Periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 21.101 kasus campak sepanjang 2026 hingga awal Agustus. Kasus tersebar di 36 provinsi berdasarkan laporan rutin surveilans PD3I per 1 Agustus 2026.
Direktur Imunisasi Kemenkes Indri Yogyaswari menyebutkan, angka kasus campak secara nasional sudah menurun signifikan dibanding awal tahun. Ia menegaskan penularan tetap terjadi di sejumlah daerah meski tren nasional membaik.
"Jadi, walau secara nasional angka sudah turun, tapi itu masih ada di beberapa tempat di negara kita [Indonesia]," ujar Indri, Selasa (4/8).
Kemenkes sebelumnya melaporkan penurunan kasus campak hingga 93% pada medio Maret 2026, setelah lonjakan tinggi di awal tahun sempat menyebabkan sejumlah anak meninggal dunia. Indri mengingatkan, kewaspadaan tetap diperlukan agar penularan tidak kembali meluas.
"Kalau tidak hati-hati, ini nanti juga bisa jadi potensi untuk merebak lagi kasusnya [campak]," tambah Indri.
Indri menguraikan, anak-anak berisiko tertular campak di lingkungan sekolah. Virus itu kemudian bisa terbawa pulang dan menular ke anggota keluarga di rumah.
Untuk mencegah penyebaran, Kemenkes menjalankan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang digelar setiap Agustus dan November.
Program tersebut menyasar anak usia sekolah sebagai bagian dari strategi vaksinasi lanjutan. Indri menerangkan, imunisasi ini berfungsi sebagai penguat atau booster meski anak sudah mendapat imunisasi lengkap saat balita.
Booster dinilai penting karena perlindungan dari vaksinasi dasar semasa balita belum tentu bertahan hingga anak beranjak dewasa.
"Supaya anak-anak kita dapat perlindungan yang sampai nanti dia dewasa itu sudah cukup kuat," katanya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar