Periskop.id - Pentagon mendesak perusahaan pertahanan Amerika Serikat mempercepat produksi dan pengiriman berbagai jenis senjata setelah perang dengan Iran menguras persediaan rudal dan sistem pertahanan udara. Kontraktor diberi waktu 21 hari untuk menyerahkan rencana peningkatan kapasitas produksi sejumlah persenjataan kritis.
Instruksi tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg melalui memo kepada para pemimpin industri pertahanan pada Rabu. Langkah itu muncul ketika Pentagon berupaya mengisi kembali persediaan senjata yang telah digunakan secara masif selama konflik Iran, termasuk rudal pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD.
"Siklus pengembangan yang memakan waktu bertahun-tahun tak dapat diterima," kata Feinberg, Minggu (9/8).
"Kita harus mengakselerasi rencana produksi kita secara penuh dan memperluas kapasitas produksi sekarang," tambahnya.
The Washington Post melaporkan, perusahaan pertahanan diminta menyusun skenario untuk mempercepat jadwal pengiriman sekaligus meningkatkan kapasitas produksi senjata yang dinilai kritis. Pentagon juga meminta industri mempertimbangkan investasi baru pada fasilitas produksi agar peningkatan volume dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Patriot dan THAAD Menipis
Desakan tersebut mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap persediaan senjata AS. Pada bulan pertama perang Iran saja, militer Amerika dilaporkan menggunakan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk, lebih dari 1.000 rudal pencegat Patriot dan THAAD, serta lebih dari 1.300 rudal balistik taktis Angkatan Darat.
Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dikutip The Washington Post memperkirakan stok global Patriot telah turun dari sekitar 2.200 unit sebelum perang menjadi kurang dari 827. Persediaan THAAD juga diperkirakan menyusut dari 452 menjadi kurang dari 278 unit.
CSIS dalam analisis terbarunya menilai persediaan Patriot kini berada di bawah 1.000 unit, sementara THAAD berada di kisaran 250 unit. Kondisi tersebut dinilai dapat memaksa AS dan sekutunya mengambil risiko lebih besar dalam menentukan serangan mana yang harus dicegat karena Patriot dan THAAD tidak memiliki banyak alternatif untuk menghadapi rudal balistik.
Kekhawatiran tidak hanya berkaitan dengan perang Iran. Menipisnya persediaan rudal pertahanan juga dapat memengaruhi kesiapan Amerika menghadapi potensi konflik lain, termasuk kebutuhan mempertahankan kemampuan militer di kawasan Indo-Pasifik.
Produksi Patriot Ditarget Naik Tiga Kali Lipat
Pentagon sebenarnya telah mengambil sejumlah langkah untuk memperbesar kapasitas industri pertahanan.
Pada awal Agustus, pemerintah AS menandatangani kesepakatan senilai lebih dari US$3 miliar dengan Lockheed Martin dan Northrop Grumman untuk meningkatkan produksi komponen Patriot dan THAAD. Kerangka kerja tersebut ditujukan agar kapasitas Patriot dapat meningkat tiga kali lipat, sedangkan THAAD hingga empat kali lipat.
Pentagon juga meneken kontrak dengan Lockheed Martin bernilai hingga US$58,6 miliar untuk meningkatkan produksi rudal pencegat PAC-3. Di sisi lain, kerja sama dengan RTX diarahkan meningkatkan produksi Tomahawk dari sekitar 60 unit per tahun menjadi hingga 1.000 unit per tahun dalam jangka panjang.
Namun, sebagian rencana peningkatan kapasitas tersebut masih berupa framework agreement yang belum otomatis menjadi kontrak pembelian karena tetap membutuhkan dukungan pendanaan dari Kongres.
"Hampir tidak ada yang dikontrak, dan inilah masalahnya," kata Tom Karako, Direktur Missile Defense Project CSIS.
Kondisi itu membuat industri berada dalam posisi sulit. Perusahaan dapat mulai menginvestasikan modal untuk memperbesar fasilitas dan rantai pasok, tetapi kepastian pesanan tetap bergantung pada proses politik dan anggaran di Washington.
Anggaran Pertahanan US$1,15 Triliun Terganjal Kongres
Upaya mempercepat produksi persenjataan juga menghadapi hambatan politik. Rancangan anggaran pertahanan AS tahun fiskal 2027 senilai US$1,15 triliun belum memperoleh persetujuan final Kongres.
Senat sebelumnya gagal meloloskan rancangan tersebut setelah hanya memperoleh 50 suara dukungan berbanding 46, kurang dari 60 suara yang diperlukan untuk melanjutkan pembahasan. Demokrat mempersoalkan besarnya anggaran sekaligus perang Iran yang dijalankan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dewan Perwakilan AS kemudian meloloskan versinya dengan suara tipis 216-212 pada 22 Juli. Namun, masih diperlukan kompromi antara DPR dan Senat sebelum rancangan final dapat dikirim kepada Trump untuk ditandatangani.
Perang Iran sendiri telah menelan biaya sedikitnya US$37,5 miliar bagi pemerintah AS hingga Juli, menurut data Pentagon yang dikutip Reuters. Besarnya penggunaan persenjataan sekaligus biaya operasi membuat tekanan terhadap anggaran pertahanan semakin tinggi.
Juru Bicara Pentagon Sean Parnell mengonfirmasi keberadaan memo Feinberg. Menurut dia, instruksi tersebut akan "menjadi acuan bagi anggaran tahun fiskal 2028 yang diserahkan kepada Kongres AS untuk pendanaan" serta konsisten dengan upaya membangun kembali basis industri pertahanan nasional.
Dorongan produksi tersebut menunjukkan perang Iran tidak hanya memengaruhi operasi militer AS di Timur Tengah, tetapi juga membuka persoalan lebih besar mengenai kemampuan industri pertahanan mengganti persenjataan secepat penggunaannya di medan perang.
Pentagon kini menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni mempercepat kapasitas produksi senjata dalam waktu singkat dan memperoleh kepastian pendanaan dari Kongres. Tanpa keduanya, pemulihan stok Patriot, THAAD, Tomahawk, dan berbagai rudal presisi berpotensi membutuhkan waktu bertahun-tahun meski kebutuhan militer terus meningkat
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar