Periskop.id - Sedikitnya 300 anak dilaporkan tewas di Jalur Gaza dalam 300 hari sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, atau rata-rata satu anak meninggal setiap hari. Di tengah kesepakatan penghentian pertempuran, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut warga sipil masih menghadapi serangan militer, tembakan artileri, senjata api hingga serangan dari laut.
Dana Anak-Anak PBB atau UNICEF menyatakan, angka tersebut menggambarkan bagaimana anak-anak tetap menjadi kelompok paling rentan meski gencatan senjata telah berlangsung hampir 10 bulan. Ratusan anak lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk cedera serius.
Kondisi kehidupan mereka pun jauh dari aman. UNICEF menyebut keluarga-keluarga di Gaza kini terkonsentrasi hanya di sekitar sepertiga wilayah kantong Palestina tersebut. Banyak dari mereka bertahan di antara bangunan rusak, puing, tumpukan sampah, serta fasilitas air dan sanitasi yang mengalami kerusakan. Anak-anak juga terus menghadapi ancaman malnutrisi akut, penyakit dan keterbatasan air bersih.
Situasi ini memperlihatkan jurang antara kesepakatan gencatan senjata dengan kondisi di lapangan. UNICEF pada Juni lalu mencatat 265 anak Palestina telah tewas sejak gencatan senjata diumumkan. Dalam waktu kurang dari dua bulan, angka itu kemudian meningkat menjadi sedikitnya 300 anak.
Bantuan Kemanusiaan Berjalan di Tengah Kondisi Sulit
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA menyatakan operasi kemanusiaan tetap berjalan di tengah ancaman keamanan, padatnya lokasi pengungsian serta keterbatasan layanan dasar.
"Saat anak-anak terus hidup di bawah kondisi yang sulit, termasuk tempat pengungsian yang kelebihan kapasitas tampung serta akses yang minim terhadap air bersih dan layanan kesehatan, PBB beserta para mitra kemanusiaan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan bantuan," ujar OCHA.
Dalam laporan sebelumnya, OCHA juga menggambarkan kondisi kemanusiaan Gaza masih kritis akibat operasi militer yang berlanjut, pengungsian berulang, kerusakan layanan dasar serta keterbatasan akses bantuan. Sekitar 1.600 lokasi pengungsian telah dipetakan di seluruh Gaza, tetapi layanan perlindungan untuk perempuan dan anak perempuan baru mampu menjangkau sebagian kecil dari lokasi tersebut.
Dalam sepekan terakhir, mitra kemanusiaan yang menangani perlindungan anak menyalurkan lebih dari 800 perlengkapan kebersihan beserta wadah air dan deterjen kepada 50 keluarga pengungsi. Sebanyak 300 kartu identitas anak dan 500 buku tulis juga disalurkan.
"Bulan lalu, para mitra menyalurkan bantuan tunai, perangkat bantu, alat bantu jalan, popok, kasur medis, dan layanan rehabilitasi kepada lebih dari 500 anak penyandang disabilitas," kata OCHA.
Bantuan tersebut menjadi penting di tengah rusaknya sistem layanan kesehatan Gaza. UNICEF mencatat konflik telah membuat layanan imunisasi, kesehatan ibu dan bayi, serta pelayanan kesehatan dasar menghadapi gangguan serius. Kondisi tempat tinggal yang padat dan tidak sehat turut meningkatkan risiko penyakit bagi anak-anak.
Perempuan dan Anak Perempuan Hadapi Risiko Tambahan
Krisis juga memberikan tekanan besar terhadap perempuan dan anak perempuan. Mitra kemanusiaan baru-baru ini membuka ruang aman tambahan di Kegubernuran Gaza Utara yang menyediakan tempat rahasia bagi perempuan dan anak perempuan untuk mendapatkan dukungan serta berbagi pengalaman terkait kekerasan berbasis gender.
"Di seluruh Gaza, sekitar 8.400 wanita dan anak perempuan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di 85 ruang aman setiap pekannya," kata badan kemanusiaan tersebut. Data itu juga tercantum dalam pengarahan harian PBB pada 6 Agustus 2026.
Namun, kebutuhan jauh lebih besar dibandingkan kapasitas pelayanan yang tersedia. OCHA sebelumnya mencatat kondisi kesehatan seksual dan reproduksi semakin memburuk. Hampir 4.000 kasus keguguran tercatat sepanjang semester I 2026, sementara lebih dari 57% perempuan hamil mengalami anemia.
Serangan Tetap Berlangsung setelah Gencatan Senjata
Kekerasan yang terjadi setelah gencatan senjata tidak hanya menimpa anak-anak. Reuters melaporkan sekitar 1.200 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel dalam sembilan bulan sejak kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025, berdasarkan keterangan pejabat kesehatan Palestina. Banyak korban disebut merupakan perempuan dan anak-anak.
Pada 1 Agustus, serangan Israel menewaskan sedikitnya 18 orang di sejumlah wilayah Gaza, salah satu angka kematian harian tertinggi dalam beberapa pekan. Reuters melaporkan serangan mengenai Gaza City, Deir al-Balah hingga Khan Younis.
Sejumlah negara, termasuk Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Turki, Qatar, Yordania dan Pakistan kemudian mengecam serangan terhadap fasilitas kesehatan dan infrastruktur sipil serta jatuhnya korban di Gaza.

Pemerintah Israel menolak tudingan tersebut. Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan kritik negara-negara itu mengabaikan apa yang disebut Israel sebagai pelanggaran Hamas terhadap rencana perdamaian, termasuk tudingan bahwa kelompok tersebut kembali mempersenjatai diri, merekrut anggota dan membangun kembali terowongan.
Gencatan senjata yang dimulai pada Oktober 2025 memang berhasil mengurangi skala pertempuran dibandingkan fase sebelumnya, tetapi kekerasan tidak sepenuhnya berhenti. Pada Januari 2026, juru bicara UNICEF James Elder bahkan telah memperingatkan bahwa lebih dari 100 anak tewas sejak gencatan senjata, terutama akibat serangan udara, drone, tembakan tank dan senjata api.
Kekerasan Pemukim di Tepi Barat Ikut Meningkat
Tekanan terhadap warga Palestina juga terjadi di Tepi Barat. Pada Rabu (5/8) malam, sekelompok pemukim Israel dilaporkan membakar rumah-rumah warga Palestina di Tuba, kawasan Masafer Yatta, Hebron.
Tiga keluarga yang mencakup 14 anak terpaksa meninggalkan tempat tinggal dan berlindung di rumah kerabat maupun tetangga. Sejumlah warga dilaporkan terluka, termasuk dua anak, sementara sistem tenaga surya, sekitar 10 ton pakan ternak dan sejumlah aset lainnya rusak atau musnah.
OCHA mencatat lebih dari 1.380 insiden terkait pemukim Israel yang menyebabkan korban, kerusakan properti atau keduanya selama tujuh bulan pertama 2026. Insiden tersebut terjadi di sekitar 250 komunitas Palestina dengan rata-rata sekitar 6,6 kejadian per hari. Dalam periode yang sama, lebih dari 2.300 warga Palestina terpaksa mengungsi akibat serangan pemukim dan pembatasan akses terkait.
Data itu melanjutkan tren peningkatan kekerasan yang telah dicatat OCHA sejak awal tahun. Hingga 20 Juli saja, lembaga tersebut mencatat lebih dari 1.330 serangan pemukim yang mengakibatkan korban atau kerusakan properti. Jumlah korban luka terkait serangan pemukim juga meningkat menjadi lebih dari tiga orang per hari pada 2026.
Di tengah kondisi tersebut, UNICEF dan badan-badan kemanusiaan PBB kembali menekankan perlunya perlindungan terhadap warga sipil, penghentian kekerasan serta akses bantuan kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan. Bagi anak-anak Gaza, hampir 10 bulan setelah gencatan senjata diumumkan, ancaman terhadap keselamatan dan kebutuhan dasar mereka belum berakhir.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar