspor ketiga negara ini memberikan share yang cukup besar, yaitu sebesar 37,1% dari total ekspor Jakarta pada Januari sampai dengan bulan Juni tahun 2026," ungkap Kadarmanto.

Thailand berada di posisi pertama dengan nilai ekspor US$1,30 miliar. Pengiriman ke negara tersebut didominasi logam mulia, perhiasan, dan permata.

Amerika Serikat menyusul dengan nilai US$1,01 miliar. Komoditas utamanya berupa alas kaki, ikan, pakaian, dan aksesori pakaian. Sementara ekspor menuju China tercatat US$872,28 juta dan didominasi lemak serta minyak hewani atau nabati. 

Dibandingkan periode Januari hingga Mei, nilai ekspor ke Thailand bertambah sekitar US$61 juta. Ekspor ke Amerika Serikat naik sekitar US$161 juta, sedangkan pengiriman ke China bertambah sekitar US$157 juta setelah memperhitungkan realisasi pada Juni. 

Pertumbuhan Jakarta Sejalan dengan Ekspor Nasional

Kenaikan ekspor Jakarta bergerak hampir sejalan dengan perdagangan nasional. BPS mencatat ekspor Indonesia mencapai US$140,81 miliar selama Januari hingga Juni 2026, meningkat 4,13% secara tahunan.

“Sepanjang periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 140,81 miliar dolar AS atau meningkat 4,13% dibanding periode yang sama tahun 2025 (year-on-year/yoy),” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. 

Secara nominal, ekspor Jakarta setara sekitar 6,1% dari keseluruhan ekspor nasional pada semester pertama. Pertumbuhan Jakarta sebesar 4,04 % juga hanya sedikit di bawah pertumbuhan nasional yang mencapai 4,13%. 

Kinerja semester pertama menunjukkan industri pengolahan masih menjadi fondasi utama ekspor Jakarta. Namun, penurunan pada alas kaki dan perlambatan pertumbuhan kumulatif perlu menjadi perhatian, terutama di tengah perubahan permintaan global dan tingginya ketergantungan pada tiga negara tujuan utama.

Diversifikasi pasar serta perluasan produk bernilai tambah menjadi penting agar pertumbuhan ekspor tidak hanya bergantung pada kendaraan, logam mulia, dan sejumlah pasar besar.