Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rasio gini nasional naik tipis menjadi 0,368 pada Maret 2026. Kenaikan ini menandakan ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia kembali melebar dalam enam bulan terakhir.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud memaparkan, angka tersebut naik 0,005 poin dibandingkan posisi September 2025 yang tercatat 0,363.
"Pada bulan Maret 2026, ketimpangan di Indonesia tercatat 0,368 atau naik 0,005 poin dari September 2025," kata Edy dalam konferensi pers, Rabu (5/8).
Menurut Edy, tren ketimpangan pengeluaran masyarakat sempat menunjukkan perbaikan sejak akhir 2024. Namun tren tersebut berbalik arah memasuki awal 2026.
Berdasarkan paparannya, rasio gini nasional pernah menyentuh 0,384 pada Maret 2021, lalu turun ke 0,381 pada September 2021. Angka tersebut naik lagi jadi 0,384 pada Maret 2022, sebelum kembali melandai ke 0,381 pada September 2022.
Ketimpangan sempat mencapai level tertinggi dalam lima tahun terakhir pada Maret 2023, yakni 0,388. Kondisi itu berangsur membaik hingga turun ke 0,379 pada Maret 2024 dan naik tipis lagi ke 0,381 pada September 2024.
Perbaikan berlanjut hingga rasio gini turun ke 0,375 pada Maret 2025, lalu mencapai titik terendah di 0,363 pada September 2025. Tren penurunan itu terhenti dengan kenaikan pada Maret 2026 menjadi 0,368.
Dilihat dari wilayah, ketimpangan di perkotaan tercatat lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Rasio gini perkotaan mencapai 0,387 pada Maret 2026, naik dari 0,383 pada September 2025.
Sementara di perdesaan, rasio gini naik tipis menjadi 0,296 dari sebelumnya 0,295 pada periode yang sama. Kesenjangan antara wilayah kota dan desa itu masih terlihat jelas dalam data terbaru BPS.
BPS menjelaskan, nilai rasio gini berada pada rentang 0 hingga 1. Semakin tinggi nilainya, semakin besar tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar