Periskop.id – Sesak napas, mudah lelah, jantung berdebar, hingga kaki membengkak dapat menjadi tanda gangguan katup jantung. Namun, penyakit ini kerap berkembang perlahan sehingga sebagian pasien baru menyadarinya ketika fungsi pompa jantung sudah menurun.
Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Vera Citra Setiawan Hoei menjelaskan, penyakit katup jantung muncul ketika katup menyempit atau tidak dapat menutup dengan sempurna. Kondisi tersebut mengganggu aliran darah dan memaksa jantung bekerja lebih berat.
“Penyakit katup jantung terjadi ketika katup menyempit atau tidak menutup sempurna, sehingga aliran darah terganggu dan jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, bisa terjadi pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan fungsi pompa. Karena gejalanya muncul perlahan, pemeriksaan penting untuk menilai kerusakan dan menentukan penanganan yang tepat untuk pasien,” kata dr. Vera dalam keterangannya, Kamis (6/8).
Jantung memiliki empat katup, yakni mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal. Keempatnya bekerja seperti pintu satu arah yang memastikan darah mengalir sesuai jalur. Gangguan dapat berbentuk stenosis atau penyempitan, regurgitasi atau kebocoran, maupun atresia ketika katup tidak terbentuk dengan baik.
Gejala Ringan Belum Tentu Kerusakan Ringan
Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas ketika beraktivitas atau berbaring, cepat lelah, nyeri dada, jantung berdebar atau berdetak tidak teratur, pusing, pingsan, serta pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau perut.
American Heart Association mencatat penyakit katup juga dapat menimbulkan kelemahan dan penurunan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Masalahnya, sebagian penderita dengan gangguan berat bisa saja hanya merasakan keluhan ringan atau belum menyadari perubahan kondisi tubuhnya.
Karena itu, tingkat keparahan penyakit tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan keluhan. Pemeriksaan diperlukan terutama jika gejala terus berulang, semakin berat, atau muncul pada orang dengan riwayat penyakit jantung.
Penyakit katup yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi gangguan irama, pembekuan darah, tekanan darah tinggi pada pembuluh paru, gagal jantung, stroke, hingga henti jantung. Meski demikian, sebagian besar gangguan katup dapat ditangani melalui pemantauan, obat-obatan, maupun tindakan perbaikan atau penggantian katup.
Risiko Meningkat Seiring Usia
Penyakit katup dapat dialami sejak lahir maupun berkembang kemudian. Faktor pemicunya meliputi proses penuaan dan pengapuran katup, demam rematik setelah infeksi tenggorokan, endokarditis atau infeksi katup, tekanan darah tinggi, serangan jantung, gagal jantung, dan kelainan bawaan.
Risikonya cenderung meningkat pada usia lanjut karena endapan kalsium dapat membuat daun katup menebal dan kaku. Orang yang pernah mengalami demam rematik, endokarditis, serangan jantung, gagal jantung, atau penyakit jantung bawaan juga termasuk kelompok yang perlu lebih waspada.
American Heart Association memproyeksikan jumlah kasus penyakit katup jantung dapat meningkat dua kali lipat pada 2040 dan tiga kali lipat pada 2060 seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Organisasi tersebut menilai pemeriksaan lebih awal dapat memperluas pilihan terapi dan mencegah keterlambatan tindakan.
Pada ibu hamil, kelainan katup yang sebelumnya tidak menimbulkan gejala dapat mulai terasa karena volume darah dan beban kerja jantung meningkat. Karena itu, perempuan dengan riwayat penyakit jantung atau demam rematik perlu berkonsultasi sebelum maupun selama kehamilan.
Demam Rematik Masih Jadi Ancaman
Salah satu penyebab penting kerusakan katup adalah penyakit jantung rematik, yakni komplikasi demam rematik akibat respons tubuh terhadap infeksi bakteri streptokokus grup A.
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan penyakit jantung rematik memengaruhi sekitar 55 juta orang dan menyebabkan sekitar 360 ribu kematian setiap tahun. Sebagian besar beban penyakit terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Kementerian Kesehatan menjelaskan penyakit jantung rematik dapat berkembang tanpa tanda selama bertahun-tahun. Pasien kerap baru datang ketika kerusakan katup telah berat dan memunculkan sesak napas, cepat lelah, jantung berdebar, atau gejala gagal jantung.
Radang tenggorokan akibat bakteri karena itu tidak boleh diabaikan, terutama jika berulang pada anak dan remaja. Pemeriksaan serta pengobatan antibiotik sesuai diagnosis dokter dapat membantu mencegah demam rematik dan kerusakan katup lebih lanjut.
Ekokardiografi Menjadi Pemeriksaan Utama
Pemeriksaan awal dapat dimulai dengan mendengarkan suara jantung menggunakan stetoskop. Dokter dapat menemukan murmur atau bunyi jantung yang tidak normal, tetapi diagnosis biasanya perlu dilanjutkan dengan ekokardiografi.
Ekokardiografi menggunakan gelombang ultrasonik untuk menampilkan bentuk dan gerakan jantung. Pemeriksaan ini dapat menilai kondisi katup, derajat penyempitan atau kebocoran, ukuran ruang jantung, tekanan aliran darah, serta kekuatan pompa jantung.
Pemeriksaan tambahan dapat berupa elektrokardiografi, rontgen dada, tes latih jantung, CT scan, MRI jantung, atau kateterisasi sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Tidak semua pasien membutuhkan operasi. Gangguan ringan dapat ditangani melalui pemantauan berkala dan pengobatan untuk mengendalikan tekanan darah, irama jantung, penumpukan cairan, atau risiko pembekuan darah.
“Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien. Pada kasus berat, tindakan dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, maupun TAVI untuk pasien tertentu,” ujar Vera.
TAVI merupakan prosedur penggantian katup aorta melalui kateter yang dilakukan tanpa operasi jantung terbuka. Tindakan ini dipertimbangkan untuk pasien tertentu berdasarkan kondisi katup, usia, risiko operasi, dan penilaian tim jantung.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, menilai penanganan penyakit katup membutuhkan diagnosis akurat, fasilitas memadai, serta kerja sama dokter dari berbagai bidang sejak pemeriksaan hingga rehabilitasi.
Deteksi dini menjadi penting karena kerusakan katup tidak selalu menimbulkan gejala jelas. Pemeriksaan sebaiknya segera dilakukan jika sesak napas, nyeri dada, pingsan, pembengkakan, atau jantung berdebar muncul berulang maupun mengganggu aktivitas.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar