Periskop.id – Gempa bermagnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, memaksa sejumlah produsen semikonduktor, otomotif, bahan kimia, dan makanan menghentikan operasi. Penutupan pabrik serta gangguan logistik di Pulau Kyushu memunculkan kekhawatiran terhadap rantai pasok apabila pemulihan berlangsung lama.

Badan Meteorologi Jepang atau JMA mencatat gempa terjadi pada Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 16.27 waktu setempat. Pusat gempa berada di wilayah Kumamoto dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Kyushu merupakan salah satu pusat utama industri otomotif dan semikonduktor Jepang. Kedua sektor tersebut diperkirakan menyumbang sekitar dua perlima dari total produksi industri regional, sehingga gangguan di Kumamoto berpotensi menjalar ke pemasok komponen dan fasilitas produksi di wilayah sekitarnya.

Sony dan Renesas Hentikan Produksi Chip

Sony Semiconductor Manufacturing menghentikan operasi di Kumamoto Technology Center yang berada di Kikuyo setelah gempa terjadi. Perusahaan belum menentukan waktu dimulainya kembali produksi karena masih memeriksa kondisi bangunan dan jalur manufaktur.

Sony menyatakan belum menemukan kerusakan berarti di fasilitasnya yang berada di Nagasaki, Oita, dan Kagoshima. Tidak ada korban di antara pekerja yang sedang bertugas ketika gempa mengguncang.

Renesas Electronics juga menghentikan kegiatan di pabrik Kawajiri di Kota Kumamoto dan pabrik Nishiki. Pemeriksaan dilakukan setelah ditemukan panel langit-langit yang jatuh, retakan pada dinding, serta kebocoran air di sejumlah bagian fasilitas.

Tokyo Electron menghentikan sementara operasi di dua fasilitasnya di Kumamoto untuk pemeriksaan keselamatan. Produsen peralatan semikonduktor itu belum menemukan kerusakan besar berdasarkan pemeriksaan awal.

Sementara itu, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC sempat mengevakuasi pekerja di fasilitas Japan Advanced Semiconductor Manufacturing di Kumamoto. Perusahaan kemudian mulai mengoperasikan kembali fasilitas tersebut secara bertahap setelah memastikan seluruh pekerjanya selamat.

Gangguan pada fasilitas-fasilitas tersebut menjadi perhatian karena Kumamoto berkembang sebagai pusat industri chip Jepang. Selain pabrik semikonduktor, wilayah ini juga menampung perusahaan pembuat material dan peralatan yang menjadi bagian penting dalam rantai produksi chip.

Toyota dan Honda Setop Operasi hingga Jumat

Dampak gempa juga menjalar ke industri kendaraan. Toyota Motor Kyushu sempat mengoperasikan kembali pabrik Miyata, Kanda, dan Kokura di Prefektur Fukuoka setelah pemeriksaan keselamatan. Namun, perusahaan kembali menghentikan kegiatan mulai sif kedua pada Rabu hingga sif kedua Jumat, 31 Juli 2026.

Toyota mempertimbangkan keselamatan pekerja, kondisi pemasok, dan kelancaran logistik sebelum melanjutkan produksi.

“Situasi, termasuk gempa susulan dan upaya pemulihan, berubah setiap hari,” kata Toyota dalam pernyataan yang dikutip Reuters.

Pabrik Miyata memiliki kapasitas produksi sekitar 430 ribu kendaraan per tahun dan digunakan untuk merakit sejumlah model Lexus. Adapun pabrik Kanda dan Kokura memproduksi mesin serta komponen kendaraan hibrida.

Honda Motor memperpanjang penghentian produksi di pabrik sepeda motor dan mesin di Kota Ozu hingga Jumat. Kebijakan itu dilakukan untuk memperbaiki bagian fasilitas yang terdampak gempa dan memeriksa kondisi pemasok.

Nissan Motor juga menghadapi keterlambatan pasokan komponen. Berdasarkan laporan, perusahaan berencana menghentikan sebagian kegiatan di dua pabriknya di Fukuoka mulai Kamis sore.

Mitsubishi Electric turut menghentikan operasi di fasilitas kawasan Koshi dan Kikuchi. Pemeriksaan keselamatan masih dilakukan sebelum aktivitas produksi dapat dimulai kembali.

Industri Kimia hingga Logistik Ikut Terdampak

Penghentian operasi tidak hanya terjadi pada sektor teknologi dan otomotif. Suntory Holdings menutup sementara pabrik birnya di Kashima, sedangkan Mitsubishi Chemical menghentikan kegiatan di pabrik Uto.

Nippon Paper Industries masih menilai kerusakan di pabrik Yatsushiro setelah sebuah cerobong di fasilitas tersebut roboh. Insiden itu mengganggu kegiatan produksi serta menyebabkan pekerja hilang atau mengalami luka. Perusahaan belum dapat memastikan jadwal pemulihan pabrik.

Gempa juga menghambat distribusi barang. Japan Post menghentikan layanan kantor pos di seluruh Kumamoto, sementara Yamato Transport menangguhkan penerimaan paket dari dan menuju prefektur tersebut serta sebagian wilayah Miyazaki.

Pengambilan dan pengiriman paket di Kumamoto juga dihentikan. Sagawa Express mengambil langkah serupa di sejumlah daerah terdampak, sehingga kegiatan pemasok dan produsen berpotensi terganggu meskipun fasilitas mereka tidak mengalami kerusakan langsung.

Dampak Diperkirakan Bersifat Sementara

Ekonom Eksekutif Nomura Research Institute Takahide Kiuchi memperkirakan dampak terhadap industri tidak akan sebesar gangguan rantai pasok setelah gempa Tohoku pada 2011. Sebagian besar penghentian kali ini dinilai sebagai langkah pencegahan untuk melindungi pekerja dan memeriksa fasilitas.

“Dampak negatif terhadap aktivitas produksi dan rantai pasok kemungkinan relatif sementara,” kata Kiuchi.

Ia memperkirakan kerugian ekonomi akibat gempa berada di bawah 1 triliun yen atau sekitar US$6,11 miliar. Namun, besarnya dampak akhir akan bergantung pada intensitas gempa susulan, pemulihan jalan dan listrik, serta kecepatan pemasok kembali beroperasi.

Risiko terbesar saat ini tidak hanya berasal dari kerusakan langsung pada pabrik, tetapi juga keterlambatan pengiriman komponen. Apabila penghentian berlangsung lebih lama, gangguan dapat memengaruhi produksi kendaraan, sensor gambar, chip otomotif, hingga peralatan semikonduktor di luar Kumamoto.