Periskop.id - PT Bank KEB Hana Indonesia atau Hana Bank membukukan laba bersih sebesar Rp360,76 miliar sepanjang semester I 2026, tumbuh 9,21% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba ditopang peningkatan penyaluran kredit dengan kualitas aset yang tetap terjaga.

Dibandingkan semester I 2025 ketika laba bersih tercatat Rp330,33 miliar, keuntungan Hana Bank bertambah sekitar Rp30,43 miliar dalam setahun. Meski tetap tumbuh, laju kenaikannya lebih moderat dibandingkan pertumbuhan laba 27% yang dicatat perusahaan pada semester I tahun lalu.

Direktur Utama Hana Bank Yung Ryul Ko mengatakan, perseroan tetap optimistis terhadap prospek bisnis hingga akhir 2026 meskipun perekonomian masih menghadapi berbagai tantangan.

“Ke depan, Hana Bank terus berinovasi menghadirkan produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah dan perkembangan situasi ekonomi, sekaligus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Yung Ryul Ko.

Kredit Naik Jadi Rp43,23 Triliun

Salah satu penopang kinerja Hana Bank berasal dari bisnis intermediasi. Penyaluran kredit mencapai Rp43,23 triliun, meningkat 8,81% yoy dari sekitar Rp39,73 triliun pada semester I 2025. Sejalan dengan ekspansi tersebut, total aset tumbuh 8,54% menjadi Rp56,58 triliun.

Namun jika dibandingkan dengan industri, pertumbuhan kredit Hana Bank masih berada di bawah rata-rata perbankan nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit industri perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67% yoy menjadi Rp9.081 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang kredit investasi yang melonjak 24,9%, disusul kredit modal kerja 8,94% dan kredit konsumsi 5,75%.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) Hana Bank mencapai Rp27,77 triliun pada akhir semester I 2026. Perseroan mendorong pertumbuhan dana murah atau current account and savings account (CASA), berupa tabungan dan giro, untuk menjaga biaya dana tetap efisien.

Nilai DPK tersebut relatif stabil dibandingkan Rp27,71 triliun pada semester I 2025. Pada level industri, OJK mencatat DPK perbankan nasional tumbuh 10,21% yoy menjadi Rp10.282 triliun pada Juni 2026.

NPL Hana Bank Turun ke 0,68%

Di tengah peningkatan penyaluran kredit, kualitas aset Hana Bank justru membaik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat 0,68%, turun dari 0,73% pada semester I 2025.

Angka itu juga jauh di bawah NPL gross industri perbankan nasional yang berada di level 2,09% pada Juni 2026. OJK mencatat NPL industri membaik dari 2,17% pada Mei, sementara NPL net turun dari 0,84% menjadi 0,82%.

Modal Hana Bank juga tetap berada pada level tinggi. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 25,78%, memberikan ruang bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis sekaligus menyerap potensi risiko. Sebagai pembanding, CAR industri perbankan nasional pada Juni 2026 berada di level 23,70%.

Kinerja semester I tersebut melanjutkan tren pertumbuhan Hana Bank sepanjang 2025. Tahun lalu, perseroan membukukan laba bersih Rp611 miliar atau meningkat 17,63% yoy. Kredit pada akhir 2025 mencapai Rp40,14 triliun, sedangkan DPK sebesar Rp29,18 triliun.

Perluas Bisnis Digital dan Investasi

Selain memperbesar kredit, Hana Bank memperluas sumber pertumbuhan melalui layanan digital dan investasi. Salah satunya dengan menghadirkan fasilitas transaksi reksa dana melalui LINE Bank by Hana Bank dan menambah kerja sama dengan perusahaan manajer investasi.

Pada April 2026, Hana Bank antara lain menggandeng Sucor Asset Management untuk memperluas pilihan produk reksa dana bagi nasabah. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi bank mengembangkan bisnis wealth management sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi.

Penguatan layanan investasi berlangsung ketika jumlah investor pasar modal Indonesia terus meningkat. OJK mencatat jumlah investor pasar modal tumbuh 47,63% secara year to date hingga Juli 2026 menjadi 30,06 juta investor. Sementara nilai aktiva bersih reksa dana mencapai Rp663,26 triliun per 30 Juli 2026.

Di luar bisnis, Hana Bank juga melanjutkan berbagai program sosial di bidang pendidikan dan kemanusiaan, mulai dari pemberian beasiswa, bantuan sosial dan keagamaan, donor darah hingga renovasi sekolah.

Dengan pertumbuhan kredit dan laba yang tetap positif serta NPL di bawah rata-rata industri, tantangan Hana Bank pada paruh kedua 2026 akan terletak pada kemampuan menjaga kualitas aset sembari mempercepat pertumbuhan bisnis. Kondisi industri sendiri masih mendukung ekspansi, dengan kredit perbankan nasional tumbuh dua digit dan rasio permodalan tetap kuat pada pertengahan tahun.